
Sudah dua jam lamanya Aira tertidur di dalam pelukan Aldo. Aldo terus menerus memainkan rambut Aira sambil memandangi wajahnya yang manis dan cabi.
Pada saat Aldo ingin menyentuh bibir mungil Aira, tiba-tiba saja handphone milik Aldo berdering keras. Seseorang telah menelfon dirinya. Aira terbangun karena mendengar suara bising bunyi handphone, ia terkejut dan langsung bangun dari dalam pelukan Aldo.
"Hem, ya... aku akan segera kesana!" Suara Aldo terdengar menjawab panggilan telfon dari seseorang.
Aira tak berani menata Aldo, ia kini kebingungan. Bagaimana bisa ia tertidur satu ranjang dengan Aldo, bahkan dalam pelukannya. Apakah Aira masih bisa menghadapi Aldi suaminya, sementara ia saja saat ini sudah terlihat begitu mesra dengan Aldo.
Aira bertekad harus mulai menjaga jarak dari Aldo, ia tak ingin terseret terlalu jauh dengannya. Ia tak ingin di cap sebagai wanita murahan karena terlihat mesra dengan Aldo disaat Aldi tengah melakukan perawatan medis demi bisa bertahan hidup.
"Gawat, ini sudah hari Sabtu! Aku belum sempat mengatakan pada Aldo tentang ajakan makan malam paman hari minggu ini!!" Aira menepuk jidatnya sendiri.
Sebenarnya ia enggan untuk menyampaikan hal itu pada Aldo, namun ia juga sudah berjanji pada pamannya. Aira akan mengatakannya, masalah Aldo mau datang dan bersedia atau tidak membantu pamannya, Aira tak mau tau dan tak ingin terlibat urusan mereka. Ia tak ingin dipandang rendah lagi oleh Aldo.
Aira pergi ke dapur membuat mi instan untuk mengisi perutnya yang tiba-tiba terasa lapar. Sambil menunggu Aldo yang masih keluar sejak menerima telfon tadi.
"Kenapa tiba-tiba aku jadi doyan makan gini sih? Gimana nanti jadinya kalau berat badan ku naik?..." Aira mengeluh tapi masih tetap menghabiskan mi instan di depannya.
Tak berselang lama ia mendengar suara mobil dari depan rumah, Aira menebak itu pastilah Aldo. Ia berlari keluar ingin menemui Aldo, meninggalkan mu instan yang belum ia habiskan.
"Al..." Aira ingin memanggil Aldo, namun terhenti saat melihat seorang gadis bule berambut pirang dengan tubuh **** sedang cipika-cipiki dan memeluk Aldo.
Entah kenapa Aira merasa minder tapi juga kesal di dalam hatinya. Benar saja, seorang pengusaha sukses, kaya dan juga tampan pastilah dikelilingi banyak wanita cantik. Aira berbalik ingin masuk ke dalam rumah lagi, dan disaat Aira berbalik Aldo melihatnya.
__ADS_1
"Eh, kenapa gadis bodoh itu berbalik pergi? Nggak mungkin kan ia cemburu melihat ku melakukan salam cipika-cipiki yang biasa digunakan oleh orang luar sebagai sapaan?" Aldo bicara dalam hati sambil melirik ke arah Aira.
Belum sempat Aira pergi, Aldo sudah mendekatinya. Kini Burhan lah yang berbicara dengan wanita pengusaha itu menggantikan Aldo.
"Tumben kau ngerti untuk menyambut ku pulang!" Aldo tersenyum jahil sambil mendekati Aira.
Aira yang melihat gelagat mencurigakan dari senyuman Aldo langsung memalingkan wajahnya, ia ingin menjauhi Aldo sebelum pria itu melakukan sesuatu padanya.
"Bukan urusan mu!" Aira baru ingin melangkah pergi menjauh dari Aldo, sebelum ia teringat akan keperluannya pada Aldo.
Aira teringat ingin menemui Aldo karena harus menyampaikan pesan dari pamannya. Ia hampir saja lupa karena kesal pada Aldo. Aira memutar balik tubuhnya dan "Brug" tubuhnya menubruk tubuh Aldo yang dari tadi berjalan di belakang mengikuti Aira.
"Aw .." Aira mengusap hidungnya karena terbentur dada bidang milik Aldo.
