Suami Sampah!!! Reaven Crow : The Demon From East Border

Suami Sampah!!! Reaven Crow : The Demon From East Border
Bab 14


__ADS_3

Reaven baru saja mengetahui bahwa Layla adalah putrinya, jadi bagaimana dia bisa menyiapkan hadiah sebelumnya?


Tapi tetap saja, dia tidak panik. Sebagai gantinya, dia melepas gelang manik kayu hitam dari pergelangan tangannya dan menyerahkannya kepada Laya.


"Selamat Ulang Tahun, Layla. Ayah berdoa Layla tumbuh dengan baik dan bahagia selalu."


Reaven mendapatkan gelang Manik Gaharu Hitam itu di perbatasan, dulu atasannya memberikannya sebagai hadiah. Itu terlihat biasa, tapi bagi yang paham nilainya itu merupakan barang berharga yang langka.


Tifa mengulurkan tangan dan menyambar gelang manik-manik itu. Setelah melihatnya sekilas, dia mendengus dengan tawa.


"Hadiahmu sangat lusuh! Ryan memberinya batu permata langka, namun Kau, ayah kandungnya, memberinya gelang kayu yang jelek. Apa kau benar-benar ayahnya?"


Semua orang menjulurkan leher mereka untuk melihat hadiah Reven , seketika merasa geli ketika mereka akhirnya melihat sekilas dengan jelas.


"Gelang manik ini terbuat dari kayu hitam dan jelek. Sangat ringan, dan setiap manik terlihat bernoda kotoran. Ini jelas gelang berkualitas buruk yang tidak akan dibeli oleh siapa pun bahkan di toko perhiasan!"


"HA HA HA...!"


Semua orang tertawa terbahak-bahak, dan meski usianya masih kecil, Layla bisa merasakan ejekan dalam tawa mereka.

__ADS_1


Layla merebut gelang itu dari Charlotte dan mendekapkannya ke dadanya. Dia berteriak dengan marah,


"Aku suka yang ini! Aku suka apapun yang Ayah berikan padaku!"


Hati Reaven menghangat, dan dia mengusap kepala Layla dengan penuh kasih. Dia kemudian memakaikan gelang itu di pergelangan tangannya yang ramping dan lembut.


Memainkan manik-manik halus, putih, dan ringan di pergelangan tangannya, Layla dengan senang hati mengangkat lengannya dan menunjukkannya kepada Miya. "Bu, cantik kan? Ini wangii.."


"Kamu memperlakukan kayu jelek seperti harta!" Karen mengerutkan bibirnya dengan jijik.


Dia meraih liontin berlian merah muda yang mempesona dari Ryan di atas meja, meletakkannya di leher Amelia, dan kemudian mengomel,


"ila, kamu masih kecil, jadi kamu belum tahu. Nenek kasih tahu ya, liontin ini adalah barang yang bagus."


"Kau ngapain?! Mau nyuri lagi!? Kembalikan!!" Karen segera membentak dengan suara bernada tinggi saat dia memelototi Reaven.


Reaven mencibir diam-diam dan mengencangkan cengkeramannya, menghancurkan liontin batu permata yang indah itu di tangannya.


"Ah!!! Apa yang sedang kau lakukan?!!" Karen berteriak dan hampir pingsan.

__ADS_1


Itu adalah batu permata yang berharga lebih dari seratus lima puluh ribu dolar.


"Apa yang bajingan itu lakukan ?!"


Seluruh orang yang ada disitu tercengang sampai-sampai cangkir dan sebdok mereka jatuh di atas meja dan tanah.


Sebuah liontin batu permata berharga lebih dari seratus lima puluh ribu telah hancur berkeping-keping. Bajingan tudak berguna ini benar-benar kurang ajar!


Ekspresi Ryan sangat cemberut.


Hancurnya liontin itu adalah satu masalah, tetapi apa yang di lakukan Reaven merupakan penghinaan besar baginya!


Dengan ekspresi marah dan emosi dalam dirinya, dia bertanya, "Apa maksudmu dengan melakukan itu?"


"Hadiahmu tidak bagus. Layla tidak bisa memakainya" jawab Reaven acuh tak acuh.


"KAU!!!"


Ryan tiba-tiba bangkit dan membentak.

__ADS_1


"Kau orang miskin! Apa yang kau tahu tebtang barang bagus?!" Matanya penuh penghinaan.


"Ku akui aku belum melihat banyak barang bagus, tapi aku bisa mengenali barang palsu" kata Reaven dengan ekspresi wajah yang berubah drastis.


__ADS_2