
"Menurut ku, tuan Aldi memberikan Grup Pangestu pada Baskoro karena ingin melindungi mu! Jika ia memberikan grup Pangestu pada Baskoro, maka Baskoro akan membiarkan mu hidup dan tak akan berbuat macam-macam lagi pada mu!" Burhan juga terlihat begitu emosional.
Aldo benar-benar tidak menyangka bahwa kakaknya akan berbuat sejauh ini demi melindungi dirinya. Kini setelah mengetahui semuanya, Aldo tak akan membiarkan apa yang sebenarnya menjadi milik Aldi direbut oleh Baskoro. Apapun yang terjadi, Aldo akan mempertahankan segalanya.
"Sial.." Burhan benar-benar kecewa juga bingung.
"Selama aku masih hidup, jangan harap dia bisa mendapatkan segalanya!" Aldo terlihat begitu marah dan menakutkan.
"Tapi tuan Aldi adalah pewaris yang sah! Hanya dia yang berhak atas warisan keluarga Pangestu, dan bahkan hanya dia yang bisa memutuskan siapa kandidat yang akan mewarisi grup Pangestu!" Burhan terlihat gusar.
"Bagaimana menurut mu jika kakak ku tahu bahwa Serly masih hidup? Apa dia masih akan terpuruk seperti ini!" Aldo menyeringai.
"Apa! Nona Serly masih hidup? Kau tahu dari mana tuan? Apakah sumbernya bisa dipercaya?" Burhan begitu terkejut dengan pernyataan yang di ungkapkan oleh Aldo.
"Seharusnya sih bisa dipercaya! Hanya saja wanita itu sedang bersembunyi dari sesuatu dan bahkan dia sangat lihai dalam bersembunyi! Ini akan sedikit sulit untuk menemukan dia!" Aldo terlihat sedikit berpikir mengenai hal ini.
"Jika nona Serly benar-benar masih hidup, ini berita yang bagus.... tapi juga merupakan berita buruk!" Burhan terlihat khawatir.
"Kenapa begitu?" Aldo menoleh ke arah Burhan yang terlihat khawatir.
"Kau pasti tahu bahwa tuan Aldo sangat mencintai nona Serly, jika dia tahu nona Serly masih hidup... dia pasti sangat bahagia! Tapi bagaimana dimasa mendatang? Tuan Aldi pasti akan merasa rendah diri dengan keadaannya sekarang, ingin mencintai tapi tak bisa! Hal itu juga akan lebih menyakitkan untuknya!" Burhan mengepalkan tangannya.
"Memangnya kenapa? Ada aku di sini! Jika sampai terjadi sesuatu, aku bisa mengikat wanita itu dan melemparnya ke ranjang kakak ku!" Wajah buas Aldo mulai terlihat, ia mengepalkan erat tangannya.
...Melihat tekad Aldo yang begitu besar membuat Burhan merasa senang. Mungkin jika Aldi bisa memiliki sikap seperti Aldo, itu akan lebih baik. Ia tak akan terpuruk seperti saat ini....
"Apa ini? Memang benar, jika tak ada pengalaman apapun.. semuanya hanya terlihat seperti tulisan belaka! Aku tak mengerti!" Di kamar Aira membaca File dalam laptop. Ia mengacak rambutnya karena tak mengerti satupun hal di sana.
Saat Aira benar-benar fokus pada apa yang ia lihat di laptop, tiba-tiba Aldo masuk tanpa ia sadari. Ia menaruh begitu banyak berkas-berkas di atas meja di depan Aira. Aira menoleh heran sejak kapan Aldo berada di sampingnya.
"Brak"
Satu tumpuk berkas berada di samping Aira di atas meja.
"Ini adalah dokumen-dokumen grup Pangestu, kau harus membaca dan memahami semua malam ini juga! Besok kau harus menemani kakak ku pergi ke rapat pemegang saham!" Aldo melipat kedua tangannya di dada sambil menatap serius pada Aira.
__ADS_1
"Kamu tidak menemani kakak mu pergi?" Aira merasa minder dengan kemampuannya sendiri.
Saat membuka dokumen, Aira benar-benar merasa tak akan bisa memahaminya. Ia takut akan membuat kesalahan yang fatal.
..." Bukankah kau selalu ingin bertemu dan bersama kakak ku? Sekarang aku udah ngasih kesempatan buat mu bersamanya!" Aldo menyeringai....
"Tapi rapat pemegang saham adalah sesuatu yang besar! Kakak mu membutuhkan mu... aku mana bisa... dokumen ini aja aku nggak ngerti!" Aira terlihat begitu panik dan takut.
