Suami Yang Tertukar

Suami Yang Tertukar
Rasa yang berbeda


__ADS_3

Aldo terus saja memperhatikan gerak gerik Dona, terlihat jelas tatapan matanya pada Aira mengisyaratkan kebencian dan dendam yang begitu dalam. Aldo yakin, makan malam besok pasti akan ada drama yang akan dimainkan oleh keluarga Sanjaya. Aira pasti akan menjadi sasaran kemarahan mereka.


Aira masih saja tak menyadari jika dirinya sedang diperhatikan. Gadis polos itu tak menyadari bahwa dirinya tengah terancam besok malam.


Sepertinya Aldo harus bersiap-siap untuk besok malam, bagaimanapun juga ia harus melindungi istri kecilnya itu. Tak berselang lama Dona pergi sambil menghentakkan kakinya penuh dengan emosi. Ia pergi dari rumah keluarga Pangestu, ia tidak pulang melainkan pergi ke club malam. Dona butuh sesuatu untuk menghilangkan amarahnya.


Setelah Miko menghabiskan kuenya, Aira bergegas masuk kedalam rumah. Ia terkejut karena Aldo masih berada diruang tamu. Saat Aira hampir melewatinya, ia tertarik dengan apa yang di minum oleh Aldo.


"Ugh, sepertinya perut ku udah terlalu kenyang! Apa kau mau meminum jus ini menggantikan ku?" Aldo tersenyum ke arah Aira.


"Jus strawberry... minuman kesukaan ku! Aku minum.. aku minum..!!" Aira yang sedari tadi sudah berbinar matanya saat melihat jus strawberry langsung menyahut gelas yang diberikan oleh Aldo.


Aira meminumnya hingga habis, ia benar-benar merasa puas karena minum jus strawberry kesukaannya. Saat Aira menoleh ke arah meja, tatapan matanya terpaku pada segelas penuh jus strawberry di atas meja. Sepertinya Aira sudah dipermainkan lagi oleh Aldo.


Jelas-jelas Lina sudah membuat dua gelas jus strawberry untuknya dan Aldo, tapi ia justru diberikan gelas jus strawberry yang sudah diminum Aldo. Bukankah itu berarti secara tidak langsung mereka berciuman. Aira menoleh ke arah Aldo, namun Aldo hanya tersenyum penuh kemenangan.


Aira yang kesal tapi tak bisa melakukan apa-apa memilih pergi ke kamar tamu. Ia memilih tidur di kamar tamu karena Aldo sering masuk ke kamar miliknya di lantai atas. Ia ingin menghindari pria itu, bagaimanapun juga ia adalah istri dari kakaknya.


Aira mulai merasakan sakit diperutnya karena tadi minum jus strawberry yang dingin. Saat haid Aira selalu merasakan sakit perut. Aira membaringkan tubuhnya, ia mencoba tidur agar melupakan rasa sakit diperutnya.


"Ugh... benar-benar sakit!! Sepertinya iman ku terlalu dangkal hingga lihat jus strawberry aja udah lupa daratan! lebih baik aku tidur biar rasa sakitnya sedikit berkurang!" Aira mencoba memejamkan matanya.


Setelah beberapa menit, Aira tertidur pulas. Ia bermimpi melihat seseorang menaiki kuda putih seperti seorang pangeran. Aira merasa familiar dengan pria itu, namun saat Aira ingin melihat jelas wajahnya. Samar-samar pria itu menghilang.


"Ugh, mimpi yang aneh! Hoam..." Aira menguap karena masih mengantuk.


"Sepertinya rasa sakit diperut ku sudah menghilang, rasanya lumayan hangat! Eh... tangan siapa ini? Ini bukan tangan Aldi karena tidak ada bekas luka bakar sama sekali!" Aira mencoba menoleh ke belakang, mencoba melihat seseorang yang kini tengah memeluknya dengan erat.


Aira begitu terkejut karena Aldo tertidur pulas sambil memeluknya, padahal Aira pindah ke ruang tamu karena ingin menjauh darinya tapi sepertinya percuma saja. Aira berusaha melepaskan diri dari tang Aldo yang melingkar di perutnya. Setelah begitu lama akhirnya Aira bisa lepas juga, ia bergegas bangun dan berlari keluar kamar.


"Nyonya.. selamat pagi! Tunggu sebentar, biar ku buatkan teh jahe untuk mu!" Lina yang melihat Aira keluar dari kamar bergegas membuatkan secangkir teh jahe untuk Aira.

__ADS_1


"Terima kasih Lina!" Aira menerima secangkir teh jahe yang dibuatkan Lina.


