
Aldo tersenyum sinis melihat Aira. Sepertinya gadis itu belajar terlihat buruk didepannya. Aldo tak menyangka Aira bisa seperti itu.
"Benarkah semuanya baik-baik saja? Atau hanya kau saja yang mengharapkannya!" Aldo menyeringai menatap Aira.
"Aldo, kau anggap aku ini apa? Dengan seenaknya menggunakan kata-kata menyindir untuk merendahkan ku! Kau tak pernah menghargai ku sebagai kakak ipar mu, apa kau tak menganggap kakak mu ada!" Aira menggebrak meja di depannya, ia benar-benar tersinggung terhadap kata-kata Aldo.
"Bukankah dari awal sudah ku katakan... aku tak pernah menganggap mu sebagai kakak ipar! Dan jika memang benar aku menindas mu... apa hubungannya dengan kakak ku!" Aldo bicara dengan santainya sambil menyendok makanan yang ada di depan Aira.
Aira langsung merebut kembali makanan yang kembali di sendok oleh Aldo. Ia langsung memakan makanan itu dengan lahap karena merasa kesal pada Aldo.
"Sepertinya aku bisa membuat selera makan mu kembali membaik? Tapi jika besok-besok kau memohon untuk membantu mu lagi, aku tak akan melakukannya secara cuma-cuma!" Aldo tersenyum menyindir ke arah Aira.
Aira tak menanggapi perkataan Aldo, ia bersikap dingin dan tak acuh padanya. Aldo merasa tak nyaman dengan itu. Ada perasaan tak biasa saat melihat sikap dingin dan tak acuh Aira padanya.
"Mau kau perlihatkan pada siapa tampang dingin dan jelek mu itu? Merusak pemandangan aja!" Aldo masih mencoba untuk menggoda Aira.
"kalau gitu, tak usah lihat! Tak ada yang memaksa mu untuk melihat ku!" Aira pergi meninggalkan Aldo tanpa menoleh dengan rasa kesal.
Aldo begitu emosi dengan sikap Aira, tapi ia berusaha menahannya karena mengingat Aira saat ini sedang datang bulan. Mungkin sikapnya hari ini karena temperamennya sedang buruk karena datang bulan.
Aira masuk ke dalam kamar dan membuka laptop dan juga buku yang ada di atas meja. Ia jadi bingung sekaligus kesal pada dirinya sendiri. Sebenarnya hari ini ia ingin membicarakan masalah pamannya kemaren, tapi karena ia tak bisa menahan emosinya semua jadi berantakan. Saat membuka buku, Aira menemukan catatan dari petugas minimarket yang menyebut kata suami. Baginya kata-kata itu terdengar begitu indah, namun semua itu hanyalah kesalahpahaman belaka.
Akhirnya Aldo yang merasa ada yang aneh dengan perasaannya pun menyusul Aira naik ke lantai atas. Aira yang menyadari kedatangan Aldo bergegas menyembunyikan kertas catatan itu. Aira pikir Aldo pasti datang untuk menghinanya lagi. Aldo membuka pintu dan langsung menatap Aira yang terlihat sedikit gugup.
__ADS_1
"Bukankah kamar pengantin begitu mewah dan besar? Ngapain kamu tidur di kamar tamu?" Aldo berkacak pinggang di depan Aira yang kini sudah duduk di atas kasur.
"Bukankah kau begitu suka dengan kamar mandi di kamar itu? Jadi ya aku berikan kamar itu untuk mu.. itu adalah keputusan yang aku dan Aldi buat bersama!" Aira meninggikan suaranya karena kesal pada Aldo.
Aira kesal karena Aldo selalu keluar masuk kamar pengantin milik Aira dan Aldi tanpa ijin dan sesuka hatinya. Aira jadi tak bisa melakukan apapun dan tak bisa tidur karenanya.
Bukannya marah Aldo justru langsung berbaring di atas ranjang. Aira semakin dibuat kesal olehnya.
"Kenapa kamu malah berbaring di situ?" Aira menoleh dan berteriak ke arah Aldo yang sudah berbaring dengan santainya di tempat tidur.
