
Pada saat Reaven hampir akan kehilangan kesabarannya secara tak terkendali, sepasang tangan membawa gadis kecil itu menjauh dari pelukannya.
Miya mencium wajah kecil putrinya yang ketakutan. Dia sangat khawatir sampai dia hampir menangis. "Ibu, terakhir kali ibu mengunci Layla di loteng, dia sangat ketakutan sampai-sampai dia demam tinggi selama berhari-hari! kenapa ibu menakut-nakuti dia lagi sekarang? Dia masih kecil, dan ibu adalah nenek kandungnya. Apa tidak peduli padanya sama sekali?"
"A-aku hanya frustasi dan mengatakan itu untuk menakut-nakuti dia! Aku gak akan menguncinya. Serius, ini salahnya karena terlalu nempel sama ayahnya…" suara Karen melunak. Suaranya menjadi sangat pelan di akhir
Reaven yang memiliki pendengaran yang sensitif dan segera menangkap kata kuncinya.
Jantungnya berdegup kencang, dan dia merasakan tenggorokannya tercekat. Mencoba memverifikasi sesuatu, dia bertanya pada Miya, "Dia… Apa Layla… putri kita?"
Miya menggigit bibirnya dengan erat. Dia ingin menggelengkan kepalanya dan menyangkalnya. Tetapi ketika dia melihat tatapan penuh harap di mata putrinya yanga sedang di pelukannya, dia tidak bisa memaksa dirinya untuk mengatakan bukan.
Layla selama ini selalu bertanya tentang ayahnya, dan Reaven memang ayah kandungnya.
Dia mengangguk dengan ekspresi yang rumit.
Sekarang setelah kecurigaannya yang samar-samar telah terkonfirmasi, Reaven sangat gelisah!
__ADS_1
Dia tidak menyangka anak yang menerkamnya dan memanggilnya ‘Ayah’ dengan percaya diri saat pertemuan pertama mereka di bandara adalah darah dagingnya!
Kekuatan gen sangat menakjubkan!
Reaven memandang Miya dan Layla dengan tatapan lembut yang bercampur sedikit penyesalan.
Dia berhutang terlalu banyak pada mereka.
Reaven menahan keinginannya untuk meraih dan menarik mereka ke dalam pelukannya.
Di sampingnya, Karen memutar matanya dan berseru, "Hmph, bicara itu gampang! Kau adalah pria yang gak punya uang, gak punya apa-apa. Dengan gak tau malu kau kembali, dan masih ingin kami memberi Anda makan? jangan HARAP!!"
Dia menusuk-nusuk lengan Miya dengan jarinya, sambil melanjutkan omelannya. "Sudah kubilang, pergilah dan ceraikan dia! Ryan sudah mengatakan bahwa dia akan mengajukan pertunangan denganmu di tanggal yang bagus dalam beberapa hari ke depan. Apa kamu mendengarku? Aku bilang begini demi kebaikkan mu dan anak mu juga!"
Mendengar ucapan Karen, wajah Reaven menggelap, matanya dingin penuh dengan amarah, dan suhu di sekitarnya sepertinya turun beberapa derajat.
Perilaku sombong Karen membuat Miya merasa sangat tidak nyaman.
__ADS_1
"ibu, aku sudah memberitahumu beberapa kali bahwa aku tidak akan menikah dengan Tuan Muller"
Dia berbalik untuk melihat Ryan.
"Tuan Muller, Anda berasal dari keluarga istimewa, dan ada banyak gadis yang menyukai Anda. Aku sudah menikah, dan aku benar-benar tidak pantas untukmu, jadi jangan buang waktu lagi untukku." Miya berusaha sesopan mungkin untuk menyembunyikan kekesalannya.
Karen sangat marah sehingga dia mencubit Miya beberapa kali sambil mengomel. "Kenapa kamu begitu keras kepala?! Ryan adalah pria yang memenuhi syarat. Kamu beruntung dia naksir kamu!"
Kemudian dia berbalik untuk meminta maaf kepada Ryan. "Nak Ryan maaf ya, kami telah terlalu memanjakan Miya. Kadang-kadang, dia agak bodoh, jadi tolong jangan pedulikan dia! Jangan khawatir. Saya memiliki keputusan akhir dalam rumah ini."
Ryan tersenyum tipis dan berpura-pura tidak terlalu peduli. "Tidak apa, nyonya Karen. Saya percaya bahwa Miya akan percaya pada ketulusan saya suatu hari nanti."
Dalam hatinya, dia sangat tidak senang. Aku, Ryan Muller, belum pernah ditolak secara terang-terangan oleh wanita sebelumnya! Dia cuma wanita yang sudah menikah. Kenapa dia begitu sok?! Dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Saat aku mendapatkan hatinya, aku pasti akan membuatnya mematuhiku!
Dia tidak repot-repot melirik Reaven. Baginya, Reaven hanyalah suami dari Miya dan bukan siapa-siapa.
Mata Reaven menyipit dan bergumam dalam hati. Beraninya dia mencoba merayu istriku di depanku? kurang ajar sekali.
__ADS_1