
Aldi terlihat begitu resah, ia sendiri bahkan tidak bisa menghadapi sikap egois Aldo. Bagaimana mungkin seorang gadis polos dan pendiam seperti Aira mampu bertahan.
"Tuan tenang saja! Aku sudah menandai kalender tanggal dimana nyonya Aira haid, jadi kejadian seperti kemarin tidak akan terulang lagi! Aku akan membuat peluang dimana mereka berdua akan menghabiskan malam bersama dan pastinya sampai nyonya Aira akan melahirkan tuan muda kecil yang lucu!" Lina terlihat begitu bersemangat.
"Kau memang hebat Bi! Dengan adanya seorang anak, Aldo akan lebih memikirkan anak dan istrinya sebelum melakukan sesuatu!" Aldi tersenyum bahagia mendengar penuturan Lina.
"Tuan, anda juga jangan menyerah! Nyonya Serly sudah lama pergi dan anda harus tetap bersemangat dalam menjalani kehidupan ini!" Lina menatap sendu wajah Aldi.
Aldi sebenarnya sudah menyerah akan hidupnya sejak berita kematian Serly, ia tetap melakukan perawatan hanya karena mengkhawatirkan Aldo. Aldo pasti akan menutup dirinya dari semua orang.
"Bi, harusnya kamu tahu! Setiap kali Aldo melihat keadaan ku yang seperti ini, semakin besar pula kebencian yang ada dalam hatinya! Jadi jika aku mati, itu akan menyelamatkan Aldo dari penderitaan! Mungkin pada awalnya akan terasa sakit, tapi sakit sebentar lebih baik daripada sakit dan menderita dalam waktu yang berkepanjangan! Keadaan ku juga begini, jika bukan karena alat medis yang terpasang di seluruh tubuh ku aku pasti sudah mati! Mati adalah sebuah kebebasan untuk ku!" Aldi tetap pada pendiriannya, cintanya pada Serly lebih dari apapun yang ada di dunia ini.
"Tuan Aldi, kamu jangan terus-terusan bicara begitu! Kamu harus sembuh, biarkan tuhan mengambil nyawa ku sebagai ganti mu! Aku rela menggantikan mu mati!!" Lina berteriak dengan air mata yang bercucuran, baginya Aldi dan juga Aldo adalah anaknya. Lina sudah merawat Aldo dan Aldi dari kecil hingga kini.
__ADS_1
"Tuan Aldi.." Dari balik pintu Burhan pun ikut menangis sambil mengepalkan tangannya.
Jika sampai Aldi benar-benar tiada, Aldo pasti akan terjerumus dalam dendam yang tidak berkesudahan. Aldo pasti akan menghancurkan seluruh keluarga Pangestu. Aldi memang dalam keadaan sekarat, hidupnya bergantung pada alat medis yang menancap ditubuhnya, seandainya semua peralatan itu dicabut pastinya ia sudah meregang nyawa. Mungkin memang kematian lebih baik untuknya, tapi bagaimana mungkin mereka membiarkannya, terutama Aldo yang begitu diliputi rasa bersalah.
"Dokter, hanya sebentar saja... aku hanya ingin melihat bagaimana keadaan suami ku!" Pagi harinya Aira menemui dokter didepan ruangan dimana Aldi dirawat.
"Maaf nyonya, kami tak bisa mengijinkan siapapun untuk masuk ke dalam ruang rawat!" Dokter tak ingin kehilangan nyawanya di tangan Aldo, Aldo mengatakan siapapun tidak boleh membiarkan Aira bertemu dengan Aldi.
Saat ingin bicara lagi handphone Aira berdering tanda ada panggilan masuk.
Tapi mengapa Andra menyuruh Aira datang, dari dulu keluarga Sanjaya hanya menganggap Aira sebagai orang luar. Dokter yang melihat perhatian Aira teralihkan oleh masalah lain pun merasa lega, setidaknya kali ini nyawanya masih aman. Aira berfikir sejenak sebelum akhirnya ia pergi mengganti pakaian dan meminta sopir untuk mengantarnya pergi ke tempat keluarga Sanjaya.
Di sana Aira disambut dengan hangat oleh Andra dan juga Gisel, Aira merasa aneh dan canggung akan sikap mereka padanya. Apalagi di meja makan semua hidangan yang disajikan adalah makanan kesukaan Aira.
__ADS_1
Dalam hati Aira heran, bagaimana bisa tantenya tahu semua makanan kesukaannya. Apakah ia tahu dari pelayan atau memang ia sedikit memperhatikan Aira. Aira mungkin bisa sedikit menebak apa yang menyebabkan sikap mereka berubah, dari seseorang yang tak pernah di anggap tiba-tiba saja menjadi tamu yang begitu penting. Semua sikap mereka pasti karena ia kini menjadi nyonya di keluarga Pangestu.
"Aira, kamu harus membantu paman kali ini! Nasib perusahaan Sanjaya bergantung pada mu saat ini!" Tiba-tiba saja Andra menggenggam tangan Aira sambil memohon padanya.
"Paman, apa yang kamu lakukan? Kamu terlalu memandang tinggi aku dalam keluarga Pangestu!" Aira mencoba menghindar dari tatapan memohon pamannya.
"Paman menghadiri beberapa penawaran proyek baru-baru ini, dan keuntungannya lumayan besar! Tapi mereka menolak untuk memberikan proyek tersebut karena mereka menganggap perusahaan Sanjaya tidak cukup modal, aku ingin kamu minta pada tuan Aldo agar mau berinvestasi di perusahaan Sanjaya! Tidak banyak, hanya sekitar dua triliun saja! Kenapa kamu terlihat begitu terkejut? Nominal segitu hanyalah hal kecil baginya.. jik sudah mendapatkan keuntungan aku akan membaginya dengan dia!" Andra terlihat begitu bersemangat saat bicara.
Aira terpaku mendengar kata-kata yang diucapkan Andra, ia tak menyangka ternyata Aldo begitu kaya raya. Namun sekaya apapun dia Aira tak mungkin meminta bantuan sebesar itu padanya. Aira merasa Aldo begitu sempurna, tidak hanya kaya tapi juga begitu tampan. Tapi setampan dan sekaya apapun dia tidak ada hubungannya dengan Aira. Bagi Aira Aldi adalah suaminya, meski wajahnya rusak Aldi tetaplah hebat dimatanya dan ia ingin menjadi istri yang baik bagi Aldi.
"Aira, apa yang sedang kau pikirkan?" Tiba-tiba Andra menyadarkan Aira dari lamunannya.
"Minggu ini oke! Kau harus membawa tuan Aldo untuk makan malam bersama di rumah ini! Aku menyerahkan tugas penting ini pada mu!" Andra terlihat berbinar dan bersemangat.
__ADS_1
"Whatt?? Paman, akan lebih terlihat tulis jika kamu sendiri yang mengundangnya bukan!" Aira mencoba mengelak, ia tak ingin berurusan dengan Aldo terlalu dalam.
Sebelumnya Aldo memperlakukan Aira seperti wanita murahan hanya karena uang seratus juta yang ingin ia pinjam untuk membantu anak-anak panti, lalu bagaimana perlakuan Aldo jika Aira benar-benar melakukan permintaan pamannya. Dua triliun itu uang yang begitu banyak.