Suami Sampah!!! Reaven Crow : The Demon From East Border

Suami Sampah!!! Reaven Crow : The Demon From East Border
Bab 29


__ADS_3

Karen marah karena kehidupannya ikut terlibat.


"Sampah itu pasti kutukan untuk keluarga kita! Kenapa di begitu tak tahu malu!? Kalau dia mau mati, harusnya pergi mati sendiri, jangan bawa-bawa keluarga ini!! Gak, gak, gak bisa dibiarin!!! Kasih tau kakak mu biar cepat dan segera ceraikan sampah itu!! Biar kakekmu g nyalahin kita! Cepat, telepon kakak mu! suruh dia pulang cepat!"


Karen mendorong Tifa saat panik sementara Tifa menginjakkan kakinya ke lantai dengan keras dan berkata, "Ibu, percuma... Kakek bilang Miya dan pecundang itu mengambil tugas itu berdua, jadi mereka harus menyelesaikannya berdua juga. Kalau gak, kita gak di maafkan!"


Karen sangat marah sehingga dia menghentak-hentakkan kakinya dan mengutuk Reaven dengan segala macam nama dari kebun binatang. Setelah dia selesai, dia mulai mengata-ngatain Miya.


Mendengar bahwa mereka akan diusir dari keluarga Archers, Robert tidak lagi berminat untuk terus membaca koran, karena hatinya merasa berat.


Parahnya lagi, jeritan dan makian Karen membuatnya semakin frustrasi dan kesal, jadi dia berteriak, "Stop!! Kuping ku mau pecah dengar teriakanmu! Astagaa!! Berisik sekali!!"


"Berani-beraninya kau galak padaku!?" Karen membalas dengan suara yang lebih keras setelah dikejutkan oleh kemarahan Robert.


"Ini semua juga masih salahmu! Kalau saja kau adalah anak kandung Flint, dia tidak akan mengusir kita begitu saja! Kau juga gak guna di rumah ini! Yang kau lakukan cuma bisa membentak dan gak bisa apa-apa! Ngomong sama ayah mu sana kalau kau memang ada gunanya!!! Aku sangat sial menikahi pecundang sepertimu, kalau kita benar-benar diusir, apa yang harus kita lakukan?! Pikirkan itu!?" Karen mulai meneriaki Robert lagi.


Wajah Robert yang di bentak balik oleh Karen menjadi merah, untuk menghindari keributan dia begegas ke kamar mandi mengacuhkan Karen yang masih berisik dengan omelannya.


Tifa yang melihat kedua orang tuanya bertengkar juga sangat frustrasi dan berpikir, aku tidak bisa tinggal di rumah ini lebih lama lagi.


Dia mendorong pintu depan dan pergi ke sekolah Layla untuk menjemputnya.

__ADS_1


******


Tiba tiba di pintu masuk sekolah Taman Kanak-kanak Sensa.


Di sepanjang jalan tadi, di dalam mobil sport yang bergaya dan mewah, Tifa sedikit memperhatikan tatapan iri orang yang di lewatinya, meningkatkan suasana hatinya dengan sangat baik.


Sekarang adalah jam pulang sekolah. Tifa menunggu lama di pagar pintu masuk, tetapi dia tidak melihat Layla, jadi dia masuk.


Tifa melihat Layla di depan perosotan dan hendak memanggilnya ketika dia mendengar suara anak laki-laki.


"Kau adalah anak haram yang tidak diinginkan siapa pun! Huuee!"


Ada seorang anak laki-laki di seberang Layla, menjulurkan lidahnya dan menyeringai padanya.


"Huu, ibuku bilang ayahmu pemerkosa yang tidak berguna yang akan ditangkap polisi. wew wew! Dia akan ditembak mati! Kau juga pemerkosa kecil, jadi Kau juga harus ditembak! Neee nee week!" Bocah kecil itu mengulurkan jari telunjuknya dan membuat tanda seperti senjata dan bergegas maju untuk menyodok Layla.


"Berhentii!" Tifa berteriak saat dia dengan panik bergegas dan menarik Layla ke belakangnya.


Ketika anak kecil itu melihat Tifa, dia berbalik untuk melarikan diri, tapi tersandung kakinya sendiri dan jatuh ke tanah.


Anak laki-laki itu meratap dan menangis keras.

__ADS_1


Ketika Layla melihat Tifa, dia berjongkok dan memeluknya erat-erat dan juga menangis dengan keras.


"Bi... Bibi.., aku punya ayah. Ayahku kembali. Dia orang baik… ayah tidak seperti yang dia katakan kan??"


Tifa berkaca-kaca saat mendengar Layla menangis di pelukannya.


"Ya, Layla, jadilah anak yang baik. Ayahmu sudah kembali, dan mereka tidak akan berani mengganggumu lagi." Dia dengan lembut menepuk punggung Layla dan menghiburnya.


Walaupun Tifa tidak suka dengan Reaven, dia juga tidak sejahat itu untuk menjelek-jelekkan Reaven langsung didepan Layla.


"Sayang.! kamu kenapa, sayang?" Mendengar tangisan bocah itu, sepasang suami istri segera bergegas datang dan membantu bocah yang menangis itu.


"Mommy, dia memukulku!" Setelah melihat orang tuanya, bocah lelaki itu menunjuk ke arah Tifa dan menangis semakin keras.


Pasangan itu segera memelototi Tifa dengan bermusuhan. "Kamu sudah dewasa, tapi kau memukul anak kecil? Apa kau gak punya malu?"


Setelah di fitnah seperti itu, Tifa langsung marah. "Putramu yang ngejek keponakanku! Begitu ku datangi, dia lari ketakutan dan tersandung sendiri. Sejak kapan aku memukulnya?"


Wanita gemuk berusia tiga puluhan jelas tidak mau mendengar kata-kata Tifa. Dia mendongak dan bergegas ke Tifa. "Dasar gak tahu malu memukul anak kecil! Dasar cewek nakal, coba pukul dia lagi di depanku!" Dia mengangkat tangan dan hendak menampar Tifa.


Tifa tercengang. Dia mengenakan stiletto heels dan sedang berjongkok sambil memeluk layla, jadi dia tidak bisa mengelak sama sekali!

__ADS_1


Melihat tangan gemuk itu mengarah padanya, Tifa memejamkan mata dan mengencangkan tubuhnya sekaligus melindungi Layla.


PAKK!!!


__ADS_2