Status Palsu

Status Palsu
49


__ADS_3

Rara bingung harus berkata apa?


Ia tidak pernah memikirkan akan kejadian seperti ini. Ia ingin menolak keputusan ini. Tapi bagaimana caranya. Mulailah dikepalanya, bagaimana ia meneruskan pendidikannya, bagaimana seandainya ia hamil dan punya anak.


Rara menggelengkan kepalanya, karena memikirkan semua itu.


Semua terkejut dengan bahasa tubuh Rara. Hafiz merasa shock.


"Gelengan itu, Rara tidak mau menerima lamaran Opiz, nak?" tanya Bu Arsha.


Rara tersadar dari pikirannya.


"Oh.. eh.. ibu, bagaimana kuliah Rara? Apakah Rara akan aman bila sudah menikah?" tanyanya


"Ra, kamu tetap akan kuliah, Dan inshya Allah, kamu akan selalu aman." kali ini Hafiz mencoba meyakinkan Rara.


"Bagaimana, nak?" tanya ayahnya Rara.


Rara melihat ke arah orang tuanya, Hafiz dan orang tua Hafiz. Semua menunggu jawaban Rara, tapi Rara masih bingung harus menjawab apa. Untuk beberapa menit, keheningan terjadi. Tak ada mulut yang berbicara.


Rara menundukkan kepalanya.


Semua merasa mungkin memang ini belum waktunya.

__ADS_1


"Ayah, ibu, bila memang ini memang sudah garis tangan Rara, Rara menerima mas Hafiz untuk menjaga Rara." suara itu memecah keheningan sore itu.


"Kamu yakin, nak?" tanya Bu Arsha sambil mengeluarkan air mata.


"Ibu gak mau kamu merasa terbebani. Kamu kamu belum siap, kamu bilang saja. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti, buka memang waktunya sudah memungkinkan" jelas Bu Arsha lagi.


"Sekarang, atau nanti, mungkin sama saja Bu. Kami akan menjalani pendekatan setelah menikah, dan Rara yakin, mas Hafiz akan menjaga Rara." Rara melirik ke arah Hafiz.


Hafiz merasa tidak percaya, perempuan yang dikenalnya dengan tidak sengaja, bisa berbicara sedewasa itu. Ia tersenyum lega.


Jantungnya berdegup kencang, menyimpan kebahagiaan yang luar biasa.


"Piz," Bu Arya mengeluarkan kotak kecil yang ada di tasnya.


Dan di depan kedua keluarga itu, Hafiz mendekati Rara yang sedang duduk. Ia duduk bersimpuh di depan Rara.


"Bismillahirrahmanirrahim, Fakhira binti Muhammad Arsha, maukah kamu menerima khitbah dariku?"


Rara terkejut. Dan ia berdiri dari duduknya, sambil meneteskan air matanya.


"Bismillahirrahmanirrahim, atas izin ayah dan ibu, Rara terima khitbah dari mas Hafiz"


Bu Arya dan Bu Arsha, berpelukan.

__ADS_1


Mereka bahagia.


Hafiz memasangkan cincin di jari manis Rara.


Rasanya ia ingin memeluk perempuan yang ada di depannya itu.


"Rara ingin, menikah di tanggal ulang tahun Rara." ucap Rara.


4 bulan lagi, mungkin cukup untuk persiapan pernikahan. Keluarga pak Arya menerima keputusan Rara.


"Selama itu, Rara akan dijaga ketat oleh orang kepercayaan saya." ucap pak Arya.


Akhirnya pembicaraan itu harus terhenti, karena waktu menunjukkan untuk keluarga pak Arya meninggalkan Jakarta. Semestinya Hafiz tidak pulang, tetapi, pak Arya mengatakan, sesuatu yang mengharuskan Hafiz segera pulang ke Malang.


"Mas ikut pulang ya, Ra. Sabtu nanti, mas jemput untuk pulang ke Malang." ucap Hafiz kepada Rara. Ia sebenarnya berat meninggalkan Rara di Jakarta, perasaannya sedang sangat bahagia saat itu. Tapi, ia harus menghentikan sejenak.


"Ya mas, kerja yang benar ya. Untuk kita" ucap Rara


Mendengar kata-kata Rara, Hafiz bersemangat masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke bandara Soekarno Hatta.


Ibu Arsha memeluk anak perempuannya itu. Ia tidak menyangka, anak perempuan yang mandiri itu, memiliki segudang masalah. Ia menangis mencium kening Rara.


"Kamu akan bahagia nak. Ibu percaya pada takdir tuhan"

__ADS_1


__ADS_2