
"Rara nerima ta'aruf mas?" tanya Hafiz lagi.
"Ya mas" jawab Rara.
Hafiz tersenyum lega. Ia mengajak Rara kembali ke tempat orang tua mereka.
Semua melihat ke arah Rara dan Hafiz.
"Bagaimana keputusan kalian?" tanya pak Arsha.
"Bismillah, Opiz dan Rara akan mengambil jalan ta'aruf"
Bu Arsha meneteskan air mata.
"Artinya setelah acara Rangga kita harus mempersiapkan acara Rara."
Keesokan subuh, semua sudah mulai sibuk, Rangga merasa deg-degan. Hari ini ia akan memulai hari baru dengan Rani.
Ibu, dan Rara juga dirias.
Mobil pengantin siap berjalan menuju hotel. Semua tampak bahagia. Tapi ternyata di hotel itu seseorang menanti kejadiran mereka. Ya, Ali sudah ada di sana.
Ijab kabul berjalan lancar.
__ADS_1
Dan tiba saatnya resepsi. Kedua mempelai berjalan di depan dengan bergandengan tangan. Disusul dengan kedua orang tua, dan keluarga.
Ali berdiri di sisi jalan.
Rara menunduk, dan terus berjalan.
Hafiz melihat laki-laki itu, dan segera menarik tangan Rara. Pandangan Ali tidak pernah lepas dari Rara. Pandangan sinis menatap Hafiz yang tidak pernah jauh dari Rara.
"Ali," sapa Salsa.
"Apa kabar? Kuliah dimana kamu?" tanyanya.
Ali, terkejut melihat kehadiran Salsa.
"Oh, berarti sering ketemu sama Rara, dong ya. Atau kamu kuliah di sana, karena masih penasaran sama dia?" Salsa mencoba mencari info.
"Hehe.. gak kok, tapi sekalian lah ya, biar bisa ketemu Rara," ucapnya
"Tapi, coba kamu lihat, laki-laki yang selalu bersamanya. Mereka tampak akrab sekali ya" pancing Salsa.
"Oh itu, mereka pura-pura saja."
"Maksudnya apa? Sepertinya orang tua Rara juga sudah mengenalnya"
__ADS_1
"Aku tidak perduli, Rara akan aku dapatkan, sebelum janur kuning di depan rumahnya. Haha, bercanda" tawa sinis Ali, mengungkapkan sesuatu yang jahat.
"Ok deh.. aku mau menghampiri Rara dulu ya" ucap Salsa seperti ketakutan.
Acara resepsi itu selesai digelar. Walau mereka tidak mengadakan di rumah, tetapi, rasa penat itu cukup terasa, apalagi, Salsa menceritakan kejadian tadi siang, membuat kepala Rara terus berpikir keras.
"apa maksudnya, bu? Kenapa dia punya niat seperti itu?" tanya Rara ke ibunya.
"Yah, bagaimana?" tanya Bu Arsha kepada suaminya.
Mereka semua tertunduk di meja makan itu.
Memikirkan kuliah Rara yang belum selesai, memikirkan keselamatan Rara. Mereka berpikir, kalaupun di laporkan ke pihak berwajib, mereka belum punya bukti yang banyak. Malah akan memperkeruh keadaan. Jabatan pak Dodi juga di kantor, memang mengetahui seluk beluk perusahaan. Karena memang pak Dodi salah satu orang kepercayaan pak Arsha.
"Pa.." ucap Hafiz kepada pak Arya.
"Arsha, maaf saya memberanikan diri. Sebelumnya, Opiz sudah banyak cerita tentang ini. Dan sebelum berangkat, memang Opiz meminta disiapkan sesuatu. Entah ini kebetulan atau memang sudah takdir. Kami yang memang ingin melihat Opiz menemukan jodohnya, dan dengan kejadian ini, saya dan keluarga, ingin menjadikan Fakhira, sebagai pendamping hidup Opiz, dan artinya, menjadi menantu kami." pak Arya membuka omongan ketika mereka sedang sibuk memikirkan keselamatan Rara.
Pak Arsha dan Bu Arsha, melihat bersamaan. Tak kalah shock dengan Rara, mereka baru saja akan memulai masa ta'aruf, tapi sekarang...
"Bagaimana Arsha? Apakah kamu menerima lamaran tidak resmi ini?" tanya pak Arya.
"Saya harus mendengar keputusan dari Rara, bagaimana, nak? Apa kamu menerima Opiz?" tanya pak Arsha.
__ADS_1