..."Hem, kakak yang butuh aku... atau kamu yang butuh aku di sisi mu?" Aldo mulai menjahili Aira....
"Tentu saja kakak mu! Kau adiknya dan kau harus membantunya!" Wajah Aira mulai bersemu merah karena malu.
"Huh, sayangnya aku hanyalah anak haram yang tak di sukai dan juga tak di anggap di keluarga Pangestu! Sejak aku lahir, aku sudah dikecualikan dari hak ahli waris!" Aldo terlihat suram dan menakutkan.
Dari kata-kata Aldo begitu terasa hal yang menyakitkan hati. Aldo tak pernah peduli dengan warisan keluarga Pangestu, tapi ketidakpeduliannya bukan berarti ia setuju jika warisan keluarga Pangestu jatuh ke tangan Baskoro.
"Al, kamu juga pergi ya! Anggap aja buat bantuin kakak mu! Aku benar-benar takut nggak bisa bantu dia apa-apa dan mungkin bisa menambah masalah buatnya!" Aira benar-benar ragu akan hal ini.
"Mau aku pergi bersama mu boleh saja, tapi... malam ini biarkan aku tidur di kamar mu.." Aldo tersenyum penuh arti.
Meski Aira tak meminta pun, Aldo tetap akan pergi ke rapat pemegang saham. Namun Aldo pergi dengan cara yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
Seorang Aldo, jika dihadapkan dengan Aira pasti akan berbuat ulah. Bagi Aira, Aldo adalah orang yang tak tahu malu. Membuatnya marah dan juga kadang salah tingkah.
" Hahaha... jika malam ini aku nggak sibuk, tinggal disini dan menjahilinya adalah hal yang menarik!" Aldo tertawa, merasa tingkah Aira benar-benar lucu dan menggemaskan.
Aira membaca semua dokumen yang diberikan Aldo hingga subuh dan baru tertidur. Alarm handphone miliknya terus berbunyi. Aira masih sangat mengantuk, ia meraih handphone miliknya untuk melihat jam berapa saat ini. Alangkah terkejutnya Aira karena saat ini sudah pukul delapan lebih tiga puluh menit.
"Aaaaaaa... aku terlambat!" Aira bergegas berlari ke kamar mandi, ia berberes dengan kecepatan yang ia bisa.
Saat berlari keluar, ternyata Aldi sudah selesai sarapan. Semua orang terpana melihat Aira memakai baju kantoran. Ia terlihat cantik dan juga elegan.
"Maaf, aku telat bangun!" Aira mendekati Aldi.
"Apa aku sudah membuat mu menunggu lama?" Aira menggenggam tangan Aldi dengan lembut.
__ADS_1
.Sebelum kecelakaan itu terjadi, Aldi adalah seorang pria yang tampan.
"Aldi, apa kau merasa lebih baik akhir-akhir ini? Aku mencemaskan mu?" Aira menatap lembut Aldi.
"Sudah ku bilang, panggil aku suami ku!" Aldo benar-benar tak suka Aira memanggil nama Aldi dengan lembut didepannya. Ia benar-benar merasa kesal.
"Tuan saatnya berangkat, mari!" Burhan mendorong kursi roda ke dalam mobil.
"Nyonya, sudah waktunya berangkat!" Lina mengingatkan Aira yang terlihat masih celingukan mencari sesuatu.
"Suami ku, apa kita tak menunggu Aldo dulu?" Aira masih saja celingukan melihat ke dalam rumah.
"Tidak perlu, ayo pergi sekarang!" Aldi menggenggam urat tangan Aira.
Aldo senang karena pagi ini Aira begitu penurut. Meski kulit palsu yang ia Akai saat ini terasa panas dan gatal, tapi itu tak masalah. Semua tergantikan dengan sikap lembut Aira padanya. Meski sebenarnya sikap itu ditunjukkan untuk Aldi bukan dirinya, namun saat ini ia sedang berperan sebagai Aldi. Dia akan menikmati semuanya termasuk reaksi yang akan ditunjukkan Baskoro nantinya.
π π π π π π π π π π π π π π π π
Melewati hari tanpa siapapun
Berjalan menapaki tebing
Terjatuh dan tersakiti berkali-kali
Membuat ku menjadi sosok tangguh
Seorang yang tak akan bergantung
Seorang yang tak butuh siapapun
Hati ini telah mati
Rasa ini telah pergi
Bersama hancurnya harapan yang telah berlalu
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
jangan lupa like π dan komen ya βΊοΈπ