
Lina merasa rencana mamanya pasti gagal, ia tak ingin menanggung rasa malu untuk yang kedua kalinya.
"Tenanglah Lita.. bukankah disana masih ada Aira! Aku akan menelponnya agar menemani dan membantu mu nanti disana!" Gisel masih saja bersikukuh agar Lita pergi ke keluarga Pangestu.
Akhirnya mau tak mau Lita tetap membawa paper bag berisi keu mangga itu. Setidaknya nanti ia akan beralasan bahwa kue itu bukan untuk Aldo tapi untuk Aira sehingga dirinya tak akan merasakan malu karena ditolak.
Lita berjalan menuju garansi dimana mobil pribadi miliknya berada. Saat akan membuka pintu mobil, tiba-tiba saja Dona datang dan hendak meraih paper bag yang ia bawa.
"Hey.... hey... apa ini? Bentuk dan hiasan paper bag ini indah sekali... apa isinya?" Dona mengangkat tangannya ingin meraih paper bag yang dibawa Lita.
"Kenapa? Kepo banget sih jadi anak!" Lita menjauhkan paper bag yang ia bawa dari tangan Dona.
Lita sengaja melakukan itu agar Dona semakin penasaran. Dona datang diwaktu yang tepat bagi Lita saat ini, Lita akan memanfaatkan Dona untuk mengantarkan kue itu pada Aldo. Ia ingin tahu, apakah Aldo akan menerima itu atau justru menolaknya.
"Hey, aku ini adik mu... kenapa kau begitu pelit sih!" Dona melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ini adalah kue mangga! Mama bilang, ini makanan kesukaan Aldo! Ia menyuruh ku mengantarkan ini untuknya!" Lita sengaja memancing Dona.
"Hah...!!! Mama benar-benar nggak adil! Dia berusaha keras membantu mu untuk dekat dengan Aldo, sementara aku?!" Dona bicara dengan nada sedikit lebih tinggi karena merasa kesal.
Sepertinya Lita berhasil memancing Dona. Ia bisa dengan mudah membuat Dona jadi bahan percobaan untuknya.
"Oke... oke... Kau bisa pergi menggantikan ku untuk mengantarkan kue ini agar kau tak merasa bahwa mama nggak adil pada mu! Gimana?" Lita tersenyum anggun sambil menyodorkan paper bag berisi kue mangga itu pada Dona.
"Oke, aku akan pergi! Bukankah lebih baik aku aja yang pergi daripada kau yang sudah pernah ditolak mentah-mentah oleh Aldo!" Dona menerima paper bag itu dengan sebelah tangannya sementara tangan satunya lagi ia gunakan untuk mengibaskan rambutnya ke belakang dengan gayanya yang centil.
__ADS_1
Lita yang mendengar kata-kata Dona barusan benar-benar merasa dongkol, namun ia tahan agar rencana berjalan mulus. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Aldo pada Dona nantinya.
"Baiklah, kau bisa pergi! Jangan lupa tanyakan pada Aira tentang masalah yang dibicarakan ayah kemarin!" Lita menyelipkan rambutnya dan berbalik ingin masuk ke dalam rumah.
"Oke, serahkan aja pada ku!" Dona bergegas masuk ke dalam mobil pribadinya, ia bergegas mengemudi mobil menuju rumah keluarga Pangestu.
Di kamar lantai atas keluarga Pangestu Aira tengah menerima telfon dari Gisel. Ia memperingatkan Aira agar menemani Lita menemui Aldo dan memastikan segalanya berjalan lancar untuk Lita.
"Aira, sebentar lagi Lita akan datang membawakan kue kesukaan Aldo.. bantulah dia sebisa mungkin untuk dekat dengan Aldo! Jangan sampai Lita ditolak dan dipermalukan seperti kemarin!" Gisel menegaskan kata -katanya agar Aira mengerti maksudnya.
"Baiklah Tante, aku akan membantu Lita sebisa ku!" Aira merasa tak yakin bisa membantu Lita, karena ia sendiri tak bisa menebak isi pikiran Aldo.
