
"Ra, mas tanya, kamu nerima perjodohan kamu sama Opiz gak? Karena mas akan laporan ke ayah dan ibu"
Rara hanya tersenyum
"Senyum aja. Jadi nerima ya."
Lagi-lagi Rara hanya tersenyum.
"Adik mas sudah dewasa" Rangga memeluk adik tersayangnya itu.
"Mas, sampaikan salam buat ayah dan ibu. Rara kepingin pulang sama mas, tapi baru pulang juga"
"2 bulan lagi kita ketemu. Kamu jaga diri ya dek. Ingat. Kamu gak sendiri. Ada mas."
"Ya mas, tapi jangan sampai ibu dan ayah tau ya. Rara mau menyelesaikan masalah Rara sendiri"
"Baiklah, mas percaya, Rara bisa menghadle urusan itu."
Percakapan kakak adik itu sangat hangat. Sehingga mereka tidak menyadari, kalau mereka sudah sampai di bandara Abdulrahman Saleh.
"Gak usah turun. Kamu ada mata kuliah kan pagi ini. Jaga diri baik-baik ya dek."
Rangga pun melangkah masuk ke dalam ruangan tunggu.
"Pak, kita ke asrama saja ya, saya mau meletakkan barang-barang dulu." ucap Rara ke sopir keluarga pak Arya, ketika memasuki area kampus UB.
"Terima kasih pak, nanti saya ke kampus naik sepeda saja" ucap Rara ketika sampai di depan asrama.
"Tapi, mbak. Pesan bapak, saya harus mengantar mbak ke kampus."
"Gapapa pak. Terima kasih ya pak" ucap Rara langsung masuk ke kamarnya. Meletakkan barang-barang yang ia bawa ketika harus menginap di rumah Hafiz.
__ADS_1
"Ra.. " suara itu tidak asing baginya.
"Ya mas, ada apa?"
"Kenapa gak mau diantar ke kampus?"
"Gak usah mas, lagian kasian kalau nunggu Rara."
"Itu mas suruh nunggu kamu turun. Kamu diantar sopir ya ke kampusnya. Masalah pulang, nanti kita bicarakan lagi. Aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu"
"oh. ehm.. ya mas."
Merasa tidak enak, Rara langsung turun dan menemui sopir ya itu lagi. Dan akhirnya, ia berangkat ke kampus dengan mobil itu.
Materi statistik pagi itu lumayan menguras otak Rara. Dilanjut materi teori bilangan. Membuat perut Rara sangat lapar.
"Win.. laper, kantin yok." ajak Rara ke Winda.
Seseorang menabrak Rara.
Semua buku yang dipegang Rara jatuh.
Seseorang yang berbadan kurus tinggi memakai topi, berlari membantunya. Setelah disusunnya, ia menyerahkan buku-buku itu ke tangan Rara.
"Terima kasih" ucap Rara.
Laki-laki itu tidak berkata apa-apa, ia hanya membenahi topi dan berlalu.
"Aneh, dari mana datangnya anak itu" ucap Winda polos.
"Sudahlah, gak usah dipikirin. Ayo, perutku lapar sekali" Rara mencoba mengalihkan pembicaraan itu. Walau ia juga berpikir yang sama dengan Winda.
__ADS_1
"Ra, udah selesai kuliahnya?" suara Hafiz dari ponsel Rara.
"Udah mas, Rara lagi di kantin sama Winda. Nanti biar Rara pulang jalan aja".
"Eh, jangan. Bentar ya. Nanti mas kesana"
kemudian Hafiz menutup pembicaraan itu.
"Ehem.. siapa sih Ra?" tanya Winda kepo.
"Oh.. itu, anu.. " Rara bingung menceritakan tentang Hafiz.
"Pacar?" tanya Winda lagi.
Rara mendekatkan diri ke Winda.
"Aku dijodohkan keluargaku. Keluarga kami sudah akrab dari aku bayi."
Hahahaha
Suara Winda membuat orang yang ada di kantin menoleh kearah mereka.
Rara mencubit tangan Winda.
"Kecilkan volumenya" ucap Rara menoleh kanan dan kiri.
"Jaman gini masih jodoh-jodohan?"
Rara menutup mulut sahabatnya itu.
"Stt. Kamu kenal kok sama dia"
__ADS_1
"Mana? Aku tau orangnya?"