
"Uang?? Uang apa..?" Reaven tercengang dan bingung mendengar ucapan Miya.
"Udah gak usah repot-repot berdebat!" Karen tiba-tiba memotong.
"Kau tuh bukan siapa-siapa dulu, cuma supir. Kami berbaik hati agar kau bisa menikah dengan Miya dan menjadi keluarga kami, kami kasih makanan dan tempat untuk tinggal. Tapi apa!? Kau mencuri uang kami saat kami lengah dan melarikan diri, dasar bajingan! “
Reaven mengerutkan kening dan dengan panik menjelaskan ketika dia memikirkan sesuatu, "Tidak ada hal seperti itu! Saat itu, aku memang meminjam lima puluh ribu dari Robert. Tapi sudah ku kembalikan pada malamnya di hari yang sama… ”
"Omong kosong! Jelas - jelas kau mencurinya!" Karen menyela dengan kasar sebelum berbalik untuk melihat ayah Miya, Robert.
"Kasih tau mereka! kamu pinjamin dia, atau dia mencurinya?"
"Hmph, dia menikah dengan keluarga kita, seperti katamu, dia punya rumah dan gak pusimg soal makanan, jadi kenapa aku harus meminjamkannya lima puluh ribu dolar? Dia jelas mencurinya dan kemudian melarikan diri!" Robert bersikeras.
"Ada hal seperti itu? Kalian terlalu baik padanya! kalau itu aku, sudah lamaku laporkan polisi, biarkan sampah itu masuk penjara!"
"Benar tuh.. Aku baru ketemu ada orang kayak begini hari ini. Orang ini sampah!"
__ADS_1
"Dia mencuri lima puluh ribu dollar, dan dia masih punya muka untuk kembali kesini? Astaga, dia memang gak tahu malu!"
"Cepat cerai. kalu dia gak mau bercerai, kita akan menuntutnya!"
"ya betul......"
Kerabat yang dari tadi memperhatikan perdebatan mereka menimpali sekaligus membully Reaven. Sedang kan Ryan hanya berdiri melihat dengan tatapan remeh sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya.
Reaven mencibir di kepalanya. Pasangan ini benar-benar melakukan kebohongan untuk menjebak dan menuduh ku melarikan diri dengan uang mereka, padahal mereka tahu dengan pasti kenapa aku meminjam uang itu. Sepertinya mereka ingin merusak reputasi ku dulu sebelum mengusir ku.
Setelah tinggal di kamp militer selama bertahun-tahun, dia telah mengembangkan aura mengancam yang begitu mengintimidasi sehingga keduanya tidak berani melakukan kontak mata dengannya dan malah mengalihkan pandangan mereka.
"Yah, kami cuma gak mau menyebarkan aib keluarga di depan umum. Kami menolong untuk menyelamatkan reputasi mu, tetapi kau malah mau menyalahkan kami!?" Robert meninggikan suara, mencoba mengintimidasi, tetapi terlihat jelas bahwa dia tidak terlalu percaya diri.
"Aku yakin kalian semua tahu kebenaran di dalam hati kalian." Reaven tidak mengatakan apa-apa lagi.
Mencoba mengancam ku dengan sesuatu kebohongan? gak akan berhasil. Reaven mencibir dalam pikirannya.
__ADS_1
Miya melihat reaksi kedua orang tuanya.
Ada keraguan di benaknya, selama ini mereka mengatakan kalau Reaven melarikan diri dengan uang ayahnya. Tapi melihat reaksi mereka sekarang, Miya sudah mulai mencurigai sesuatu. Mungkinkah… dia benar-benar gak mencuri uang saat itu?
"Singkatnya, cepat pergi!" Karen bergegas maju dan mendorong Reaven dengan paksa.
Reaven sedikit terhuyung kebelakang karena dorongan itu, sementara gadis kecil di pelukannya ketakutan hingga meneteskan air mata oleh tatapan marah Karen yang ganas dan mengancam.
Dia memeluk leher Reaven dan menangis dengan keras. "Gak.. Gak...! aku mau Ayah! Jangan usir Ayah pergi!"
Karen membentak dengan marah, "Bagaimana sampah tidak berguna ini ayahmu? Apa yang kau tangisi?! Terus nangis, dan biar ku kunci kamu di loteng!"
Gadis kecil yang ketakutan itu menggigil ketakutan dan bersendawa saat dia terisak, tidak berani menangis lagi, matanya penuh ketakutan.
Menilai dari reaksinya… dia pasti sudah dikunci di loteng sebelumnya!
Saat amarah melonjak di dalam hatinya, Reaven memelototi semua orang dengan tatapan sedingin es yang sepertinya membuat seluruh ruang tamu membeku!
__ADS_1