Status Palsu

Status Palsu
43


__ADS_3

Rara dan Hafiz telah mengantarkan Winda pulang ke rumahnya. Dan kini hanya mereka berdua.


"Sayang, kamu gapapa tadi?" tanya Hafiz.


Rara tersenyum "Terima kasih ya mas, sudah hadir diwaktu yang tepat. Dan kamu selalu datang disaat yang tepat."


Hafiz melirik Rara dengan senyuman manisnya. Senyuman yang memiliki lesung pipi yang indah.


Keesokan hari, mereka siap-siap untuk menuju bandara Abdulrahman Saleh, menuju Soekarno Hatta.


"Ra,.." panggil Hafiz dari balik pintu kamar.


Tapi tidak ada suara.


Hafiz penasaran, ia terus mengetuk pintu itu.


"Kamu kenapa?" tanya Hafiz yang melihat Rara dengan muka pucat.


"Gapapa. Udah siap semua ya? Bentar" ucap Rara sambil mengambil tas punggungnya.


Hafiz melihat gerak gerik Rara yang tidak enak.


"Biar tasnya, mas yang bawa. Yuk. Mama dan papa sudah menunggu di bawah" Hafiz menggandeng tangan Rara.


"Mbok, tolong ambilkan air hangat ya, sekalian obat-obatan di kamar Opiz."


pinta Hafiz.

__ADS_1


Si mbok dengan segera mengambil pesanan anak majikan yang ia rawat dari kecil.


"Minum vitaminnya" Hafiz membukakan vitamin dan menyodorkan segelas air hangat.


"Ra, kenapa?" tanya Bu Arya, sambil melihat cemas ke arah Rara.


"Gak ma, mungkin kecapekan aja"


"Mama dan papa besok baru ke Jakarta ya, papa siang ini ada jadwal main golf dengan rekan kerjanya. Kamu jaga Rara ya Piz." ucap Bu Arya menepuk bahu anaknya itu.


"Pasti, ma. Ya sudah, kita berangkat, nanti ketinggalan pesawat pula" ajak Hafiz tersenyum melihat Rara.


Mereka diantar sopir pribadi Hafiz.


Di jalan, Hafiz memegang tangan Rara.


"Kenapa? Semangat dong. Kan mau pulang ke Jakarta." ucapnya.


Hafiz terdiam, kemudian tersenyum. Ia membuka layar ponselnya.


"Mau ngapain?"tanya Rara


"mengencel penerbangan Minggu malam besok" jawab Hafiz.


"Kenapa?" tanya Rara lagi.


Hafiz hanya tersenyum.

__ADS_1


Sampai di bandara, mereka menunggu di ruang tunggu. Rara merasakan kandung kemihnya sudah penuh.


"Rara ke toilet bentar mas" ucapnya.


Tapi, Hafiz mengikuti Rara sampai depan toilet cewek. Ia mencoba menelpon mamanya.


"Ma, bagaimana kalau besok, mama dan papa meminang Rara. Opiz gak mau Rara terganggu oleh orang lain, ma. Bilangin papa ya" ucapnya meminta ke mamanya.


"Kamu udah pikir matang-matang? Besok kan Rangga yang mau menikah, kok kamu memutuskan untuk meminang Rara. Coba kamu pikir matang-matang, nak. Mama sangat setuju kamu menikah dengan Rara, tapi..."


"Mas.. " sapa Rara


"Udah ya ma, nanti Opiz telepon lagi."


"Sudah sayang?" tanya Hafiz,


Rara mengangguk.


Mereka menuju pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta,


Dug.


Rara hampir terjatuh, seseorang menabraknya. Tapi dengan sigap, Hafiz menangkap tubuh Rara.


Rara melihat lelaki yang menabraknya mengeluarkan senyuman sinis.


Sepertinya Rara tidak asing dengan senyuman itu. Tapi ia menepis perasaan aneh itu.

__ADS_1


Sampai di Jakarta, Rara dan Hafiz dijemput pak Eko, sopir keluarga Rara. Rara melepaskan sejenak stress yang ada di kepalanya. Sesekali ia melirik Hafiz yang duduk di sampingnya. Ia tidak pernah menyangka, kalau kali ini ia pulang ditemani oleh orang yang sudah orang tuanya jodohkan untuknya. Dan lelaki itu, orang yang selalu membantu dan mendukungnya, di saat dia merasa ketakutan.


"Hai, Ra.. sudah aku bilang, kemana kamu, pasti aku akan menemukanmu" sebuah pesan singkat itu mampir di ponsel Rara.


__ADS_2