" Baru nggak ketemu bentar aja udah begitu kangen pada ku? Bahkan sampai memeluk ku dengan tenaga yang begitu besar!?" Aldo tertawa menatap Aira yang terlihat semakin kesal padanya.
"Aku datang menemui mu hanya karena ingin menyampaikan pesan dari paman Andra aja kok! Dia mengundang mu makan malam besok! Mungkin ia merasa bahwa kau adalah menantu ideal untuknya!" Aira melipat kedua tangannya di depan dada.
"Menantu ideal? Apa kau rela..?" Aldo menyeringai saat mendengar Aira menyebut kata menantu ideal.
"Omong kosong apa yang kau ucapkan? Heh, kenapa aku harus nggak rela coba?" Aira bicara dengan nada yang mengejek pada Aldo.
Aira benar-benar kesal, dia justru berharap Aldo cepat-cepat menikah agar tak mengganggu dan menghantui dirinya setiap saat. Lina yang melihat kedatangan Aldo bergegas membuatkan secangkir kopi untuknya.
__ADS_1
"Hemm... jika Istri besar dan seorang selir sepertinya masih bisa! Bukankah begitu Lina?" Aldo tersenyum santai seolah tanpa beban saat bicara begitu.
Aira yang mendengar kata-kata Aldo begitu terkejut, bagaimana bisa Aldo berencana memiliki dua istri. Bukankah itu bisa membuat keributan dan menambah masalah untuk Aira. Sepertinya impian Aira untuk hidup tenang tak akan pernah terwujud.
"Sudahlah, terserah kau mau bilang apa! Tugas ku untuk menyampaikan pesan pada mu udah selesai dan jangan lupa besok malam! Aku mau tidur!" Aira bergegas pergi meninggalkan Aldo yang masih menikmati secangkir kopi yang dibuatkan Lina.
Aira harus bergegas menjauh dari Aldo sebelum ada drama lagi yang dibuat oleh pria itu. Aira pergi ke kamarnya untuk tidur, Aldo tersenyum sambil melihat Aira yang sudah hampir tak terlihat lagi. Rumah itu sudah mulai sepi karena semua orang sudah tidur kecuali Aldo yang berbaring di samping Aira sambil terus menatap wajahnya yang manis.
Sementara di rumah keluarga Sanjaya, Gisel mengundang koki terkenal dari Prancis untuk membuat beberapa hidangan mewah kesukaan Aldo, terutama kue mangga. Gisel terlihat begitu sibuk dan antusias melakukan berbagai persiapan untuk besok malam.
Gisel ingin membuat Aldo tertarik pada Lita l, putri pertamanya. Ia harus bisa memiliki menantu seperti Aldo yang tampan, kaya dan sukses. ia ingin menjalin hubungan dengan keluarga Pangestu.
"Wow.. memang pantas dijuluki koki nomor satu! Di lihat dari bentuknya saja sudahlah sangat menggoda... apa lagi rasanya??" Gisel memuji kue buatan sang koki.
"Aldo pasti suka..!" Gisel segera membungkus kue itu.
"Lita, aku sudah menyiapkan segalanya untuk mu! Pergilah... berikan kue ini pada Aldo selagi masih hangat! Ia pasti menyukainya!" Gisel menyodorkan paper bag berisi keu mangga pada Lita.
"Tapi ma... gimana kalau dia menolak ku lagi?" Lita masih merasa takut dan kecewa karena waktu itu Aldo menolaknya secara terang-terangan.
"Ayolah sayang.. jangan mudah menyerah gitu donk!" Gisel tetap bersikeras agar Lita mau pergi menemui Aldo.
"Ibu, bagaimana bisa kau menyuruh ku untuk mendatangi dia ke rumahnya? Bagaimana jika ia kira aku ini cewek genit dan murahan?" Lita masih benar-benar takut jika ditolak lagi, ia pasti akan sangat malu nantinya.
__ADS_1
"Wanita jaman sekarang harus sedikit genit dan juga agresif.. baru pria bisa mengerti akan perasaan wanita itu!" Gisel tak mau tahu apapun alasan yang Lita buat, ia sudah berusaha payah menyiapkan segalanya.
"Tapi aku tak mau di tolak lagi.. apa lagi di cap sebagai wanita murahan ma!" Lita mulai sedikit meninggikan nada bicaranya.