
"Aku benar-benar datang bulan.. aku nggak bohong.." Aira merasakan nyeri di perut bagian bawah akibat haid.
Sepertinya kali ini Aldo benar-benar sial, ia tak percaya malam pertamanya akan gagal. Ia merasa Aira sedang berbohong padanya. Aldo mulai memeriksa apakah Aira benar-benar sedang haid atau hanya berpura-pura agar terhindar darinya. Duar bak tersambar petir, Aldo benar-benar sedang sial. Aira benar-benar haid, Aldo pergi meninggalkan Aira sendirian dikamar dengan wajah kesalnya.
Aira merasa sepertinya keadaan Aldi sudah membaik hingga ia memiliki tenaga sebesar itu. Aira sedikit takut karena Aldo pergi dengan marah sambil membanting pintu kamar. Setelah beberapa menit kepergian Aldi, lampu kembali menyala. Di sprei sudah ada bercak darah, Aira benar-benar merasa malu.
Aira segera mencari pembalut miliknya di almari, dan bergegas mengganti sprei yang terkena noda darah. Karena ia tak ada persiapan, ia mencari Lina agar bisa membelikannya pembalut. Aira berlari ke lantai bawah sambil berteriak memanggil Lina.
"Bi.... Bibi..." Saat sampai di dapur, bukannya bertemu dengan Lina justru Aira bertemu dengan Aldo yang terlihat begitu suram dengan wajah yang dipenuhi amarah.
"Maaf... aku cari Lina, kamu lanjutin aja makannya!" Aira merasa tidak nyaman melihat wajah kesal Aldo.
Padahal beberapa waktu ini Aira tak bertemu dengan Aldo. Ia merasa tak pernah menyinggung Aldo, tapi kenapa aura yang keluar dari Aldo seakan mengatakan bahwa ia sedang kesal dan begitu marah pada Aira.
"Ah Nyonya, ada apa? Aku baru saja dari kamar mandi! Oh ya, aku tadi baru saja memasak spaghetti untuk tuan Aldo.. apa kau ingin makan juga?" Lina muncul dari belakang Aira yang masih berdiri menatap Aldo yang terlihat kesal.
"Bi, bisakah kau ikut aku keluar sebentar! Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu!" Aira berbisik di telinga Lina, ia tak ingin pembicaraannya terdengar oleh Aldo.
"Sudah, ada apa Nyonya? Kamu sampai membawa ku keluar dari ruang makan?" Di ruang tengah kini mereka berhenti dan mulai bicara.
"Anu... itu.. em.. kamu punya perlengkapan wanita nggak? A...aku lagi menstruasi, aku nggak ada persiapan!" Aira menundukkan pandangannya merasa malu pada Lina.
Lina kini mengerti kenapa wajah Aldo terlihat begitu kesal saat keluar dari kamar Aira. Ternyata mereka sudah gagal malam pertama, yang membuat Lina heran kenapa waktunya begitu tepat saat Aldo ingin berhubungan dengan Aira.
"Haiz..!" Lina tanpa sadar menghembuskan nafasnya dengan berat hati.
" Tak apa-apa kalau kamu nggak punya Bi! Umur kamu juga udah sewajarnya kalau kamu udah nggak datang bulan lagi!" Aira panik melihat Lina yang terlihat khawatir padanya.
"Di depan area perumahan ada minimarket, aku akan pergi kesana untuk membelikannya untuk mu!" Baru saja Lina melepaskan celemeknya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya disertai angin kencang. Aira tak tahu bahwa yang tadi bersamanya bukanlah Aldi tapi Aldo.
"Bi, hujannya deras banget! Lebih baik aku pergi sendiri saja!" Aira tak ingin merepotkan Lina.
"Tidak bisa, mana mungkin aku membiarkan Nyonya keluar saat hujan! Bagaimana jika nanti Nyonya terkena flu? Itu akan sangat tidak baik, Nyonya biasanya pakai merek apa dan ukuran berapa?" Saat Lina membuka pintu, tubuhnya terdorong ke belakan oleh angin kencang.
"Aaa.." Lina hampir terjatuh, Aira menangkap tubuhnya dari belakang.
