Status Palsu

Status Palsu
14


__ADS_3

"Kenalin sayang, ini adikku. Ra.. ini Rani."


Rara dan Rani berjabat tangan dan berpelukan.


"Pantes saja, mas Rangga takluk gitu, mbak Rani, cantik sekali"


Sosok Rani sangat sederhana. Ia bekerja sebagai dokter di rumah sakit GMC. Walau baru 2 tahun, prestasinya sangat baik di rumah sakit itu.


"Sayang, tadi Rara kelihatan pusing, kasih obat apa?" canda Rangga.


"Apa-apaan sih mas, gak mbak. mas Rangga becanda"


Makan malam itu terasa hangat, dimana ada canda tawa. Rani hanya melihat keakraban diantara kakak adik itu. Rani tidak banyak bicara, kadang Rangga menarik tangan Rani bermaksud mengajak dia untuk berbicara. Mereka terbawa suasana. Sampai waktu selesai makan mereka terus bercanda.


"Aku titip mas Rangga, ya mbak. Kadang dia suka lupa makan, dia punya magh akut." kalimat itu yang membuat mereka terkejut, lebih lagi, Rangga, ia tidak pernah tau, kalau adik kecilnya itu, tau kalau penyakitnya begitu.


Rara pernah memergoki obat yang selalu sedia di tas kerjanya, dan ia menanyakan ke ayah, obat apa itu, dan jawaban ayah, bilang itu obat magh akut. Dan Rara pernah melihat Rangga berguling di tempat tidurnya menahan sakit.

__ADS_1


"Ya, Ra. Mbak akan ingatkan mas Rangga."


ucapan Rani membuat lega hati Rara.


"Kapan rencana kalian untuk menikah? Kalau bisa saat aku libur semester ya, hehe" Rara berucap sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tangan Rangga merangkul Rani dan Rara, sambil jalan menuju parkiran mobil.


"Kita juga mikirnya gitu. Ya kan sayang?" ucap Rangga


Rani tersenyum manis.


Usia Rangga baru 25 tahun, dan Rani 22 tahun. Mereka memutuskan untuk menikah muda, karena ingin mengikuti jejak orang tua Rani. Rani dan Rangga juga memutuskan untuk hidup bersama. Sebenarnya kedua pihak keluarga sudah bertemu, dan memutuskan untuk menyegerakan pesta itu.


Hari Minggu di rumah berubah menjadi drama. Ibu yang menangis kembali ketika melihat anak gadisnya untuk kembali ke Malang. Sejuta pesan terucap darinya. Rani dan Rangga tertawa kecil melihat kelakuan adik kecilnya itu.


Setelah makan siang, mereka bersiap mengantarkan Rara ke bandara.

__ADS_1


"Jangan lupa pesan ibu ya nak." ibu memeluk Rara yang sudah memakai tasnya.


Entah kenapa Rara ikut sedih. Ia tidak ingin kembali ke Malang, ketakutannya dengan orang yang menggangunya. Dan ia merasa tidak akan merepotkan Hafiz lagi. Ia harus berani.


Setelah ia melambaikan tangannya kepada kedua orang tuanya, mobil yang dikendarai Rangga berlalu. Ia menitikkan air matanya.


"Nanti, kami main ke Malang ya dik" ucap Rani yang melihat calon adik iparnya menangis.


"Kamu ada apa sih Ra? Waktu kamu memutuskan untuk kuliah di Malang, kamu happy aja. Tapi kok sekarang, seperti ada yang kamu pikirkan" tanya Rangga.


" Gak kok mas, cuma masih belum puas tidur sama ibu saja"


"Anak manja"


"Gak kok. Aku kan mandiri loh mas"


"Nanti juga kalau tunanganmu datang, kamu juga bakal lupa"

__ADS_1


"Apa sih mas, kalau gak tau jangan sok tau deh" ucap Rara sungut.


Ponsel Rara terus bergetar, Hafiz mencoba menghubunginya, tapi..Rara tidak ingin mengabarinya.


__ADS_2