Status Palsu

Status Palsu
SP 4. Big Boss


__ADS_3

Di rumah sakit kota!


“―Jadi, saat kamu tiba di sana, kecelakaan itu sudah terjadi?”


Saat ini, Rara sedang dimintai keterangan oleh polisi di kamar pasien.


“Iya.” Rara menjawab dengan yakin.


Walaupun ini bukan perbuatannya dan juga pertama kalinya berhadapan dengan polisi, Rara menjadi gugup. Saking gugupnya, dia tidak yakin apakah polisi-polisi itu mengerti pernyataannya.


“Baiklah, terimakasih atas pernyataanmu. Ini bisa membantu kami untuk menyelidiki kasus ini. Jika dimasa depan kami ingin menghubungimu untuk pemeriksaan lebih lanjut, apa kamu bersedia untuk memberikan pernyataanmu kembali?”


“Tentu. Saya akan datang.”


Sesi tanya jawab telah berakhir, sehingga Rara menghela napas.


Tapi, polisi-polisi itu belum pergi. Mereka masih di sana mengamati pasien yang terbaring di ranjang rumah sakit.


Pria yang ditolongnya telah memakai pakaian rumah sakit. Tubuh yang sebelumnya penuh darah dan tampak kotor, kini terlihat bersih dan penampilannya jauh lebih baik dari sebelumnya.


Dia pria tampan!


Rara tidak bisa tidak terpana. Hanya beberapa detik namun itu bisa membuatnya berada di dunia fantasi.


“Dokter, bagaimana keadaan pasien?”


Dokter: “Kondisinya sudah jauh lebih baik. Sebelumnya, dia kekurangan banyak darah sehingga itu menyebabkan tubuh pasien menjadi lemas. Anda tidak perlu khawatir, setelah dia menjalani perawatan, dia akan sembuh.”


“Terimakasih, dokter.”


“Sama-sama.”


...


Tiba-tiba suara langkah kaki bergema masuk ke ruangan itu.


Mereka berpaling dan melihat seorang pria memakai setelan jas hitam dan rambut disisir dengan rapi. Siapapun akan tahu kalau pria itu berasal dari golongan elit.


Dia sangat sopan dan senyumnya tampak formal ketika menyapa semua orang dan bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan polisi-polisi itu. Dokter pun juga mengatakan hal yang sama.

__ADS_1


Untuk sementara, Rara merasa tersisihkan ketika mereka berbincang-bincang dengan akrab. Itu seperti mereka sudah saling kenal.


Apakah ini saat yang tepat untuknya pulang?


Apakah tugasnya sudah selesai?


Rara sangat kelaparan. Biarkan aku pulang!


Tepat saat Rara sedang mengeluh tentang kondisinya, pria yang berjas bertanya padanya, “Apakah kamu yang telah menyelamatkan Big Boss?”


Eh? Siapa Big Boss? Oh, pasti pria tampan yang berbaring di sana!


Rara mendadak ingat akan sebuah novel dimana pemeran utama wanita menjadi pahlawan saat pemeran utama pria mengalami kecelakaan. Tetapi sayangnya, si pemeran utama wanita menolak untuk diberi imbalan. Akankah dia menjadi seperti itu juga?


Sebuah imbalan... pasti akan langsung dia terima tanpa ragu-ragu!


Dengan malu-malu Rara menjawab, "Uh, iya. Aku yang telah menyelamatkannya."


Rara masih akan terus memikirkan imbalannya jika pria berjas itu tidak mengulurkan tangannya. Wajahnya masih ada gurat senyum dan berkata, "Terimakasih atas pertolonganmu. Big Boss kami sangat berharga."


Rara menatap uluran tangan itu dengan bengong. Tidak ada apa-apa di sana ...


Rara berpikir sebentar, ada atau tidak adanya imbalan itu tidak mempengaruhi rasa kemanusiaannya. Well, itu tidak seperti bahwa saat ini Rara kekurangan uang.


"Oh, iya." Rara menjabat tangan pria berjas, "Itu terjadi begitu saja. Aku hanya mengikuti naluri kemanusiaanku." Rara mencoba tersenyum manis.


"Nona terlalu merendah." lalu kemudian pria berjas itu memberikan kartu namanya.


Bahkan kartu namanya juga sangat elegan. Desainnya sangat indah.


"Ini kartu namaku. Jika kamu butuh bantuan, silahkan hubungi aku. Tolong dijaga dengan baik."


Rara langsung menerimanya dengan sopan.


Hari benar-benar sudah malam, tidak, sangat larut ketika dia pulang dengan naik mobil polisi. Itu seperti dia menjadi penjahat ketika duduk didalamnya.


Hari ini benar-benar melelahkan. Begitu tiba di rumah, Rara berpikir akan langsung jatuh tertidur di atas kasurnya yang lembut dan empuk, tetapi itu hanya fantasinya saja. Kenyataannya, Nimas langsung mencercanya dengan banyak pertanyaan.


Untuk mempersingkat waktu, dia berkata, "Ada kecelakaan di persimpangan dan aku menolongnya."

__ADS_1


Rara pikir dengan berkata seperti itu, dia akan beristirahat dengan cepat tapi siapa yang tahu kalau Nimas masih akan bertanya.


"Kecelakaan? Bagaimana bisa? Apa ada korban?"


"Tidak ada," Rara mulai menguap, "Pria itu selamat."


Suara ooh keluar dari mulut Nimas. "---Jadi, mana sate nya? Aku sangat lapar!"


Rara: "..."


Dia lupa tentang itu!


Rara berdeham, "Kedainya tutup." tanpa menunggu komentar darinya, Rara langsung masuk kamar.


Sedetik kemudian Nimas merespons, "Apa?!"


◊◊◊◊◊◊◊◊


Keesokan harinya ...


Mereka terbangun dengan perut keroncongan. Melihat satu sama lain, sepertinya mereka tidak tidur nyenyak semalam.


“Gara-gara kamu perutku selalu berbunyi.”


“Aku juga tidak bisa tidur karena itu.”


Menyadari mereka sama-sama menderita, mereka menghela napas bersama-sama. Haaa ...


“Kita makan di luar. Hari ini aku malas masak.”


“Oke.”


Keputusan singkat telah disepakati.


Hari yang cerah ini, mereka memutuskan untuk makan nasi campur. Kedai yang mereka tuju ada di jalan utama dan begitu masuk sudah ada banyak orang di dalamnya. Hampir penuh!


Ketika mereka selesai makan, mereka tidak langsung pulang tetapi mampir ke suatu tempat.


Butik Nyonya Kim.

__ADS_1


Rara memandang sekeliling dan tatapannya tertuju pada seseorang. Orang itu memunggunginya tetapi Rara merasa dia tampak familier.


__ADS_2