
"Ra, aku udah di parkiran kampus ya."
suara Hafiz dari ponsel Rara.
"Win, aku duluan ya. Udah ditunggu" Rara berjalan cepat keluar kantin meninggalkan Winda yang masih dengan muka keponya.
Rara melihat-lihat sekelilingnya.
Ia melihat sosok laki-laki yang selalu membantunya. Ia pun menghampiri Hafiz.
"Sendiri?" tanya Rara.
Hafiz hanya tersenyum.
"Kenapa nekat sih? kalau ada apa-apa, bagaimana?"
Hafiz tersenyum kembali melihat kekhawatiran Rara.
"Yok, jalan."
"kemana?" tanya Rara
"Ikut saja" jawab hafiz singkat.
Hafiz mengajak Rara ke sebuah butik.
"Tolong bantu saya,. mbak. Perempuan saya harus kelihatan cantik malam ini"
ucapnya kepada pelayan di sana.
Rara bingung, sebenarnya apa yang terjadi.
__ADS_1
Hafiz tersenyum.
"Sana" perintahnya sambil mengeluarkan senyum manisnya.
"Mari mbak" ajak pelayan itu dengan sopan.
Rara disulap jadi perempuan feminim, dengan gaun berwarna biru muda, selaras dengan sepatunya. Make up yang sederhana membuat Rara makin cantik.
Rara menyukai penampilannya saat itu.
Walau Hafiz belum sepenuhnya sembuh, tapi ia berusaha tegak dan berdiri.
Entah kapan Hafiz ganti baju, yang terlihat malam itu, warna bajunya senada dengan apa yang Rara pakai.
"Sudah siap?" tanya Hafiz
"Mau kemana kita?" Rara masih bingung, apa yang akan terjadi.
"Mas lupa, malam ini ada acara reuni SMA."
"Kalau sama Rara, mas sehat." ucapnya sambil memandangi perempuan yang dijodohkan dengannya.
Rara menatapnya dengan tatapan mata yang sinis.
"Gombal" ucapnya pelan.
Mereka menghadiri acara reuni di hotel mewah. Semua membawa pasangan masing-masing. Ada yang membawa anak kecil. Mungkin itu anak mereka yang bergandengan tangan.
"Hai Fiz, apa kabar?" tanya seseorang kepadanya.
Mereka asik ngobrol, dan Rara masih saja diam.
__ADS_1
Hafiz menggenggam tangan Rara.
"Perkenalkan, ini calon istriku. Rara"
Rara kaget, dan bingung awalnya. Tapi akhirnya ia tersenyum. Ia tidak mau mempermalukan Hafiz. Toh selama ini, Hafiz lah yang menolong dirinya saat dia merasa terganggu.
Tak sedetikpun, Hafiz melepaskan genggaman tangannya dari Rara.
"Cantik sekali, pantas saja, setiap kali ingin dijodohkan, kamu ndak mau, ternyata, sukanya sama anak kecil" sambil tertawa mereka berbicara.
Rara merasa tidak enak. Dan ingin menarik diri dari acara itu. Tapi, lagi-lagi, Hafiz tersenyum dan menggenggam tangan Rara dengan penuh kasih.
"Rara mau kesana, mas" ucapnya
"Maaf ya Ra, teman-teman suka bercanda"
"Rara mau ambil minum ya." ucap Rara.
"Ya, kita ke sana" tapi belum sempat Hafiz melangkah, keburu temannya menyapanya. Rara berjalan sendiri.
"Itukan Hafiz Arya Wiguna. Makin keren dia. Bukannya dulu kamu ngejer dia ya Eh, dia masih sendiri loh, kita dekati yok." beberapa perempuan seumur Hafiz membicarakannya, tanpa tau Rara mendengarkan pembicaraan itu.
"Tapi, sifatnya masih seperti dulu,dingin. Takut aku mendekatinya. Jangan-jangan dia gak suka sama perempuan" mereka tertawa bersama.
Rara terkejut. Sebegitu kah diri Hafiz? Rara menjauh dari kerumunan itu. Ia akhirnya duduk menyendiri dipojok aula hotel itu sambil melepas sepatu hak tinggi itu.
Hafiz terus mencari Rara.
Matanya tak berhenti mencari jejak perempuan itu. Sampai akhirnya, ia menemukan sosok itu.
"Hi, sendirian. Aku temani ya." sapa seorang lelaki yang tidak dikenalnya.
__ADS_1
"Kenapa sendiri? Apa tidak sebaiknya kamu pergi sama aku?" lanjut lelaki itu tidak sopan.
Rara terkejut, dan mencoba bangun dari tempat duduknya, Ketika hendak melangkah, kakinya terselandung sebelah kakinya, dan.