
"Kamu baik banget, mas" ucap Rara singkat.
"Aku? Hahaha.. Aku dan mereka sama saja."
"Mobil siapa ini? Punya bosnya mas Hafiz ya?" tanya Rara.
Hafiz menahan tawanya.
"Ya, mas pinjem sama bos, tadi mas membujuk bos untuk pulang duluan, soalnya mau jemput tunangan mas. Nanti di culik orang"
Seketika, Rara tertawa.
"Jadi mas setuju dengan ide Rara?" tanya gadis itu dengan mata berbinar
Hafiz mengangguk. "Ya.. aku sudah ikut dalam skenariomu. Mau apalagi"
ucapnya seenaknya.
"Mas, hati-hati loh. Ini mobil kan mahal. Pelan-pelan saja."
Hafiz memandang ke arah Rara.
"Iya aku tau. Emangnya kamu tau apa?"
"Kakakku pernah membawa mobil bosnya juga, mobil sport. jadi aku tau berapa harganya" jawab Rara berbohong.
"Tapi tenang, mas. Besok sandiwaranya berhenti sejenak kok. Aku akan pulang ke Jakarta selama 2 Minggu"
__ADS_1
"Apa? 2 Minggu?" tanya Hafiz.
Laki-laki dingin itu bingung, sehari tidak mengetahui kabar Rara yang sudah memikat hatinya saja, membuat dia gila. Ini harus 2 Minggu. Tapi dia berhasil untuk mengalihkan perasaannya.
"Siapa yang mengantarmu ke bandara?" tanya hafiz. "Bawaanmu banyak gak?"
"Aku naik taksi saja mas, aku cuma bawa tas ransel saja. Di Jakarta kan bajuku banyak." ucap Rara.
"kita makan dulu ya, perutku bernyanyi." Ajak Hafiz. Ia mengajak Rara ke sebuah mall. Ia sebenarnya bisa mengajak Rara ke sebuah restoran mewah, tapi, ia tidak mau memberi tahu identitas aslinya.
"Makan pelan-pelan saja, mas. Seperti tidak makan seminggu saja"
"aku bakal gak makan selama 2 Minggu" gumam hafiz pelan.
"apa mas? 2 Minggu gak makan? Kasihan sekali kamu, nunggu gajian baru makan enak. Irit lah mas, kan gajian masih lama."
"Kamu makan, jadi sampai di asrama, tidak memikirkan harus makan apa? Anak kuliahan kan biasanya harus mengirit pengeluaran" Hafiz menyodorkan makanan untuk Rara.
"Baguslah, mas Hafiz taunya aku anak kosan biasa" batin Rara tertawa kecil.
Setelah makan, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di mall itu.
Rara melihat toko perhiasan.
Ia masuk, dan melihat cincin yang ada di sana.
"Bagus ya mas." ucap Rara
__ADS_1
"Mbaknya pinter milih ya mas. Ini keluaran terbaru. Harganya hanya 15 juta."
"Gak mbak.. saya hanya lihat saja. Yok mas kesana saja"
Rara melepaskan cincin yang memang tampak cantik di jari manisnya. Mereka melihat sekeliling.
"Ra, tunggu sebentar ya, mas mau ke kamr mandi, kebelet" ucap Hafiz sambil berlari.
"Ada-ada saja." ucap Rara, dia duduk di bangku panjang.
"Aku bisa saja membeli cincin itu, tapi nanti identitasku ketahuan. Aku pergi ke sini kan biar tidak ada yang tau identitasku".
Ternyata Hafiz kembali ke toko perhiasan tadi, dan membeli sepasang cincin yang di coba oleh Rara. Dia menyembunyikan di saku celananya.
Hafiz bingung, ia mencari Rara, Ia takut penguntit itu menemukan Rara di mall itu.
Saat matanya berkeliling, seseorang menepuk punggungnya.
"Mas.." sapa Rara.
"Rara.. syukurlah" hafiz menarik nafas lega.
"Bagus gak?" Dia menunjukkan cincin imitasi sudah berada di jari manisnya.
"mas pakai ini" Rara memakai kan cincin mainan itu ke jari manis Hafiz.
Hafiz merasakan sesuatu bergetar di dadanya. Seandainya jantungnya pakai pengeras suara, dia aja malu sendiri.
__ADS_1