Status Palsu

Status Palsu
44


__ADS_3

Ahh.. dia lagi..


"Mas, kalau Rara pindah kuliah di Jakarta gimana mas?" tanya Rara


Hafiz terkejut dengan pernyataan Rara.


Ia takut kalau ia akan jauh dari Rara.


Hafiz baru pertama kali merasakan cinta. Dan itu baru pada Rara.


Entah awal karena kasihan, dan tiba-tiba ingin melindunginya, atau apa itu, Hafiz sendiri tidak mengerti.


"Mas..." sapa Rara.


Hafiz tidak bisa menjawabnya.


"Kalau mas bisa jujur, mas berat, Ra. Mas gak bisa jauh-jauh dari kamu, Ra. Kalau bisa, mas akan menyekolahkanmu dari rumah saja." ucapnya dengan rasa sedih tapi ia tidak mau menunjukkan kelemahannya.


Rara diam.


Ia tau kemana tujuan pembicaraan itu.


Rara hanya menarik nafas panjang.


Rumah kediaman pak Rahmat, disulap menjadi tempat yang indah. Di halaman ada dekorasi bunga indah.

__ADS_1


"Wuih.. calon pengantin.. Selamat ya bro"


Hafiz menyapa mas Rangga yang sedang duduk di halaman belakang.


"Bro, Rara ingin pindah kuliah." lanjutnya


"Kenapa? Masih diganggu sama laki-laki itu?" tanya Rangga.


"Aku mesti apa? Aku gak tega kalau liat Rara begitu. Laki-laki itu sepertinya mengenal Rara sejak di sini. Alasan ia tidak mengambil kuliah di Ausi, karena ia mau dekat dengan Rara, kemarin dia sudah mengancam Rara. Aku bisa saja mengambil keputusan, tapi aku gak tau harus bagaimana?" jelas Hafiz.


"Maksudnya?" Rangga bingung.


"Nanti saja. Aku juga bingung."


"Wah.. tamu jauh sudah sampai." ucap Bu Arsha.


Hafiz mencium punggung tangan perempuan dan laki-laki yang datang bersama Rara.


"Jadi ayah gak perlu mempertemukan kalian lagi ya. Kapan papa kamu sampai, Piz?"


"Besok, om" ucap Hafiz.


"Om? Kamu dari kecil panggil ayah bukan om. Kamu lupa ya. Kamu dulu kecil sekali. Kamu suka berantem sama Rangga." cerita masa lalu ayah.


"Berarti, setelah Rangga, tugas kita hampir selesai ya Bu" ucap ayah. Ibu hanya tersenyum melihat putrinya tersenyum malu.

__ADS_1


"Kalau kamu jadi istri nak Opiz, kamu tinggal di Jakarta atau di Malang?" goda ibu.


"Apaan sih ibu, yang mau menikah kan mas, bukan Rara" ucap Rara malu-malu.


"Istirahat dulu sana. Anterin gih Ra.. Nanti kita makan malam. Kamu rapihkan dulu ya nak." perintah ibu, akhirnya mereka meninggalkan halaman belakang itu.


Hafiz menggandeng tangan Rara.


Rara membuka kamarnya, yang memang belum di rapikan. Kamar tamu disiapkan untuk mama dan papanya hafiz. Jadi, untuk sementara, Hafiz tidur di kamar Rara, dan Rara akan tidur bersama ibu.


Hafiz melihat setiap sudut kamar itu.


Matanya tertuju pada sebuah foto. Ia mengambil foto itu dan tersenyum.


Bingkai foto itu, adalah foto Rara ketika SMA bersama teman-temannya. Kurus tinggi dengan rambut di ikat tinggi, memperlihatkan lehernya yang tinggi. Tapi, ada sesuatu yang membuat dia terdiam. Sepertinya ia tidak asing dengan sosok yang mungkin tidak sengaja hadir dalam foto itu.


"Itu foto ketika perpisahan sekolah"


Rara duduk di samping hafiz, mengambil foto itu dan menunjukan siapa saja teman akrabnya.


"Ra, siapa saja yang punya foto ini?" tanya Hafiz.


"Hanya Rara dan Salsa aja, mas. Kenapa mas?" ucap Rara.


"Coba Rara lihat, apa mas yang salah lihat ya?" Hafiz menunjuk 1 orang yang ada dalam foto itu. Rara memperhatikan dengan baik. Dan..

__ADS_1


__ADS_2