Status Palsu

Status Palsu
18


__ADS_3

"Masuklah. Sampai ketemu besok. Ponselnya jgn dimatikan, kalau ada apa-apa bisa kabarin mas" sebegitu perhatian laki-laki itu.


Rara hanya menarik nafas panjang. Mencoba mengalihkan perasaannya.


"Hayoo.. tadi ada suara laki-laki, mana dia" sebuah panggilan vc dari mas Rangga.


"Niih. aku di kamar loh mas... gak ada kaaannn" Rara tertawa puas.


"Kamu belum cerita ke mas loh, mas kan gak akan khawatir, kalau kamu punya pacar di sana, nanti ada yang jaga kamu. Tapi harus mas selidiki dulu. Jadi mas, akan ke Malang kalau kamu sudah punya pacar. mas akan menitipkan kamu. hahaha" obrolannya serius, tapi dialihkan ke becanda.


"Males ah cerita sama mas. Nanti mas cerita ke ayah dan ibu."


"Nanti ada saatnya mas. Gak sekarang. okeeehhh" Rara mengedipkan sebelah matanya.


"Pokoknya mas tunggu cerita kamu. ya sudah, istirahatlah. Hati-hati di sana ya dek. Kamu gak punya siapa-siapa di sana."


"Ya bawel. Punya mas, bawelnya selangit"


"Awas kamu ya Ra. Hahaha.. Ya sudah, mas matikan ya. Selamat malam adik kecilku"


"Selamat malam, mas"


Rasa lelah dan stress bercampur jadi 1 saat itu. Rara tidak paham, apa yang mendasari laki-laki misterius itu terus menerornya.


Ia harus tertidur dalam keadaan was-was.


Keesokan pagi, Rara siap-siap kembali ke kampus. Seperti biasa, ia hanya minum segelas susu, dan langsung pergi dengan buru-buru.


"Selamat pagi mbak Rara" sapa pengurus asrama.


"Pagi, Bu.. saya permisi ke kampus ya Bu" ucap Rara ramah.

__ADS_1


Rara mengayuh sepedanya ke kampusnya. Suasana segar menyapa, berbeda dengan Jakarta yang dengan hiruk pikuknya.


Ia memarkirkan sepedanya dan segera mengurus mata kuliah yang akan di ambil.


"Ambil berapa SKS, Ra.." tanya Winda, teman yang selalu bersama saat di kampus.


"24, Alhamdulillah."


Mereka menyamakan mata kuliah yang akan diambil.


"Ra, ponsel mu berdering" ucap Winda


"Oh, ya..


Hallo" sapa Rara.


"Dimana? Mas udah di lapangan fakultas MIPA."


"Ehm.. Bentar ya. Aku kesana.


"Kenapa Ra.."


"Ada deh. Kepo deh" Rara tertawa dan berlari menuju lapangan parkir.


Rara melirik ke kanan dan ke kiri. Tapi tidak terlihat di mana hafiz berada.


Rara tidak menyadari, sepasang mata memperhatikannya dalam-dalam. Ia memberanikan diri. Mendekatinya. Semakin dekat. Dan..


"Dar"


Rara terkejut sampai terduduk.

__ADS_1


Laki-laki misterius itu mundur ketika melihat Hafiz.


Hafiz yang tadinya hanya ingin berjalan pelan, berlari mendekati Rara.


Hafiz memegang tangan laki-laki itu.


"Hei.. Mau apa kamu" Teriak Hafiz


"Maaf, Ra.. kamu gapapa kan?"Dimas melihat Rara yang ketakutan.


"Udah mas, lepasin. Dia temanku." ucap Rara.


"Ya, mas. Aku teman Rara."


"Jangan begitu lagi sama Rara." ucap Hafiz memegang tangan Rara, dan mengajak ke mobil.


"Kamu gapapa, Ra? Minum dulu"


Hafiz menyerahkan sebotol mineral ke Rara.


"Makasih mas. Rara takut aja kalau ada orang itu"


Ponsel Rara bergetar


"Kamu gapapa kan. Awas saja si Dimas" pesan singkat itu datang.


"Apa ini mas?" tanya Rara.


Rara menyerahkan ponselnya ke Hafiz.


Hafiz membuka laptopnya.

__ADS_1


"Ra, boleh aku tau isi ponselmu? Karena aku mau tau apa saja isi ponselmu. Jadi aku bisa membajak ponselmu, dan dapat mengetahui siapa yang mengganggumu selama ini. Tapi kalau kamu keberatan, berarti aku akan mencari jalan lain."


Rara bingung dan diam.


__ADS_2