Bukannya menjawab, Aldo justru menarik Aira hingga jatuh tepat di atas tubuhnya. Aira yang tak ada persiapan pun wajahnya terbentur dada bidang Aldo.
"Aww..aw... sakit sekali!" Aira mengusap bagian hidungnya yang terasa sakit.
"Lepaskan Aldo...!! Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" Aira berusaha memberontak dari pelukan Aldo, bagaimanapun posisinya saat ini terlihat tidaklah baik.
"Apa kau tak bisa menurut sedikit? Diamlah dan biarkan aku memeluk mu sebentar saja!" Aldo memejamkan matanya, ia terlihat begitu lelah.
Aira diam sejenak, ia bahkan tak tahu apa yang terjadi dengannya. Hatinya saat ini benar-benar tak bisa ia mengerti. Tiba-tiba saja Aira tersadar dari lamunannya, bagaimana bisa ia berbaring di ranjang yang sama dengan adik iparnya sendiri. Dia benar-benar sudah gila, Aira kembali meronta-ronta dan memberontak membuat Aldo sedikit gelisah. Saat ini posisi Aira berada di atasnya, gerakan Aira saat ini sama saja dengan memancing hasratnya.
"Jangan bergerak sembarangan bodoh!" Aldo berteriak pada Aira namun tetap tak mau melepaskan Aira.
"Lepaskan aku Aldo! Gimana aku bisa nggak bergerak kalau kamu begini! Aku ini kakak ipar mu Aldo!" Aira masih tak mau berhenti bergerak di atas Aldo.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Aldo mencium bibir Aira begitu lama hingga Aira tak memberontak lagi. Setelah Aira tenang, Aldo baru melepaskan ciuman bibir mereka. Aira terengah-engah karena kesulitan bernafas. Aldo tersenyum puas dengan melihat wajah Aira yang sudah mulai memerah.
"Ku mohon Aldo! Kita tak boleh melakukan ini.. aku adalah kakak ipar mu!" Dengan nafas yang masih belum teratur Aira bicara.
"Tak boleh melakukan apa hem...?? Dan sudah ku bilang berapa kali, bahwa aku tak pernah menganggap mu sebagai kakak ipar!" Aldo masi mengelus pipi Aira yang mulai memerah.
"Tidak boleh begini... a..aku adalah..." Belum sempat Aira meneruskan kata-katanya Aldo kembali mencium bibir **** Aira.
Aldo seperti candu saat melihat bibir Aira, ia tak bisa menahan rasa ingin menciumnya. Bahkan jika bisa ia kini ingin menikmati seluruh tubuh Aira, hasratnya benar-benar memuncak. Tapi bagaimanapun juga ia hanya bisa mencium Aira karena saat ini Aira sedang datang bulan.
"Lepas...lepaskan Aldo..!" Aira masih terus berusaha memberontak hingga tangannya tak sengaja menyentuh senjata Aldo yang sudah berdiri bagai tongkat kayu. ( Hayo disini ada yang sudah piktor ya..🤣)
"Aaaaa... maafkan aku! Aku tak sengaja!" Aira benar-benar takut sekarang.
"Sudah ku bilang jangan sembarangan bergerak! Aku tak akan melakukannya sekarang karena aku tahu kamu sedang datang bulan.. jadi tenanglah!" Aldo mengusap kasar wajahnya.
Aira masih saja berusaha bangkit dari atas tubuh Aldo, ia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Aldo.
"Sudah ku bilang jangan bergerak atau aku akan melakukan lebih pada mu!" Aldo mengeratkan pelukannya pada Aira.
Mendengar apa yang di ucapkan Aldo, Aira langsung diam membeku. Ia tak lagi berani bergerak. Karena terlalu lelah, Aira tak sadar sudah tertidur.
"Kalau tidur begini ia terlihat seperti seekor kelinci! Sangat imut.." Aldo mencolek pipi Aira yang cabi.
__ADS_1
Entah kenapa ia merasa senang dan tenang saat memeluk Aira. Seakan ia melupakan segala masalah hidupnya.