
"Pergi!" Reaven berucap dengan dingin, dia tidak teriak tapi suaranya sampai pada semua orang yang ada di sekitar.
Jantung semua petugas keamanan berdebar-debar, dan mereka bergegas pergi dengan cemas.
Seseorang membantu Brandon. Brandon memegangi pergelangan tangannya yang patah dengan tangan satunya, dan kepalanya berkeringat dingin. Dengan tatapan sinis, dia mengancam, "Aku tidak akan melepaskanmu! Tunggu saja brengsek!"
Mereka pergi dengan mobil mereka.
Rambut dan pakaian Karen berantakan setelah diseret selama beberap saat barusan. Dia secara acak menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Dan mengabaikan putrinya, yang telah dianiaya, dia segera berlari ke arah Reaven.
"Siapa yang menyuruhmu memukul Brandon!? Dia adalah cucu berharga Flint. Sekarang, Flint pasti gak akan melepaskan kita. Kau sampah gak guna, semua yang kau lakukan adalah menyebabkan masalah di mana-mana! Jika bukan karena kau, kami gak akan diusir oleh sama mereka! Itu semua salahmu, dasar sialan! pergi!" Karen mengulurkan tangan dan hendak menampar Reaven.
"Ibu!" Tifa buru-buru menahanbtangannya dan menghentikannya. "kenapa ibu gak marah seperti ini tadi pas Brandon menjambak rambut Cheyenne dan kasar padanya? kalau Reaven gak datang dan mengusir Brandon, kita gak tahu apa yang akan terjadi sama Miya!"
"Apa menurutmu kakekmu akan melepaskan kita setelah dia memukuli Brandon?" Karen bertanya.
__ADS_1
"Yang ibu lakukan cuma khawatir disalahkan oleh Kakek. Apa Kakek melepaskan kita hanya karena Reaven tidak memukul Brandon!?" Mendengar pertanyaan Karen, Tifa menjadi marah.
"Sebelum Reaven datang, kita sudah diintimidasi! Apa kau ingin kami berlutut di depan Brandon dan memohon maaf padanya agar Kakek tidak menyalahkan kami?!"
"Kamu ini masih kecil, jadi tahu apa? Brandon dan kakekmu gak boleh di provokasi. Kalau gak, keluarga kita akan diusir!" Karen tak mau kalah bedebat dengan Tifa.
"Kalau kita diusir, biarlah! Siapa yang mau tinggal sama mereka dan diintimidasi setiap hari?! Miya dan aku bisa bekerja untuk mendapatkan uang untuk menafkahi kalian!" Tifasangat muak dengan kelakuan Brabdon dan keluarga Archers yang lainnya, yang selalu menindas mereka.
Mata Miya sayu, dan dia sangat kelelahan, jadi dia tidak bisa menahan badannya, dia sempoyongan
Miya menatap Reaven dengan tatapan lemah. "Aku cape, bisakah aku mengandalkan mu dengan apa yang kamu pernah bilang?"
Reaven mengangguk dan berkata dengan tatapan lembut namun tajam, "Ya, aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu mu lagi, dan akan memberikan apa yang kamu mau"
Miya memejamkan mata, dan air mata mulai mengalir di pipinya. Melihat air matanya, Reaven merasa sakit hati. Ketika dia memikirkan tentang bagaimana keluarga Archers menindasnya, ekspresinya menjadi dingin.
__ADS_1
"Tunggu aku" Reaven berbisik lembut dan menatap Miya dalam-dalam kemudian berbalik untuk pergi.
Setelah ‘menguliahi’ Tifa, Karen melihat Reaven berjalan keluar, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencela. "Tuh kau lihat tuh! Dia orang pertama yang melarikan diri setelah dia membuat kita dalam masalah karena dia tahu kita telah menyinggung kakekmu dan yang lainnya! Tapi kamu masih percaya padanya. Kalian bodoh!"
"Kita baik-baik aja sebelum ini, dan Miya akan mendiskusikan pernikahan dengan Ryan Muller tapi dia tiba-tiba datang dan menyebabkan masalah besar! Sekarang kita akan diusir dan dia gak akan dapat keuntungan lagi, dia segera pergi untuk melarikan diri! Bagaimana kalian bisa percaya orang seperti itu? Sebelumnya, dia hilang selama delapan tahun. Berapa lama dia bakal menghilang sekarang?" tanya Karen sinis pada dua putrinya.
Tifa hanya diam, tidak bisa menyanggah ucapan Karen.
"Miya, ikuti nasehat ibumu ini. Ceraikan dia dan nikahi pria yang lebih baik!"
Kata-kata Karen seperti belati yang menusuk ke dalam hati Miya.
Dia berjanji akan kembali. Tapi.. Apa dia benar-benar akan kembali? pikiran Miya berkecamuk antara ingin percaya pada Reaven dan kata-kata dari Karen.
CTAARR!!!
__ADS_1
Petir bergemuruh memekakkan telinga di langit yang penuh awan suram. Hujan deras mulai turun.