Status Palsu

Status Palsu
32


__ADS_3

"Pak, kita ke rumah sakit dulu ya pak. Kita jenguk mas Hafiz dulu." ucap Rara yang menahan takut


"Ya mbak"


Ponsel Rara bergetar. Ia melihat nama Hafiz tertera.


"Ra" ucap hafiz lembut


"Kamu dimana?" lanjutnya


"Ini mau ke rumah sakit. Tunggu ya. Mau dibawain apa?" tanya Rara


"Gak usah, cincin kamu aja." jawab Hafiz


Rara terdiam. Apa maksudnya. Tapi, ya sudahlah.


Mobil berhenti di pintu masuk rumah sakit. Rara meminta untuk diturunkan di sana, ia berjalan menuju kamar Hafiz.


Ketika sampai di kamar itu, Rara tidak menemukan siapa-siapa. Semua sudah di rapikan. Ia mencoba melihat ke kamar mandi. Tapi tidak ada.


Rara mencoba menghubungi Hafiz. Tapi tidak diangkat. Rara terduduk menunduk di atas kasur. Ia mencoba berkali-kali menghubungi Hafiz. Ia mendengar suara dengan volume kecil. Rara merasa ada telunjuk yang menyentuh punggungnya.


Ia menoleh ke belakang.


"Maaf mbak. Mbaknya mau pulang apa masih mau di sini?"


Rara hanya melihat ke arah suara itu.


Ia melihat lelaki dengan memakai baju kemeja putih berdiri di belakangnya.


"Jangan bingung. Ayo. Bantu mas jalan."


Rara bergegas kearah Hafiz. Dan memapahnya berjalan tegak.


"Sudah boleh pulang?"

__ADS_1


Hafiz diam sambil memainkan rambut Rara.


Kali ini, Rara yang membukakan pintu mobil, dan membantu Hafiz untuk duduk.


"Sudah nyaman?" tanya Rara.


Hafiz mengangguk dengan sedikit meringis menahan sakit.


"Sampai di rumah, mas harus banyak istirahat."


Hafiz hanya tersenyum. Ia bersyukur sudah dipertemukan dengan perempuan itu.


"Tadi kenapa?" tanya Hafiz


"Gapapa"


Hafiz menadahkan tangannya.


Rara melirik ke arahnya.


Deg.. Rara mengira, kalau Hafiz akan menggenggam tangannya. Dengan malu, ia menyerahkan ponselnya.


"Kamu kenapa? mukanya merah gitu." lanjutnya.


"hm.. gak mas.. "


Dengan hati yang bahagia, hafiz membuka isi percakapan di ponsel Rara.


"Sepertinya, dia ini pengagum kamu deh. Coba sekali-kali kamu temui saja. Kita jebak dia. Apa maunya. Kamu tersiksa harus sering begini. Sapa tau cuma minta tanda tangan kan"


Rara mencubit tangan Hafiz,


"Gak lucu" Rara kesal dengan omongan Hafiz.


"Nanti kalau aku udah sehat, kita cari jalan untuk menjebaknya".

__ADS_1


Sore itu, semua sudah menunggu Hafiz dan Rara. Rangga juga sudah selesai menemui client hari itu.


Hafiz turun dari mobil dengan bantuan Rara.


Semua menyambut dengan gembira.


Walau hafiz harus memakai penyanggah untuk tulang punggungnya, ia mencoba untuk terlihat sehat.


"Kalau begini, bakalan cepat sembuh nih" ucap Bu Arya.


"Harus, ma. Karena, pekerjaan Opiz banyak nih."


"Tapi ke kantornya kalau sudah sehat aja ya mas." ucap Rara.


"Rangga, kapan pulang? Kita belum menikmati jalan bareng ya." ucap Hafiz.


"Gapapa, next time kan bisa. Kalian harus ke Jakarta bulan depan ya." Rangga meminta mereka.


"Baiklah. Kita akan berangkat bareng, ya kan Ra"


Rara hanya tersenyum.


"Ma, Pa, Opiz duluan ya, udah lelah duduk gini. Pengen lepas alat ini" ia menunjuk penyanggah tubuhnya yang seperti korset, tapi seperti pelana kuda saja.


"Oh ya, tolong antarkan Opiz ya Ra" ucap Bu Arya.


Rara mengangguk. Ia memapah Hafiz sampai ke kamarnya.


"Bantu mas untuk buka ini ya Ra",


Awalnya Rara ragu, Ia merasa risih.


"Aku gak bisa sendiri." ucap Hafiz lagi.


Mau gak mau, Rara membantunya.

__ADS_1


Ketika tangannya menyentuh langsung tubuh hafiz,.


__ADS_2