Status Palsu

Status Palsu
23


__ADS_3

*Flashback


Oke, nanti kita sambung ya. Setelah Maghrib, mas jemput makan ya, Ulang tahunnya harus dirayakan, tapi berdua"


Rara mengangguk. Hafiz membukakan pintu untuk Rara. Dan akhirnya ia pergi ke kantor dengan hati gembira.


Rasa lelah Hafiz terbayarkan sudah, setelah menjumpai Rara. Diperjalanan, ia selalu tersenyum, sampai di tengah jalan sepi, ia diberhentikan beberapa motor. Mereka memakai helm hitam, dan tidak membukanya sama sekali.


"Turun! Turun!"


Kaca mobil di pukul-pukul.


Hafiz terkejut, dan segera turun.


"Ada apa?"


"Jangan banyak tanya kamu"


Kemudian mereka memukuli Hafiz dengan stik baseball.


"Siapa kamu? Jangan kamu dekati Rara lagi, kalau kamu masih mau lihat matahari." Kemudian Hafiz pingsan. Mereka meninggalkan hafiz begitu saja.


*Di rumah sakit.


Rara mendekati Hafiz yang tergeletak di bed pasien.


"Nak Rara?" Tanya seorang wanita.


Rara menoleh, dan mengangguk.

__ADS_1


"Saya mamanya Hafiz. Maaf mengganggu nak. Hafiz menyebut nama nak Rara. Dan saya menemukan nomor nak Rara dan mencari tau nak Rara."


"Mas Hafiz kenapa Tante?"


"Jangan panggil tante, panggil mama saja."


"Oh, ya ma. Mas Hafiz kenapa, ma?"


"Entah bagaimana kejadiannya, kami di telepon pagi tadi, mengabarkan Hafiz dibawa ke rumah sakit ini. Pagi-pagi sekali, Hafiz keluar rumah, mama gak tau kemana dia. Tiba-tiba, mama dapat kabar, kalau Hafiz ada di sini."


"Maaf ma, mungkin kalau tadi pagi mas Hafiz tidak menemui Rara, kejadian ini tidak akan terjadi."


"Jadi, kamu yang disebut hafiz, ia akan menjumpai menantu mama"


Rara terkejut. Entah apa maksud omongan itu.


"Rara boleh mendekati mas Hafiz, ma?"


Rara mendekati lelaki yang berjanji akan mengajaknya makan, malam ini. Tetapi, belum juga malam, ia sudah ada di sini.


"Mama tinggal ya nak" ucapnya sambil memegang pundak Rara.


"Mas.." ucap Rara pelan, sambil memegang tangan Hafiz.


Hafiz tetap tidak bergerak.


Ia memandang lelaki yang hanya tertidur itu.


Hari sudah Maghrib. Seharusnya ia sudah bersiap di kamar menunggu jemputan Hafiz. Tapi ia sekarang berada di ruangan ini.

__ADS_1


Bu Arya kembali ke ruang itu. Dan duduk di seberang Rara, sambil memegang tangan anak semata wayangnya itu.


"Ma, apakah ada mukena? Rara mau sholat"


"Ada, sebentar, nak."


Bu Arya meletakkan sejadah dan mukena. Dalam doanya, ia memohon agar Hafiz kembali seperti semula.


"Hafiz baru pulang semalam. Papanya udah suruh dia gak usah keluar hari ini, karena perusahaan biar di handle oleh papanya dulu. Tapi, jabatannya di kantor memaksa ia harus pergi. Itu alasannya ke papanya."


"Bukannya mas Hafiz hanya karyawan biasa, ma. Seharusnya ia tetap di rumah. Kan bisa minta izin dengan bosnya"


"Bos? Maksudnya?" tanya mama heran.


Pintu kamar diketuk, seseorang mengantar makanan.


"Gimana kabar den Hafiz, Bu?" tanya mbok Asih.


"Belum ada perubahan. Itu Rara, yang ia sebut-sebut dari tadi"


Mbok Asih mendekati Rara, ia melihat Rara yang hanya memandangi Hafiz.


"Cah ayu, makan dulu" ucapnya kemudian ia kembali ke Bu Arya.


"Ya Bu, terima kasih. Saya belum lapar" ucap Rara bohong.


"Kemarilah, Ra. Kita makan dulu, ini sudah malam. Nanti kamu sakit." ucap Bu Arya pelan.


Sikap Bu Arya yang berwibawa, dan penyayang, membuat Rara nyaman.

__ADS_1


"Ma, biar Rara yang menjaga mas Hafiz. Besok Sabtu. Rara libur kuliah. Ini semua salah Rara ma, seandainya mas Hafiz tidak menemui Rara pagi tadi, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi."


__ADS_2