
"Kamu adalah ibunya, jadi tidak bisakah kamu melihat dia sakit?" Reaven bebicara dengan nada kesal dia menatap Karen dengan dingin. Dia melewati Karenberjalan menaiki tangga, dan membawa Miya ke kamarnya.
Tifa bergegas keluar kamar mendengar mereka, dan dia sangat terkejut saat melihat penampilan Miya. "Astaga Miya! apa yang terjadi padamu?! Kenapa sampai basah kuyub gini?"
"Kami cuma menyuruhmu pergi memohon pada kakekmu, kenapa jadi gini? apa Flint tetap mengusir kita?" Karen bergumam saat mengikuti mereka ke kamar.
"Lihat! Kalian menyuruh Miya untuk pergi memohon pada mereka! Kenapa kalian berdua tidak pergi sendiri!? Di luar itu hujan deras! Miya begini pasti karena kehujanan!!” Tifa jengkel.
"Kau ngomong apa? Dialah yang membuat kakekmu marah dan mengusir kita. Tentu saja, dia yang harus pergi memohon pada kakekmu. Tidak ada gunanya kami yang pergi" ucap Karen tidak merasa bersalah, dan itu justru membuat Tifa semakin marah.
"Cukup!" Reaven menyela mereka dengan kesal. “Hal terpenting sekarang adalah memandikan Miya dengan air panas dan ganti pakaian. Aku akan memanggil dokter.
__ADS_1
Dia berdiri dan menatap kedua wanita itu, membuat mereka merasa tertekan dan salah tingkah. "Dia sakit sekarang, jadi kuharap kalian berhenti berdebat, dan berhenti mengganggunya."
Dengan itu, Reaven keluar dari kamar.
Karen tercengang selama beberapa detik sebelum akhirnya bereaksi. Sampah ini benar-benar memberinya perintah di rumahnya sendiri. Dia bahkan sedikit takut dengan aura orang yang tidak berguna ini!
"Sialan! Siapa dia? Beraninya dia bicara seperti itu padaku?!” Karen bersungut jengkel.
"Oke, Bu, kalau ibu gak ada niat ngurus Miya, keluar saja dulu. Berhentilah mengganggunya, biar aku yang urus" kata Tifa kepada Karen dengan kesal saat dia membantu Miya berdiri. "Miya, panas mu tinggi, ayo mandi air hangat, biar ku bantu.." Tifa menuntun Miya ke kamar mandi.
Karen menatap Reaven dan dokter dengan kening berkerut, "Dari mana asal dokter ini? Apa kau nemu orang di jalan dan membawanya kesini?"
__ADS_1
Mendengar itu, dokter itu memelototi Karen dengan mencemooh. "Maaf, saya Andy Johnson, dokter spesialis paru dan penyakit dalam di Rumah Sakit Honest. Jika Anda ragu, Anda bisa pergi ke rumah sakit untuk memeriksanya. Tolong minggir sekarang dan jangan mengganggu saya saat saya memberikan perawatan kepada pasien."
"Spesialis? Omong kosong! Rumah Sakit Honest adalah rumah sakit kelas satu di Lemon County, dan dokter disana tidak menerima konsultasi di luar rumah sakit!apalagi Spesialis!" Karen berdiri didepan pintu kamar menghalangi mereka.
Tifa menarik Karen ke samping dengan marah dan memprotes, "Bu cukup, dia di sini untuk merawat Miya. Haruskah ibu terus bertingkah seperti ini? kenapa ibu gak buat sup hangat atau wedang untuk Miya, jangan bikin ribut disini!"
Sebenarnya Tifa sangat kesal dengan orangtuanya, meskipun ayahnya tidak terlalu menuntut ketika tahu keadaan Miya dan langsung masuk kekamarnya, tapi tetap saja, dia juga menyuruh Miya untuk keluar memohon pada kakeknya di tengah hujan deras.
Dan Miya akhirnya menderita memar besar di lututnya, yang diperhatikan Tifa saat dia membantunya. Kulitnya juga menjadi pucat, dia jelas telah berlutut di bawah hujan untuk waktu yang lama.
Tak perlu di ragukan, dia berlutut karena kakek mereka yang tidak berperasaan, yang mengendalikan seluruh keluarga!
__ADS_1
Tifa jengkel sekaligus sedih melihat saudara perempuannya.
Ditambah, orang tuanya tampaknya tidak peduli dengan itu semua. Mereka bahkan terus membahas yang tidak masuk akal. Sekarang, ibunya bahkan menghentikan dokter yang akan mengobati kakaknya. Ini membuatnya kehilangan kata-kata!