"Bi, kamu nggak apa-apa?" Aira merasa tak enak hati pada Lina.
"Nyonya menjauh lah, sepertinya hujan badai hingga anginnya begitu kuat! Jangan sampai Nyonya terkena flu!" Disaat seperti itu pun Lina tetap mengkhawatirkan Aira.
Aira berusaha menutup pintu, namun pintu rumah yang begitu berat ditambah dengan terpaan angin kencang membuatnya kewalahan. Tiba-tiba saja Aldo muncul di belakang Aira dan langsung menutup pintunya.
"Hanya sebuah pintu aja nggak bisa menutupnya! Benar-benar sia-sia memberi mu makan selama dua puluh tahun!" Aldo masih dengan wajah kesalnya bicara pada Aira.
"Nyonya, aku akan menelfon pegawai toko itu! Biarkan mereka mengirim seseorang untuk mengantarkan barang keperluan kamu!" Lina merasa kasihan pada Aira.
"Sudahlah Bi, lupakan saja! Hujannya begitu mengerikan, lagi pula ini sudah larut malam.. sangat berbahaya!" Aira menahan rasa sakit di perutnya sambil menekan perutnya.
"Apakah rasa sakitnya muncul? Duduklah di sofa Nyonya, aku akan mengambilkan segelas air hangat untuk mu!" Lina meninggalkan Aira sendirian di ruang tamu dan pergi ke dapur.
Saat Aira memegangi perutnya yang sakit, Aldo menyodorkan selembar kertas dan pena. Aira menatapnya dengan kebingungan, tadi terlihat begitu kesal dan sekarang tiba-tiba memberinya sebuah kertas dan pena.
"Tulis di situ apa aja yang kau butuhkan!" Aldo menatap Aira dengan tegas.
"Ti...tidak perlu! Aku akan pergi membelinya sendiri setelah hujannya reda!" Aira tak enak hati.
Aira mengira Aldo tak tahu apa yang ingin dia beli saat ini jika tidak, mana mungkin Aldo mau membelikannya perlengkapan wanita.
__ADS_1
Melihat sikap Aldo yang berbaik hati mau membantunya, Aira merasa senang dan tersipu malu.
"Aku suruh kamu tulis ya tulis aja! Nggak usah bertele-tele!" Aldo berteriak merasa kesal dan marah.
Aira terkejut melihat Aldo berteriak dan marah-marah padanya, padahal Aira hanya tak ingin membuat Aldo malu nantinya. Akhirnya dengan kesal juga Aira mengambil kertas dan pena yang disodorkan oleh Aldo. Aira dengan cepat menulis semua apa yang ia butuhkan. Aira pikir Aldo akan merobek dan membuang kertas itu saat melihat apa saja yang tercantum didalamnya.
" 2 Buah Betty soft + Pembalut extra nyaman untuk malam hari 2+ 2 buah Betty soft + pembalut extra nyaman untuk digunakan sehari-hari dan juga pembalut spon anti bocor + Kiranti datang bulan 3 botol" itulah yang tertulis pada selembar kertas yang ditulis Aira.
"Kamu tunggu di rumah! Jangan coba-coba untuk keluyuran keluar rumah dimalam hari!" Setelah melihat catatan itu, Aldo pergi keluar rumah membuat Aira melongo kebingungan.
Aldo benar-benar pergi keluar untuk membelinya, tak pernah terbayangkan seorang Aldo yang begitu cool dan menjaga gengsinya tiba-tiba saja pergi ke minimarket untuk membeli perlengkapan wanita. Padahal Aira menulis semua itu karena merasa kesal pada Aldo yang berteriak padanya. Dalam benak Aira bagaimana jika Aldi dan Lina tahu tentang hal ini, mereka pasti terkejut dan memarahi Aira.
π π π π π π π π π π π π π π π π
Dinginnya malam membawa angan
Menusuk hati dan relung jiwa ini
Mengingatkan sosok diri mu yang ku rindu
Pergi bawa cinta dan hati ini
Tinggalkan derita dalam jiwa yang gersang
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Happy reading βΊοΈ
Jangan lupa like π dan komen ya βΊοΈπ
__ADS_1