
"Ra, Minggu depan acaramu. Kamu sudah siap?" tanya Winda, selama hampir 4 bulan itu, Winda diminta oleh Hafiz untuk selalu menemani kemana Rara pergi. Hafiz juga menyuruh orang untuk selalu mengawasi mereka.
"Ya Win, doakan lancar ya. Malam ini, aku pulang ke Jakarta." Rara menjelaskan sambil membayar makan siang mereka di kantin kampus.
"Kamu, datang ya ke Jakarta, kalau kamu pergi, nanti aku yang urus tiketmu" ucap Rara sambil bergelayut di tangan sahabatnya itu.
Setelah selesai, mereka berjalan menuju halaman kampus. Raut wajah mereka sangat bahagia, karena nilai ujian mereka sudah keluar.
"Setelah libur semester, kamu sudah merubah statusmu, ih.. aku pingin mengikuti jejakmu. Kamu tidak pernah dekat dengan laki-laki, sekalinya dekat, langsung mau nikah aja"
Rara tersipu malu.
"Ra, gue mau bicara sama Lo" Ali menarik tangan Rara. Rara dan Winda terkejut, dan Rara dibawa kesebuah tempat. Winda bingung, melihat Rara yang ditarik dan dipaksa masuk ke sebuah mobil.
"Mau kemana ini? Turunin gue." teriak Rara.
Ali hanya tersenyum sinis.
"Ra, bisa gak Lo diem. Gue cuma mau menikmati hari ini sama Lo. Please" ucap Ali sambil membawa mobil itu dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Winda sangat shock. Ia tidak tau harus berbuat apa.
"Mas Hafiz.. mas, ini Winda." Winda mencoba mengabari Hafiz.
"Ya win, ada apa?" tanya Hafiz yang masih dengan tumpukan kertas dimeja kantornya.
"Mas, Rara dibawa Ali, mas. Winda gak tau dibawa kemana. Cepat mas"
Hafiz mulai tidak tenang, ia meninggalkan kantornya, dan segera menuju ke kampus.
Sementara Hafiz menuju kampus, Rara masih sangat takut akan kelakuan Ali yang nekat.
"Gue mau apa? Gue mau Lo jadi pasangan gue. Gue udah lama memendam rasa gue. Dan elo, elo malah milih laki-laki yang seumur sama Lo. Apa hebatnya laki-laki itu."
Rara mencoba membuka pintu mobil, tapi ia tidak bisa membukanya. Rara hanya bisa menangis.
"Gue gak kenal sama Lo, tolong biarin gue pergi." ucap Rara sambil menangis.
Ali membawa Rara kesebuah bangunan tua, masih di area kampus UB itu. Sebuah bangunan yang sudah lama tidak terpakai.
__ADS_1
"Lo gak kenal gue. Sombong banget Lo jadi orang. Kita selalu 1 sekolah, dan elo bilang gak kenal gue?" Ali tertawa sinis.
"Lo tau, kenapa gue begini? Karena gue suka Ra sama Lo, gue cinta sama Lo. Gue gak mau ada orang lain bersanding sama Lo. Sakit, Ra."
"Ya, elo sakit. Gue gak mau kenal sama orang seperti elo. Elo sakit. Lepasin gue, biarin gue pergi dari sini" Rara terus menangis.
"Stop, Ra. Jangan nangis, gue janji gak bakal ngapa-ngapain Lo."
Rara terus menangis.
"Stop Ra" teriak Ali.
Rara menutup mulutnya.
"Ra, gue cinta sama Lo, Ra. Apa salah kalo gue cinta sama Lo. Gue pengen pengakuan Lo, Ra. Lu jangan nikah sama laki-laki itu. Gue mau jadi suami lo, Ra. Lo bakal bahagia sama gue" Ali menarik tangan Rara, mencoba melepas cincin yang ada di jari manis Rara. Tapi Rara tetap menarik tangannya. Sehingga, tangan Rara terluka.
"Lepasin gue, sakit"
Seketika, Ali melepas tangan Rara.
__ADS_1
"Maaf, Ra. maaf.. gue gak bermaksud buat lu kesakitan" Ali meraih tisue, dan mengelap luka di jari manis Rara.