Suami Yang Tertukar

Suami Yang Tertukar
Cemburu


__ADS_3

"Hais, aku sudah mencoba datang ke kantor milik Aldo untuk bertemu dengannya.. tapi sekretaris pribadinya menolak dan tidak mengijinkan aku bertemu dengannya! Aku juga sudah mencoba datang ke rumah keluarga Pangestu, tapi Burhan juga mengusir ku dari sana! Aira, kamulah harapan paman satu-satunya saat ini.. paman mohon pada mu!" Andra terlihat begitu sedih dan berharap pada Aira.


"Paman, aku bukanlah siapa-siapa di dalam keluarga Pangestu! Bagaimana mungkin Aldo mau mendengarkan ku?" Aira menundukkan pandangannya.


Aira selama beberapa waktu ini tak pergi kemanapun, jika Andra pamannya benar-benar datang berkunjung ke rumah keluarga Pangestu ia pasti tahu. Aira tak ingin lagi ada masalah antara dirinya dan Aldo, sudah cukup penghinaan dan sikap kasar Aldo padanya beberapa waktu lalu.


"Kamu adalah kakak iparnya, apa kamu lupa! Dia begitu menghormati dan menyayangi kakaknya! Ia pasti juga begitu menghormati diri mu bukan? Ia pasti akan memberi muka untuk mu!" Andra tetap bersikeras agar Aira mau membantunya.


Bagi Aldo, kakaknya memang sangat penting. Ia sangat menghormati dan menyayangi kakaknya. Tapi Aldo tak pernah menganggap Aira sebagai kakak iparnya, tidak hanya tidak menghormati Aira. Aldo juga berani berbuat lebih dari itu, meski begitu Aira tak mungkin bercerita pada pamannya atau siapapun. Tak akan ada yang percaya atau mau membela dirinya, semua orang pasti akan memihak pada Aldo.


"Maaf paman... a.. aku benar-benar tidak bisa membantu mu!" Aira mencengkeram tangannya dengan erat.


"Aira, apa kamu sudah lupa? Keluarga Sanjaya sudah membesarkan mu selama dua puluh tahun.. tak bisakah kamu melakukan hal kecil ini untuk membantu kami?" Andra menekan kata-katanya dengan nada yang sedikit arogan.


"Aira, keluarga Sanjaya sudah banyak berkorban untuk mu.. hanya sebuah bantuan kecil saja bahkan tak bisa kau lakukan untuk keluarga ini?" Kini Gisel pun turut menuntut Aira.

__ADS_1


Mereka berdua terus saja bicara dan memojokkan Aira. Aira merasa sakit dalam hatinya, ia merasa tertekan. Akan bagaimana hidupnya jika pamannya, Andra tidak membawanya dari panti asuhan. Akankah kehidupannya akan berbeda. Aira pulang dengan banyak beban pikiran. Ia terlihat begitu muram.


Sampai di rumah Aira bergegas ke dapur untuk membuatkan makan malam Aldi, ia hanya bisa membawa makanan itu sampai di depan pintu kamar perawatan Aldi. Di sana seseorang dengan sigap mengambil dan membawa makanan itu masuk ke dalam ruangan. Aira terpaksa menyanggupi pamannya untuk membawa Aldo makan malam di keluarga Sanjaya, tapi ia juga tak tahu harus berbuat bagaimana.


Aira duduk di meja makan sambil melamun, ia benar-benar bingung harus bagaimana. Aldo pulang kantor melihat raut wajah Aira yang terlihat muram, ia mengira Aira tidak berselera dengan hidangan yang disiapkan oleh Lina untuknya.


"Lina, kenapa makan malamnya terlihat membosankan? Bukankah aku menyuruh mu menyiapkan makanan yang bermacam-macam untuk Nyonya! Agar dia bisa terlihat gemuk seperti babi!" Aldo bicara sambil menatap Aira.


"Tuan, Nyonya sedang datang bulan.. sebab itu ia tak berselera untuk makan!" Lina hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Aldo.


Di mata Aldo, Aira terlihat begitu kurus. Mungkin jika tertiup angin pelan saja ia sudah dibawa terbang. Entah kenapa ia mulai peduli pada Aira.


"Mungkin Nyonya sedang sedih karena tidak di ijinkan masuk setiap kali mengantarkan makanan untuk tuan Aldi!" Lina menghembuskan nafasnya merasa kasihan pada Aira.


"Kenapa dia begitu peduli pada kakak ku?" Aura kesal dan cemburu terlihat jelas dari raut wajah Aldo saat ini.

__ADS_1


Lina menggelengkan kepalanya, ia pun ikut pusing dengan tingkah Aldo. Padahal dia sendiri yang menikahi Aira menggunakan nama kakaknya, jelas saja Aira begitu peduli pada Aldi karena beranggapan Aldi adalah suaminya sementara dia hanyalah adik ipar. Entah sampai kapan Aldo akan merahasiakan bahwa Aira adalah istrinya bukan kakak iparnya.


Aldo turun ke lantai bawah dimana Aira kini sedang melamun. Ia benar-benar kesal karena Aira terlihat begitu peduli pada kakaknya dibandingkan dirinya. Ia tak sadar kalau saat ini dirinya tengah cemburu.


"Hm, besar sekali nyalinya ingin bertemu dengan kakak ku di belakang ku!" Aldi mengepalkan tangannya dengan erat.


Saat melihat hal itu, Lina buru-buru mengejar Aldo. Ia tak ingin ada pertengkaran diantara mereka berdua lagi.


"Kau sangat ingin bertemu dengan kakak ku?" Aldo berteriak pada Aira, ia begitu emosi.


"Ya, aku sangat amat ingin bertemu dengan kakak mu!" Aira balas berteriak dan menatap tajam ke arah Aldo.


Ini pertama kalinya Aldo melihat Aira dengan tatapan mata seperti itu. Ia bahkan hampir tak berkutik dibuatnya. Aldo mengambil nafas dalam agar menghilangkan emosinya.


"Huft.. bukankah kau juga tahu, keadaan kakak ku yang memburuk? Dia tak akan bisa melakukan hubungan suami istri dengan mu!" Aldo mulai memelankan suaranya.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa tahu tentang hubungan kami? Maaf, sepertinya kau harus kecewa.. hubungan *** kami baik-baik saja..!" Aira bicara tanpa menatap Aldo.


__ADS_2