Suami Yang Tertukar

Suami Yang Tertukar
Awal Kebenaran


__ADS_3

Antara ada dan tiada


Merasa tak ada dalam hati mu


Sementara aku di samping mu


Haruskah ku terima rasa sakit ini


Cinta sepihak yang ku rasa


Kasih yang tak pernah terbalas


Ingin rasanya ku akhiri segalanya


Ingin ku menyerah akan cinta ini


Jangan lupa like dan komen ya...biar author makin semangat berkarya makasih🙏☺️


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


" Kenapa keadaan Aldi menjadi begitu buruk? Kemaren malam ia terlihat baik-baik saja dan seperti apa gadis yang bernama Serly? Kenapa ia begitu penting dalam kehidupan Aldo? Kenapa aku jadi merasa tak nyaman begini?" Aira merasa gelisah dalam hatinya.


" Oh ya...aku hampir saja lupa, Aldo kan gila kebersihan! Bagaimana jika ia merasa tak tahan dan mandi sendiri, bisa-bisa lukanya akan terbuka lagi! Aku lebih baik meminta bantuan pada pak Burhan saja agar membantunya mandi! Tapi dia berkali-kali mencoba menyakiti ku, jika dia ingin wanita...di luaran sana kan banyak! Terutama para gadis dalam keluarga Sanjaya, mereka semua tergila-gila padanya....sudahlah biarkan saja, bukan urusan ku!" Aira berargumen dengan hatinya sendiri.


Aira merasa malas dan bosan karena tak ada yang bisa ia kerjakan. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tengah, saat ia ingin naik ke lantai atas. Aldo tengah berjalan menuruni tangga, ia terlihat begitu menawan.


..." Kenapa ia berpenampilan begitu? Ini kan sudah larut malam, mau kemana dia?" Aira bicara dalam hati sambil memperhatikan Aldo yang berpakaian rapi....


" Kamu...." Aira tak melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Jika aku memperhatikannya hanya akan membuat ku tersiksa lagi, lebih baik aku tak memperdulikan dia!" Aira bicara dalam hati.


" Aku sudah menaruh orang-orang ku untuk berjaga di luar rumah keluarga Pangestu! Kau tak perlu khawatir, tak akan ada lagi kejadian seperti kemaren! Di sini aman!" Aldo berbicara sambil berlalu pergi meninggalkan Aira.


"Apa dia sedang menenangkan ku? Padahal tadi ia masih berbuat semena-mena terhadap ku, kenapa sekarang bersikap begini? Sebenarnya aku sedang marah karena hal yang terjadi tadi, atau aku sedang mengkhawatirkan dirinya yang mau keluar dalam keadaan terluka ...sebenarnya ada apa sih dengan ku, aku jadi nggak ngerti dengan diri ku sendiri" Aira memegangi dadanya sambil menatap punggung Aldo yang semakin menjauh hingga tak terlihat lagi.


"Byurrr"


"Byurrr"


Suara ombak menghantam karang di lautan terdengar begitu jelas di tengah gelapnya malam. Seorang pria berlari ketakutan hingga ia terjebak di ujung karang yang curam dengan lautan yang begitu dalam. Ia sudah terpojok tak berkutik, ia tak bisa menghindari para orang-orang yang mengejarnya.


"Tuan, Serly terlihat bersama dengan bocah ini sebelum insiden itu terjadi!" Salah seorang dari mereka melapor pada Aldo.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Serly?" Aldo berjalan maju mendekati pria yang sudah ketakutan setengah mati itu, semua orang menyingkir memberi jalan pada Aldo.


Aldo yang terlihat begitu marah memberikan aba-aba pada bawahannya untuk memberi pelajaran pada pria itu. Melihat tatapan matanya yang terlihat bengis, pria itu menelan ludah sambil gemetar ketakutan.


..."Tunggu.... tunggu! Aku akan bicara .... aku akan bicara...Dia..dia tidak mati, di ..dia memalsukan kematiannya, dia masih hidup!" Akhirnya demi ingin tetap hidup pria itu terpaksa buka mulut....


