Suami Yang Tertukar

Suami Yang Tertukar
Bantuan


__ADS_3

Di meja makan Aira makan sendirian, perasaannya kini campur aduk. Ingin protes atas sikap Aldo, tapi ia tak punya hak. Di rumah yang megah ini, Aira hanyalah orang luar yang baru saja memaksa masuk. Aldo dan Aldi belum bisa menerima dia sepenuhnya.


Aira tak begitu berselera melihat makanannya, namun ia harus tetap makan. Ia tak mau usaha Lina memasak pagi-pagi terbuang sia-sia karena pemikirannya yang sedang tidak enak. ponsel Aira berdering.


..."Halo, apa...nyonya Arman masuk rumah sakit? Baiklah aku akan segera ke sana!" Aira bergegas naik ke lantai atas untuk mengambil tas kecilnya....


Aira meminta ijin pada bibi Lina dan bergegas pergi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit pengurus panti yang kemaren bertemu dengan Aira menjelaskan perihal kenapa nyonya Arman bisa sampai masuk rumah sakit.


"Beliau begitu khawatir dengan keadaan anak yang kemaren baru masuk panti! Anak itu tak dapat di operasi sebelum ada uang seratus juta sebagai administrasi nya!" Gadis itu terlihat ikut merasa sedih.


..."Katakan pada nyonya Arman, ia tak perlu mengkhawatirkan hal ini lagi, aku yang akan mengurusnya!" Aira bicara dengan tegas, ia harus berusaha mendapatkan uang itu bagaimanapun caranya agar bisa membantu anak panti....


" Aku akan meminta bantuan paman, ini adalah hal terakhir yang ku minta darinya!" Aira bicara dalam hati sambil pergi menuju rumah keluarga Sanjaya.


..."Tante, apa paman ada?" Aira merasa sedikit tak nyaman bicara dengan Gisel....


"Tidak ada! Ia sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota" Gisel bicara dengan nada dinginnya.


"Apa...paman ke luar kota!" Aira sedikit meninggikan suaranya.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat cemas dan gugup?" Gisel menangkap raut wajah Aira yang terlihat gusar dan cemas.

__ADS_1


"Tante, bisakah kau meminjamkan uang seratus juta pada ku! Ada anak panti yang harus segera di operasi jantungnya, namun biayanya masih kurang seratus juta!" Aira sedikit memelas pada Gisel, berharap tantenya mau meminjamkan uang itu.


"Apa kau sedang bercanda! Uang sebanyak itu hanya untuk operasi seorang anak yang tak jelas asal usulnya, biarkan saja ia di panti!" Gisel mulai meninggikan suaranya.


..."Lebih baik urus saja diri mu sendiri! Kau saja belum di terima di keluarga Pangestu masih saja sok baik pada orang lain!" Lanjutnya lagi dengan nada malas....


"Tapi semua uang donasi hanya terkumpul delapan puluh juta, masih kurang seratus juta lagi!" Aira masih mencoba memohon pada Gisel, bagaimanapun juga keadaan anak itu sangatlah kritis.


"Aku tak punya uang sebanyak itu! Satu juta saja aku tidak punya, apa lagi seratus juga! Lagi pula sudah takdir anak itu sakit ya biarkan saja! Kau masih terlalu kecil, tak mengerti akan hukum kehidupan" Gisel masih saja mengelak.


..."Aku memang tak bisa memaksa jika ia tak mau memberikan bantuan! Tapi apa-apan sikapnya itu!" Aira bicara dalam hati merasa kesal dengan kata-kata Gisel....


"Lalu bagaimana dengan uang dua milyar yang diberikan pak Burhan beberapa hari lalu? Tidak mungkin kan dua milyar habis hanya dalam waktu tiga hari!" Aira memalingkan wajahnya.


..."Dia tidak tahu apa-apa tentang hal ini! Akulah yang ingin meminta itu!" Aira balas berteriak saat Gisel menyebut nama suaminya....


"Cukup, jangan banyak alasan kamu! Jika Aldi menginginkan uang itu kembali, suruh ia sendiri yang datang mengambilnya dan kamu! Lupakan tentang bantuan untuk anak panti itu, sepertinya paman mu terlalu memanjakan mu!" Gisel bergegas pergi masuk ke dalam rumah meninggalkan Aira yang masih mematung di depan pintu.


...Aira berjalan di jalanan yang begitu ramai, air matanya terus saja menetes. Ia tak tau lagi harus bagaimana agar bisa membantu mendapatkan biaya untuk operasi anak itu....


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Akulah yang terlalu bodoh


Mudah di permainkan hanya dengan kata-kata manis


Mudah percaya dengan bualan omong kosong


Terasa nyata namun hanya replika


Terasa begitu sakit saat melihat kenyataan


Berharap segalanya berakhir saat esok ku buka mata


Berharap ini hanya mimpi buruk ku semata


Ku ingin mengelak dari kenyataan ini


Ku ingin berlari pergi, sejauh mungkin dan tak kembali


Bisakah ku pergi, bisakah ku menyerah


Ku tak mampu hadapi kenyataan ini

__ADS_1


Benar-benar tak mampu lagi bertahan


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2