Suami Sampah!!! Reaven Crow : The Demon From East Border

Suami Sampah!!! Reaven Crow : The Demon From East Border
Bab 8


__ADS_3

Melihat para kerabatnya ikut membully Reaven, Karen tersenyum dengan angkuh.


Ayah Miya mengetuk meja dan berkata, "Aku akan jujur. Aku tidak akan membiarkan putriku menderita bersamamu! Apa yang bisa diberikan laki-laki yang gak punya uang seperti kamu padanya? Kalau kamu masih memiliki hati nurani dan metasa dirimu seorang pria, harusnya kamu sadar diri, pergi dari kehidupan Miya, biarkan dia bahagia, ceraikan dia, biarkan dia mendapatkan seseorang yang lebih baik dari kamu. Berhentilah membuang-buang waktu Miya dan menahannya!"


Reaven memejamkan mata dan tampak sangat tenang. Dia mengambil nafas sesaat.


"Jika Miya tidak ingin bersamaku lagi, dia bisa bilang padaku tentang perasaannya, dan aku akan menceraikannya tanpa berkata apa-apa. Tapi kalian tidak punya hak untuk mengatur kami" dia berkata tegas dan pelan, tapi kata-katanya bisa didengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu.


Seketika suasana menjadi hening untuk sesaat.


"Apa? Pecundang ini bilang kita tidak punya hak ?!"


"HA HA HA HA...."


Tepat pada saat mereka dapat memproses apa yang diucapkan Reaven, sesorang dari mereka berbicara dan di sahut yang lain dengan tertawa terbahak-bahak.


Pemuda yang di panggil Tuan muda Muller yang duduk di sebelah Karen mengangkat satu tangannya.


"Ssstt.. Tuan Muller sepertinya akan mengatakan sesuatu, silahkan tuan" ucap seseorang yang melihat kode dari pemuda tersebut.

__ADS_1


Ryan Muller duduk sengan bersandar di sofa, mengutak-atik jam tangan Patek Philippe dan cincin besarnya sambil menilai Reaven.


"Kamu sangat percaya diri ya? Apa yang telah kau lakukan beberapa tahun terakhir ini?"


Reaven berkata dengan acuh tak acuh, "Aku baru saja selesai dari tugas milter."


"Apa pangkat terakhirmu? gabung di kesatuan mana?" Ryan kembali melemparkan pertanyaan.


"itu bukan urusan mu" Reaven menjawab masih dengan acuh tak acuh.


Mendengar jawaban acuh Reaven, Karen yang memang benci dengannya menyahut.


Mendengar itu alis Reaven sedikit berkerut, mulutnya sedikit berkedut karena menahan rasa tidak senang. Di masa lalu, jika ada yang berbicara kasar atau menghina anggotanya, orang itu akan langsung hilang.


Dia menghela nafas untuk meredakan emosinya, dan mengingatkan dirinya, bahwa yang didepannya adalah orang tua istrinya.


Melihat itu Ryan terkekeh lagi dan menepuk pahanya dan mengusapnya perlahan.


"Aku sarankan kamu tidak memaksa ku untuk berurusan dengan mu menggunakan cara yang kasar. Miya yang merupakan kebanggan Lemon County bukanlah seseorang yang pantas bersanding dengan orang rendahan seperti mu. Bahkan orang bodoh pun tahu mengapa Anda bergantung pada keluarga Archers."

__ADS_1


Dia mengeluarkan cek dari saku jasnya.


"Ini cek sebesar tiga puluh ribu dollar. Itu cukup untuk biaya hidupmu beberapa tahun. Jadilah pintar, ambil, dan pergilah, jangan sampai kamu tidak mendapatkan apa-apa pada akhirnya" dia menaruh cek itu dimeja, walaupun terdengar santai, ada nada ancaman dalam ucapan Ryan.


Bagi Ryan yang merupakan keturunan keluarga kaya, dia menganggap remeh orang-orang kecil, menurutnya semua masalah bisa di selesaikan dengan uang jika menyangkut orang kecil.


Dia sama sekali tidak menganggap Reaven, karena dari penampilan dan cerita yang dia dengar tentang Reaven, dia bukan lah siapa-siapa.


Ryan juga yakin kalau pangkat Reaven tidak terlalu tinggi, bahkan bisa di bilang rendah, karena mereka seumuran dan Reaven sudah selesai atau keluar dari ketentaraan.


Dengan pikiran itu dia hanya menatap remeh kearah pemuda yang ada didepannya.


Reaven mengulurkan tangan untuk mengambil cek dan memperhatikannya sementara yang lain memandang dengan jijik.


“Memang, dia hanya ingin uang!”


“Pecundang adalah pecundang. dia mungkin tidak pernah punya banyak uang sepanjang hidupnya, ya ?! ”


"baru sebentar Tuan muda Muller meletakkan cek itu dan sampah ini langsung mengambil uangnya. Ckckck"

__ADS_1


SRRREEEEKKK!!!!


__ADS_2