Suami Sampah!!! Reaven Crow : The Demon From East Border

Suami Sampah!!! Reaven Crow : The Demon From East Border
Bab 32


__ADS_3

"Jangan sampai ada yang mati!"


Tifa tertegun menatap dashboard mobil, dia membeku mendengar kata-kata Reaven. Dia berubah! bulu kuduknya berdiri, Reaven jadi sangat menakutkan!


Di sisi lain, Layla tidak merasakan ketakutan yang dirasakan bibinya karena ia menatap ayahnya dengan kagum. Reaven tidak menyadari apa yang dirasakan ke dua orang disampingnya, dia hanya tersebyum lembut sambil sesekali mengelus kepala Layla saat mereka berhenti di lampu merah.


Segera, mereka tiba kembali di rumah.


Reaven turun dari mobil sambil menggebdong Layla. Tapi begitu dia berbalik, dia bertemu dengan mata Karen yang marah.


"Kau benar-benar berani kembali? Apa kau tahu seberapa besar kekacauan yang kau buat!? dasar sampah!" Karen mengutuk dan hampir menusuk wajah Reaven dengan jarinya.


Reaven mundur sedikit agar jari Karen tidak menyodok Layla yang sedang di gendongnya.


Berbeda dengan Tifa, ada ekspresi ngeri di wajahnya mengingat bagaimana Reaven menendang pria gendut berkacamata di TK tadi, dia buru-buru meraih jari Karen karena takut dia memprovokasi Reaven. "


"Bu, mari kita bicara di dalam aja yah.. Kita bicara baik-baik, oke?"


Tifa buru-buru masuk ke dalam rumah, mendorong Karen.

__ADS_1


"Bicara baik-baik matamu! ngapain bicara baik-baik sama sampah ini?! Dia sudah membuat kita hampir di usir! Kita baik-baik saja saat gak ada dia. Baru sebentar dia kembali, sudah banyak bikin masalah! kenapa gak mati saja di luar sana!!" suara Karen melengking.


Miya yang kebetulan pulang, melihat ibunya memarahi Reaven lagi, dia hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.


Layla akhirnya bisa bertemu ayahnya, jadi dia tidak senang mendengar ayahnya dimarahi. Dengan cemberut marah, dia berseru, "Ayah gak akan mati! Ayah itu hebatt!! Baru saja ada yang mahu mukul ila sama bibi Tifa, tetapi Ayah datang menolong kami!"


Terkejut dengan kata-katanya, Miya buru-buru bertanya, "Kenapa di sekolah tadi?"


Karen mendengar itu tidak mau repot-repot terus memarahi Reaven dan dengan cepat menanyakan apa yang terjadi.


Tifa memberi tahu mereka tentang semua yang terjadi di sekolah Layla, "Pasangan itu terlalu sombong. Gak cuma memfitnah kami, mereka juga gak ragu-ragu untuk memukul kami. Kalau bukan karena…" Dia terhenti dan berkeringat dingin, dia hampir mengucapkan 'Sampah ini' untuk menunjuk Reaven. "Kalau Reaven gak datang tepat waktu, aku sudah di tampar sama wanita gemuk itu!"


"Dan, berkat bantuan temannya, kami kembali dengan selamat." Tifa tidak berani menyinggung tentang perkataan Reaven yang di mobil.


Miya mengerutkan kening. "Sepertinya orang itu punya status lumayan, apalagi bisa manggil preman. Tinggal lah di rumah selama beberapa hari ke depan, takutnya mereka nyari kamu buat balas dendam."


"Tidak!!!" Tifa dan Karen teriak secara serempak.


Karen secara alami membenci Reaven, dan ingin segera mengusirnya. Di sisi lain, Tifa mengatakan 'tidak' karena dia takut pada Reaven.

__ADS_1


"Bu, bagaimana jika dia mengalami kecelakaan di luar sana?" Miya mulai kesal dengan Karen.


"Jika dia mati, biarlah. Lebih bagus lagi karena kamu bisa menikah dengan Ryan Muller itu" kata Karen acuh tak acuh.


"Ibu! Haruskah ibu memaksa ku seperti ini? Kalau ibu terus maksa, aku pindah, aku gak bisa tinggal disini" kata Miyadengan ekspresi tidak senang.


"Oke oke... Humph.! Kau benar-benar... Aku akan berhenti, oke?" Karen memelototi Miya dengan marah.


“Dia bisa tinggal, tapi kita tidak akan menanggung apa pun kebutuhannya. Dia harus membayar sewa bulanan sebesar seribu dollar tidak termasuk tagihan listrik dan pengeluaran harian!" Karen menuntut pembayaran dengan sengaja agar mempersulit Reaven.


Karen berfikir jika orang yang dianggapnya sampah ini tidak akan sanggup untuk membayar, dan dia bisa segera mengusirnya dengan alasan itu. Dia juga tidak akan disalahkan oleh Miya karena dia sudah baik mau menerima Reaven walaupun dengan syarat.


"Tentu..!" Reaven langsung setuju dengan ekspresi gembira.


Dia cuma perlu mengeluarkan seribu dollar, anggap saja dia menyewa rumah untuk tinggal dan menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya, itu harga yang murah.


Khawatir Karen akan berubah pikiran, dia segera menuju mobilnya dan mengambil sejumlah uang kertas dari tas di bawah jok belakang yang memang sengaja dia siapkan untuk keadaan darurat.


"Ada lima belas ribu di sini untuk sewa satu tahun dan keperluan lainnya. Aku akan menambahnya kalau kurang."

__ADS_1


Reaven menyerahkan uang uang itu pada Karen yang ternganga bingung dan menatapnya bergantian dengan uang yang ada di tangannya.


Sedangkan Reaven tidak perduli dengan reaksi Karen, dia langsung menggendong Layla dan mengajaknya bermain.


__ADS_2