
"Habiskan semua rotinya"
"Gak ah, kan aku udah"
"Habiskan"
Rara mengambil roti itu, dan ia memegang sebuah kertas di dalam plastik.
"Apa ini mas?"
"Entah, mungkin surat dari mama. Tolong dibuka, siapa tau surat lamaran untuk anaknya" Hafiz tertawa melihat muka Rara.
Rara keluar dari mobil, dan ia membuka kertas yang ada di dalam plastik kecil.
"Happy birthday, tunanganku.
Walau aku hanya tunangan palsu kamu, tapi perhatian aku gak palsu ke kamu. Semoga kamu selalu bahagia, dan aku akan mewujudkan kebahagiaan kamu."
Hafiz mendekati Rara, dan hendak memakaikan kalung ke leher Rara.
"Boleh aku pasangkan?" tanyanya.
Rara mengangguk, dan menarik rambutnya ke atas.
Rara tidak pernah mendapat perhatian dari laki-laki selain Rangga dan ayahnya.
Rara memegang kalung itu,
"Terima kasih, mas" ucapnya masih memegang kalung itu.
Hafiz senang sekali lihat Rara yang menyukai kalung itu.
"Sudah siang, aku harus kerja. Aku antar pulang ke asrama ya"
__ADS_1
Lalu mereka masuk ke mobil.
Diperjalanan, Rara menceritakan Dimas, ia bingung apa yang terjadi pada Dimas.
"Oke, nanti kita sambung ya. Setelah Maghrib, mas jemput makan ya, Ulang tahunnya harus dirayakan, tapi berdua"
Rara mengangguk. Hafiz membukakan pintu untuk Rara. Dan akhirnya ia pergi ke kantor dengan hati gembira.
"Selamat pagi, Ra.. Selamat ulang tahun. Maaf, aku gak suka kamu terlalu dekat dengan pacar palsumu"
Deg..
Hati Rara menjadi takut.
Tapi ia membiarkan pesan itu. Ia tidak mau mengganggu hari bahagianya.
Sore itu, jam di dinding menunjukkan pukul 3 , pintu kamar Rara diketuk oleh penjaga asrama.
"Ada tamu, mbak. Bapak-bapak. Menunggu di bawah"
Rara turun ke bawah. Rasanya ia tidak punya kenalan. Dia bingung.
"Mbak Rara?" tanya seorang lelaki setengah baya.
"Ya, pak. Siapa ya?"
"Saya diminta menjemput mbak Rara oleh pak Hafiz"
"Tapi, katanya mau menjemput setelah Maghrib? Saya belum siap-siap, pak."
"Ya mbak. Pak Hafiz menunggu di rumah sakit?"
"Rumah sakit? Maksudnya?" Rara mulai gusar.
__ADS_1
"Pak Hafiz mendapat kecelakaan, mbak"
Rara langsung lemas. Ia lunglai. Untung ada penjaga asrama, sehingga Rara tidak sampai jatuh ke lantai.
"Mbak.." ucap ibu penjaga asrama.
"Sebentar ya pak, saya segera kembali" ucap Rara lemas, dan kembali ke kamarnya.
Rara tidak memakai baju yang rencananya akan dipakainya malam itu, ia memakai kemeja putih dan celana jeansnya. Setelah pintu kamar dikunci, ia segera turun ke bawah.
Ia berpamitan kepada ibu penjaga asrama.
"Mbak Rara akan lama?" tanya penjaga asrama itu kepada Rara.
"Nanti saya kabari ya Bu, kalau saya tidak pulang, saya belum tau bagaimana kondisi di rumah sakit, Bu. Saya pamit ya Bu"
"Sabar ya mbak" ucapnya seraya mengantarkan Rara masuk ke mobil.
Di perjalanan menuju rumah sakit, Rara hanya meneteskan air mata sambil memegang mainan kalung yang diberi Hafiz pagi tadi.
Baru rasanya ia melepas rindu, kenapa sekarang begini?
Ia tidak sabar untuk tiba di rumah sakit itu.
Ia teringat pesan dari pengirim pesan misterius itu. Apakah ini karena ulahnya?
Rara masih memandang ke arah luar jendela. Sesekali ia menyeka air matanya.
Mobil itu memasuki area parkiran rumah sakit.
"Mari mbak" ajak laki-laki itu mengarahkan jalan menuju ke ruangan hafiz berada.
"Silahkan, mbak"
__ADS_1