Aldo yang mendengar pengakuan pria itu mengepalkan tangannya erat. Ia nampak begitu emosi, seseorang yang dianggap baik dan sangat di cintai kakaknya adalah seorang wanita licik. Aldo menyuruh bawahannya membawa pria itu ke tempat rahasia mereka. Sebelum mereka menemukan Serly, pria itu akan menjadi tawanan mereka.


Aldo pulang dengan banyak beban pikiran. Rasanya banyak sekali keanehan dan kejanggalan pasca kecelakaan mobil yang dulu ia alami bersama dengan kakaknya.


"Terimakasih atas kerja kerasnya dokter, selamat jalan!" Burhan, Lina dan Aira bergantian menyalami dokter yang bertugas merawat Aldi.


"Itu sudah menjadi tugas ku untuk merawat tuan Aldi dengan baik! Saya permisi.." Dokter bergegas meninggalkan rumah keluarga Pangestu.


Saat dokter keluar, Aldo telah sampai di rumah. Tubuhnya penuh dengan darah, lukanya terbuka lagi bahkan menjadi semakin parah. Semua orang yang melihat kedatangan Aldo yang penuh dengan darah menjadi panik dan khawatir.

__ADS_1


"Tuan, kenapa tubuh anda dipenuhi dengan darah. Apa luka mu terbuka lagi?" Burhan dan Lina serempak bertanya pada Aldo.


"Kenapa ia tidak menyayangi tubuhnya sendiri sih! Dia itu pria dewasa, bukan anak kecil lagi! Dasar, nggak bisa jaga diri.." Aira mengomel dalam hati sambil memperhatikan Aldo dari kejauhan.


"Aku tak apa-apa! Aira, ikut aku ke atas! Bantu aku mandi dan mengobati luka ku!" Aldo melepas jas yang ia gunakan sambil berjalan menaiki tangga menuju lantai atas.


"Whatt...membantu ia mandi! Apa dia sudah gila, aku ini istri kakaknya bukan istrinya! Mana ada kakak ipar membantu mandi adik iparnya..." Aira berteriak dalam hati merasa tak terima dengan sikap Aldo, tapi ia tak mungkin berteriak pada Aldo saat ini.


"Baiklah tuan, akan saya buatkan makan malam untuk mu!" Lina segera pergi ke dapur.


Aldo sudah berada di kamar lantai atas, ia menunggu Aira datang untuk membantunya. Lina yang berada di dapur merasa heran dengan Aira yang masih berdiri mematung di tempatnya. Lina bergegas mendekati Aira sebelum Aldo marah karena terlalu lama menunggu.


"Nyonya, kenapa masih disini? Luka tuan Aldo terlihat semakin parah, darah yang keluar begitu banyak! Cepatlah obati dia, itu pasti sangat sakit...saya mohon nyonya!" Lina memelas pada Aira.


"Benar juga, luka itu ia dapatkan karena menyelamatkan ku! Aku nggak mungkin diam aja huft...." Aira masih berfikir.


"A....aku akan meminta Burhan untuk membantunya mandi dan mengobati lukanya!" Aira bergegas berjalan menuju ruangan yang digunakan Burhan untuk bekerja


"Ta...tapi nyonya..." Belum sempat Lina mencegahnya, Aira sudah pergi ke ruangan Burhan.


"Pak Burhan, tolong bantu Aldo untuk mandi!" Aira menatap Burhan yang tengah melihat banyak berkas-berkas di mejanya.


"Maaf nyonya, aku harus menghitung dan mempersiapkan gaji para pegawai!" Burhan menunjuk mejanya.


"Tapi luka Aldo terbuka lagi dan terlihat semakin parah, tak bisakah kau membantunya!" Aira memasang wajah sendu agar Burhan merasa kasihan padanya.


"Maaf nyonya, tanpa perintah dari tuan mana mungkin aku berani menggantikan mu! Tuan sendiri yang ingin kau untuk melakukannya, aku mana berani! Bertahanlah nyonya, semangat...!" Burhan bicara dalam hati.


"Maaf nyonya, aku benar-benar tidak bisa, pekerjaan ku sangat banyak! Aku benar-benar sangat sibuk...lebih baik nyonya cepat-cepat membantu tuan, jika terlalu lama lukanya bisa semakin parah dan meradang!" Burhan mencoba menakuti Aira agar cepat membantu Aldo.

__ADS_1


__ADS_2