"Kau harus berusaha keras membantu Lita! Baiklah, mungkin sebentar lagi Lita akan sampai disana.. aku tutup dulu telfonnya!" Gisel mematikan secara sepihak panggilan telfonnya.
Aira sendiri bahkan tak tahu harus bagaimana. Dengan arogansi tinggi yang dimiliki oleh Lita, ia pasti akan sangat terpukul dan malu jika sampai ditolak lagi oleh Aldo. Tapi harus bagaimana, Aira juga bingung. Tapi ada seorang gadis cantik dan juga ditambah kue kesukaannya, harusnya Aldo kali ini tak akan menolaknya lagi.
"Hey... hey... Aira, apa kabar mu?" Dengan gaya centil Dona langsung berlari ke arah Aira.
Aira yang melihat Dona yang datang dan bukan Lita sangat terkejut, karena Gisel tadi bilang Lita dan bukan Dona. Aira termangu tapi hanya untuk sepersekian detik sebelum ia terpesona oleh kecantikan paper bag yang dibawa oleh Dona.
"Anu... em dimana Lita?" Aira menatap wajah Dona yang terlihat begitu senang.
"Dia takut ditolak Aldo lagi, jadi dia suruh aku yang datang kesini menggantikannya! Oh Aira, aku benar-benar nggak sabar buat nikah sama Aldo!" Dona berkata dengan nada penuh percaya diri.
Aira merasa lebih baik Lita yang datang daripada Dona, jika Lita yang bersikap tenang dan anggun aja di tolak oleh Aldo apa lagi Dona yang bergaya bar-bar dan juga kecentilan. Apa lagi belum apa-apa saja Dona sudah mengkhayalkan pernikahannya dengan Aldo.
__ADS_1
"Oh ya Aira, dimana Aldo?" Dona celingukan ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Aldo.
"Ehm, sepertinya ia ada di ruang perawatannya Aldi!" Aira melirik ke lantai atas.
"Hem, benarkah? Lalu gitu, dimana kamar tidurnya Aldo? Aku akan langsung mengantarkan kue ini kesana!" Dona terlihat tak sabar lagi.
"Ehm, sepertinya nggak baik deh kalau kamu ke kamarnya Aldo!" Aira takut Aldo akan sangat marah nantinya.
"OMG.... apanya sih yang nggak baik! Ini udah jaman apa coba? Udahlah, cepet katakan dimana kamar Aldo?" Dona menepuk jidatnya lalu mengguncang tubuh Aira agar memberitahu dimana letak kamar Aldo.
Aira tak tahu harus menjawab bagaimana, ia sendiri bahkan tak tahu dimana kamar Aldo berada. Jika ia memberitahu Dona jika tak tahu kamar Aldo dimana, Dona pasti tidak akan percaya. Aira meremas tangannya bingung sekaligus cemas menjadi satu.
"Ah lelet amat sih! Udah deh lebih baik aku cari sendiri!" Langsung saja naik tangga menuju lantai atas.
"Dona jangan....." Aira mengejar Dona yang sudah menaiki tangga menuju lantai atas.
Aira benar-benar takut jika Dona membuat kesalahan, ada banyak aturan di rumah keluarga Pangestu. Aira sebagai nyonya di rumah itu saja tidak di ijinkan sembarangan masuk kamar manapun di rumah itu tanpa ijin.
Saat sampai dipertengahan tangga menuju lantai atas, Dona berpas-pasan dengan Aldo yang ingin turun ke lantai bawah.
"Wow... ganteng bangett!!" Dona langsung terkesima seketika saat melihat Aldo.
"Selesai sudah..!" Aira merasa semuanya akan sulit dihadapi sekarang.
"Hay.. aku di suruh mama buat anterin kue ini untuk mu!" Masi dengan tatapan tanpa berkedip sedetikpun Dona mengulurkan paper bag berisi kue mangga tadi pada Aldo.
__ADS_1
"Maaf sudah merepotkan nona Dona! Mari kita turun ke bawah untuk mengobrol!" Aldo memberikan paper bag itu pada Lina yang ada di belakangnya.