Aira bergegas meminum teh itu selagi masih hangat, karena perut Aira mulai terasa nyeri lagi. Lina ingat dengan jelas kalau Aldo masuk ke dalam kamar yang sama dengan Aira, bahkan saat ini Aldo masih belum keluar dari kamar. Pikiran Lina sudah kemana-mana, sejenak ia lupa kalau saat ini Aira tengah haid.


"Lina, bisakah kau minta Burhan untuk mengganti kunci kamar tamu?" Tiba-tiba saja Aira bicara dengan nada lirih, membuyarkan angan-angan Lina barusan.


"Eh, kenapa tiba-tiba saja minta kunci di ganti? Ada apa nyonya?" Lina merasa aneh dengan sikap Aira.


Bagi Aira mengeluh juga tidak ada gunanya, jelas-jelas Aldo begitu peduli pada kakaknya. Tapi kenapa sikapnya pada kakak iparnya begitu, ia selalu saja mengganggu Aira dan bersikap seenaknya saja. Bukankah orang seperti Aldo tidaklah kekurangan wanita, jika ia mau wanita bagaimanapun ia pasti dapatkan. Aira tak mengerti dengan sikap Aldo.


"Ehm... itu, sepertinya Aldo semalam salah masuk kamar lagi! Padahal jelas-jelas aku sudah mengunci pintunya.." Aira bicara sambil meminum teh yang dibuatkan oleh Lina.


Kini perasaan Aira campur aduk. Ia merasa bersalah pada suaminya, Aldi. Apakah Aira saat ini sudah menyelingkuhi suaminya, padahal Aira sedikitpun tak berniat begitu.


"Huft, baiklah nyonya! Nanti aku akan minta Burhan untuk menggantinya!" Lina tak bisa berbuat apa-apa lagi, sepertinya mereka berdua memang masih perlu waktu untuk bisa menerima dan memahami satu sama lain.


Lina juga tak mungkin berani mengatakan yang sebenarnya pada Aira, ia tak mungkin bisa menanggung kemarahan Aldo.


Aira pergi ke taman dibelakang rumah, ia menata dan menyirami bunga di taman. Sebenarnya itu semua ia lakukan karena tak punya pekerjaan, ia bosan jika harus berdiam diri tak melakukan apapun.


Aldo memperhatikan Aira dari lantai atas, ia melihat dari balik jendela kaca ruang kerjanya. Entah sejak kapan tanpa disadari ia selalu memperhatikan istri kecilnya itu. Ada perasaan senang dan juga rasa nyaman saat ia melihat Aira. Mungkin sebenarnya dalam hati Aldo sudah mulai jatuh cinta pada Aira, namun semua itu tertutup rasa arogan dan keras kepala Aldo.


Tak terasa kini sudah sore, Aira yang dari tadi pagi berada di taman bergegas masuk rumah untuk membersihkan diri. Ia ingin memastikan, apakah Aldo benar-benar pergi ke undangan makan malam pamannya atau tidak.


Di rumah keluarga Sanjaya terlihat begitu sibuk, semua pelayan dan koki sibuk menyiapkan berbagai hidangan untuk makan malam.


"Ma, kanapa kita nggak buat kue mangga dengan sedikit gula aja!" Kini Lita menoleh ke arah ibunya karena melihat dari semua hidangan yang ada tak ada satupun kue mangga.


"Apa, kue mangga? Udahlah Lita, jangan konyol! Kemaren aja Dona pulang nangis karena dipermalukan dan di tolak oleh Aldo karena tak suka dengan kue mangga!" Gisel terlihat geram.


"Tak ku sangka, Aira berani berbohong pada ku!" Gisel mengepalkan tangannya menahan amarah.

__ADS_1


"Oh ayolah ma... aku berani bertaruh kalau Aldo suka kue rasa mangga! Itu hanyalah alasan ia untuk menolak Dona.. Aira tak akan mungkin berani berbohong pada pada mu!" Lita tahu jelas bagaimana Aira, gadis itu terlalu polos untuk bisa bermain trik dan manipulasi.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Cinta ku kau anggap debu


kau anggap ku sampah


Berbuat apapun seenak mu


Tanpa peduli akan perasaan ku


Sakit ku tak berarti untuk mu


Haruskah ku mati baru kau peduli


Lelah....


Benar-benar lelah...


Ku ingin menyerah dengan cinta ini


Letih ku bersabar dengan segala sikap mu


Menyerah ku akan ego mu


Ku ingin pergi..


Pergi sejauh kaki ini melangkah


tak tahu arah dan tujuan...

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2