Status Palsu

Status Palsu
47


__ADS_3

Malam itu, pak Arsha dan Bu Arsha, saling bertukar pikiran.


"Yah, resepsi pernikahan Rangga dan Rani, keluarga pak Dodi diundang kan ya?" tanya Bu Arsha.


"ya Bu. Apa yang ibu rencanakan?" tanya pak Arsha.


"Yah, apa tidak sebaiknya, sisipkan acara pertunangan Rara dan nak Opiz? Jadi, si Ali tidak berbuat semena-mena lagi"


"Tidak semudah itu, Bu. Kita belum menanyakan hati Rara. Apakah dia bersedia, karena setelah pertunangan, akan melanjutkan ke tahap lebih serius."


"Ibu memang baru ini bertemu dengan nak Opiz, tapi kenapa, hati ibu merasa dia bisa menjaga Rara, Kalau Rara kita paksa untuk kuliah di Jakarta, takutnya dia akan kecewa yah. Paling tidak ada yang menjaga Rara."


jelas Bu Arsha.


"Ayah pikirkan dulu ya Bu. Sudah, istirahatlah. Besok kita bicarakan lagi. Vitamin udah diminum, Bu? Mulai besok kita sibuk dengan acara anak kita" pak Arsha mengingatkan istrinya.


Kehadiran pak Arya dan Bu Arya, membuat rumah itu makin ramai. Keluarga Arsha sudah menyiapkan semua. Sebagai sahabat yang sudah lama tidak bertemu, mereka diminta untuk tinggal bersama di rumah keluarga Arsha.

__ADS_1


"Arsha, aku mau bicara sedikit serius sama kamu" ucap pak Arya, ditengah suasana makan siang bersama keluarga mereka.


"Apa tuh.. bicara ya tinggal bicara.. Ndak usah dipendam" lalu pak Arsha tertawa.


"Ini masalah Rara dan Opiz. Kemarin, Opiz meminta mamanya untuk melamar Rara."


Rara tersedak. Secepat kilat, tangan Hafiz mengambil air yang ada di depannya.


"Minum, Ra.." ucap Hafiz menyodorkan gelas berisi air putih.


"Ndak usah grogi toh Ra," ucap pak Arsha sambil tertawa.


"Aku mau nanya serius. Bagaimana menurut kamu, apakah kita lanjutkan perjodohan ini?" tanya pak Arya.


Pak Arsha melirik istrinya, dan memegang tangan istrinya.


"Kok jadi serius sih yah.." ucap Rara dengan muka merahnya. Seketika Rara menjadi gerah dan berkeringat.

__ADS_1


"Nah.. sekarang ayah kembalikan ke kamu, Kamu sudah dewasa nak, umurmu sudah masuk 20 tahun. Bagaimana menurutmu? Apakah kamu masih ingin dengan status palsumu seperti yang diceritakan nak Opiz semalam? Atau kamu, bagaimana?" tanya pak Arsha.


Tiba-tiba Hafiz meminta izin kepada orang tua mereka, untuk berbicara sebentar kepada Rara.


"Silahkan, bicarakan terlebih dahulu. Kami menanti jawaban dari kalian. Ayah dan ibu tidak mau memaksakan kehendak kami."


ucap Bu Arsha.


Hafiz mengajak Rara keluar dari ruang makan itu menuju halaman belakang yang penuh dengan bunga. Ya, Bu Arsha memang sangat suka dengan bunga-bunga.


"Ra.. mas minta maaf sebelumnya. Kemarin, ketika mas lihat kamu ketakutan karena bertemu dengan Ali di bandara, mas menelpon mama, meminta mama meminang kamu."


Rara makin salah tingkah.


"Ra, mas serius sekarang. Mas mau ngobrol serius. Ra, mas juga belum pernah mengenal perempuan lebih dalam, dan mas memang belum pernah dekat apalagi pacaran dengan orang lain. Mas ingin kamu menjadi istri mas. Mas sudah cukup mengenal Rara."


"Tapi kita memang gak pacaran kan mas?" tanya Rara.

__ADS_1


"Ya, mas ingin ta'aruf bersama kamu. Kita bisa merasakan pacaran setelah kita menikah. Apa kamu mau menerima ta'aruf dari mas?"


Rara terdiam memegang bunga, Ia tidak bisa menjawab. Tapi hatinya seperti bom waktu yang siap meledak. Rasa bahagia bercampur bingung ada di dadanya.


__ADS_2