
SRREEEKK!!!!!
Suara tajam sobekan kertas memenuhi udara, segera membuat semua orang menghentikan ejekan mereka, sesaat mereka memandang Reaven dalam keheningan dengan pandangan tidak percaya.
"apa yang...!??"
"haahh???"
"..........."
"Sampah itu berani untuk merobek ceknya!?"
"Dia merobek cek tiga puluh ribu dolar!"
"Apa dia sudah gila ?!"
"yap.. Dia gila!"
Muka Ryan menggelap.
Semua orang menyaksikan dengan tidak percaya ketika Reaven dengan lembut melemparkan potongan-potongan cek yang robek di depan meja.
"Ryan Muller, kamu hanya orang luar. Anda tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan kami!" nada Reaven dingin penuh ketidaksenangan.
"Kamu!!" Ryan yang menjadi marah reflek berdiri dan mengangkat telunjuknya di wajah Reaven. Tidak ada yang berani begitu sombong terhadapnya!
Robert dan Karen yang melihat Tuan muda Muller berdiri ikut berdiri.
Keluarga Archers sama geramnya dengan Ryan, serentak mereka dengan marah maju ke depan untuk mengepung Reaven, seolah-olah mereka akan memukulnya.
__ADS_1
Ceklekk!!!
Saat konflik semakin memanas, seseorang membuka pintu dan masuk.
"A-apa yang terjadi?" terdengar suara bingung seorang wanita.
Jantung Reaven berdebar-debar, dan tubuhnya menegang.
Dia tidak pernah bisa melupakan suara yang akrab itu, yang sudah tersimpan jauh dalam pikirannya.
Dia masih berdiri diam di tempat tanpa berbalik.
Dia telah membayangkan dan bahkan melatih adegan pertemuan dengan Miya berkali-kali di kepalanya. Kali ini, dia di sini khusus untuk melihatnya juga. Tetapi ketika dia mendengar suara lembutnya, Reaven tiba-tiba menyadari bahwa dia tidak tahu bagaimana dia harus menghadapinya.
"Apa yang harus ku katakan padanya?" pikirannya mencari cara.
Namun, Miya tidak begitu memperhatikan Reaven, yang punggungnya menghadap ke pintu.
Melihat Ryan Muller dirumahnya, alis Miya berkerut. Akhir-akhir ini, Ryan telah meyatakan cintanya dan melakukan segala macam cara untuk mendekatinya, hal itu membuatnya terganggu dan kesal. Baru saja, dia melihat mobil sport Ryan yang sangat mencolok diparkir di halaman rumahnya di dekat kendaraan kerabat-kerabatnya.
"Tuan Muller, kenapa anda di sini lagi? Saya sudah mengatakan bahwa saya tidak akan mempertimbangkannya" tegur Miya, tampak kesal.
“Perhatikan nada bicara mu dengan Ryan!”
Karen buru-buru menegur miya sebelum kata-katanya menyinggung Ryan, kemudian berkata lebih lanjut, "Untung kamu sudah kembali. Karena jam segini pengadilan masih buka, cepat bawa sampah ini untuk cerai!"
"Apa?"
Miya merasa bingung ketika gadis kecil di sampingnya melompat ke arah sosok didepan Ryan yang memunggunginya dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Ayah! Ayah, ayah pulang..betulkan ayah pulang.." gadis kecil itu memeluk paha Reaven.
"Ayah?" Karena bingung, Miya mengalihkan pandangannya ke sosok orang yang telah di peluk oleh anaknya itu.
Tinggi dan siluet yang familiar ini…
Dia tiba-tiba menutup mulut dengan kedua tangannya, menyadari dan mundur selangkah. Itu dia?
Reaven berjongkok, mengulurkan tangan, dan memeluk gadis kecil itu, yang sekali lagi dengan antusias memeluk pahanya. Dia mengamatinya dengan cermat.
Dia memiliki alis tipis, mata bersinar indah, dan bibir kecil tipis yang cantik, pipi yang berisi tapi tidak berlebihan. Dia sudah jelas cantik meskipun kecantikannya belum berkembang sepenuhnya.
Jadi anak ini adalah Archers.
Ternyata dia menganggapnya terasa familiar karena ciri-cirinya mirip dengan Mirip
Mungkinkah dia…? Saat dia memikirkan kemungkinan tertentu, jantungnya berdebar kencang.
Memeluk gadis kecil itu di pelukannya, dia tiba-tiba merasa sangat dekat dan sayang dengannya.
Dia kemudian menarik napas dalam-dalam, berbalik, dan melihat ke orang di depannya, yang telah dia pikirkan berkali-kali sepanjang waktu.
Rambut panjang Miya menutupi bahunya, dan dia mengenakan setelan bisnis abu-abu muda yang pas denganntubuhnya, ada raut keterkejutan dan kebingungan di seluruh wajahnya.
Mata indahnya tertuju pada orang di depannya.
******
Dia bukan lagi seorang mahsiswa yang baru lulus seperti delapn tahun lalu. Meski pria di depannya memiliki ciri yang sama, dia tidak lagi terlihat muda. Wajahnya telah berkembang di beberapa sisi, membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dan dapat diandalkan.
__ADS_1
Ekspresinya dengan cepat berubah dari syok menjadi tenang. Tapi di bawah ketenangannya, ada kemarahan yang muncul. Dadanya naik turun, dan kukunya menusuk daging telapak tangannya.
"Kamu...."