Status Palsu

Status Palsu
42


__ADS_3

"Sorry, Ra.. i was getting kind a use to bring someone you loved. Please, Ra" ucap laki-laki itu.


"Kamu gak bisa gini, aku gak kenal kamu, dan aku sudah punya tunangan. Lepasin aku atau aku.. " Rara sudah mulai tidak tahan.


"Hahaha.. kamu mau teriak, tidak ada yang mendengar lagi, semua sudah pulang." teriak laki-laki itu.


Hafiz mengepalkan tangannya, dan ia berlari menuju Rara, dan menghantamkan kepalannya ke muka laki-laki yang sudah mengancam Rara.


"Mas" Rara terkejut,


Tangannya di tarik ke belakang Hafiz.


"Kamu pengecut. Berani dengan bertundak seperti ini!" teriak Hafiz.


"Siapa kamu!" laki-laki itu tidak kalah berteriak.


"Saya tunangan Rara. Dan kalau kamu menyakiti Rara, langkahi saya. Hadapi saya!" ucap Hafiz dengan nada geram.


"Haha, jangan kamu anggap saya tidak tau kalau kamu dan Rara hanya berstatus palsu. Supaya saya tidak mengganggu Rara"


Rara dan Hafiz terkejut.


"Jangan terkejut. Saya tau semua. Jadi, akhiri saja sandiwara kalian" laki-laki itu tertawa.

__ADS_1


"Kamu sakit" ucap Rara.


"Apa? Ya saya memang sakit" ucap laki-laki itu.


"Pak.. itu pak.. tolong pak.." teriak Winda dengan beberapa security.


Beberapa orang security itu mengamankan laki-laki itu.


"Ayo mas, ikut kami. Berdasarkan berita mbak Winda, mas sudah bertindak tidak baik kepada mbak Rara."


"Apa saya salah pak, mencintai perempuan ini? Ra, tunggu gue. Gue bakal cari lu." ujar laki-laki itu.


Rara menutupi mukanya dibalik tubuh Hafiz yang tinggi, dan memegang erat tangan Hafiz.


"Sekali lagi kamu mengganggu Rara.. Kamu berhadapan dengan kuasa hukum saya" Hafiz sangat greget.


Setelah sosok itu tidak terlihat lagi, Winda memegang sebelah tangan Rara.


"Udah Ra, dia udah pergi." ucap Winda.


Hafiz menarik Rara, tapi Rara masih berada di depan dada Hafiz dan menunduk.


"Dia udah pergi. Terima kasih ya mbak. Kalau mbak tidak memberi kabar, saya tidak tau apa yang akan terjadi pada Rara."

__ADS_1


"Saya Winda, mas. Itu kewajiban saya, karena Rara sahabat saya. Bersyukurnya ponsel Rara ada sama saya. Ini ponsel kamu, Ra." ucap Winda yang masih menggenggam tangan sahabatnya yang masih shock.


"Ayo, sayang. Kita pulang" ajak Hafiz.


"Ayo mbak, sekalian. Saya antar pulang"


"Ayo win.. bareng kami," Rara melihat ke arah Winda.


Mereka akhirnya meninggalkan kampus itu.


"Kamu langsung aku bawa pulang ke rumah aja. Besok biar kita gak buru-buru ke bandaranya." ucap Hafiz yang mengetahui Rara masih takut atas kejadian tadi.


"Ya Ra, lebih baik kamu di rumah mas Hafiz dulu aja. Aku takut kamu ada apa-apa, sepertinya laki-laki itu nekat." Winda meyakinkan Rara.


"Gimana? Kita balik ke asrama dulu, barang-barang kamu udah disiapin kan?" tanya Hafiz.


Rara mengangguk.


"Sekalian ada mbak Winda juga, jadi ada yang menemani Rara masuk ke dalam asrama. Ndak apa-apa ya mbak Winda" ucap Hafiz.


"Ya mas.." ucap Winda.


Sampai di dalam kamar, tidak banyak yang harus dibawa. Hanya karena mau bermalam di rumah Hafiz, jd ia membawa baju lebih untuk salinan bajunya.

__ADS_1


"Bersyukur kamu punya mas Hafiz, Ra.. Sepertinya ia sangat sayang sama kamu. Tapi beneran. kamu dan dia udah tunangan?" tanya Winda.


"kan udah pernah aku ceritain, kalau aku dijodohkan. Dan itu" ucap Rara, sambil mengunci pintu kamarnya.


__ADS_2