
"Kok Rara takut ya mas." ucap Rara sambil berjalan menuju pintu rumah. Hafiz menenangkan dengan memegang pundak Rara.
Di ruang tamu, sudah ada ayah, ibu, Rangga, yang sudah menanti mereka dengan muka serius.
"Duduklah nak" ucap ayah.
Rara dan Hafiz duduk berdampingan.
"Ra.. Kamu ada masalah ya. Ayah mau dengar dari mulut Rara sendiri. Ceritakan"
Rara melihat ke arah Hafiz dan Rangga.
Rangga mengangguk. Hafiz mengelus punggung Rara.
"Kamu jagan memendam perasaan kamu sendiri. Ayah tidak mau sesuatu terjadi pada kamu. Ceritakan semua. Mas mu sudah mengatakan semua, karena mas mu takut tidak bisa menjaga kamu setelah menikah. Ayah dan ibu sudah tua, tidak bisa terus-terusan mengurus kamu."
"Ayah..." Rara memberanikan diri, tapi ia takut.
__ADS_1
Hafiz menepuk tangannya, seolah mengisyaratkan, bicaralah, tidak akan ada masalah.
Rara melihat ke arah Hafiz.
"Ya ayah, selama Rara di Malang, ada seseorang yang selalu meneror Rara. Sampai teman sekelas Rara jadi korban, dan terakhir, mas Hafiz juga menjadi korbannya. Kemana Rara pergi, pasti diikuti. Sebelum Rara berangkat, Rara pernah hampir di sekap olehnya, dan Alhamdulillah, mas Hafiz datang menolong Rara." jelas Rara singkat.
"Ya Allah, dek" Rangga terpekik kaget.
"Makanya, malam ini Rara pergi, karena mas Hafiz menemukan sedikit titik terang siapa dia. Dan ternyata, dia salah satu siswa SMA yang sama dengan Rara. Mas,.." Rara meminta ponselnya.
"Namanya Ali, yah. Menurut Salsa, ayah pernah berbincang dengannya ketika perpisahan sekolah. Karena Rara minta, ayah yang jemput Rara saat itu."
"Tidak terlalu terlihat. Tapi..." pak Arsha, terdiam.
"Bukannya ini, anaknya pak Heri. Staf HRD di kantor ayah? Sebentar ayah lihat ponsel ayah. Karena kalau tidak salah, Poto profil di WhatsApp nya itu." pak Arsha melihat ponselnya.
"Coba perhatikan baik-baik, sama tidak?" tanya pak Arsha menunjukkan ke Rangga.
__ADS_1
"Ya yah, hampir sama. Kurang ajar dia, beraninya berbuat seperti itu. Tunggu saja." ucap Rangga geram.
"Pantas dia suka tanya-tanya tentang Rara" ayah mengingat.
"Tapi, yah, sebaiknya kita tidak perlu memakai kekerasan." ucap Hafiz bijak.
"Ayah, ibu.. Sebelum kami tau kalau kami sudah dijodohkan dari kecil, Opiz dan Rara bertemu tidak sengaja di sebuah toko buku di dekat kampus Rara. Rara berlari ketakutan dan tidak sengaja menabrak Opiz. Mulai saat itu Rara meminta bantuan kepada Opiz, untuk menjadi pasangan walau dengan status palsu"
Ayah, ibu, Rangga tertawa,
"Lanjutkan" ucap ayah, sambil meminta istri dan Rangga untuk diam.
"Dan mulai saat itu, Opiz selalu diminta untuk menemani Rara kalau ada acara. Dan untuk meyakinkan orang-orang, Rara sengaja membeli cincin imitasi, sebagai simbol kalau kami sudah bertunangan. Ternyata, siasat itu tercium oleh si Ali. Dan terjadilah kejadian kemarin. Seandainya saja, Rara tidak menitipkan ponselnya kepada Winda, mungkin Opiz akan telat melepaskan Rara dari tangan Ali."
"Sejauh itu.." ungkap Rangga.
Rara mengangguk sedih.
__ADS_1
"Kapan kamu pulang, Piz?" tanya pak Arsha.
"Sebetulnya, Opiz tidak izin dari kantor, yah. Jadi, Minggu malam, Opiz akan pulang bersama mama dan papa. Tapi, kemarin di bandara, Rara melihat sosok Ali. Akhirnya, Opiz meminta cuti dadakan ke papa. Opiz takut, Ali akan bertindak sewenang-wenang lagi terhadap Rara" jelas Hafiz