
Di kantor semua anggota dewan pemegang saham telah hadir dan berkumpul di ruang rapat bersama dengan Baskoro. Saat melihat kedatangan Aldi, Aira dan juga Burhan. Semua orang saling berbisik, bahkan Baskoro begitu terkejut.
Baskoro sebelumnya telah mengumumkan bahwa Aldi sekarat dan kematiannya tinggal menunggu hari. Sebab itulah semua anggota dewan mengadakan rapat dadakan hari ini, tidak disangka Aldi justru hadir di dalam rapat ini.
"Kenapa kalian menatap ku begitu? Aku Aldi, meski wajah ku rusak.. tapi tubuh ku masih berfungsi dengan baik! Keuntungan dan bonus tahunan kalian akan aku naikkan lebih dari yang aku janjikan sebelumnya! Kalian tak perlu khawatir, Aldo tak tertarik dengan grup Pangestu! Justru sebaliknya, dengan bantuan kekuasaannya di kota ini.. kita bisa mendapatkan keuntungan besar! Kedatangan ku kali ini adalah untuk dua hal! Yang pertama untuk meyakinkan kalian tentang adik ku dan yang kedua tentang penggantian tanggung jawab para manajer tingkat menengah ke atas! Aira, bacakan perjanjiannya!" Aira mulai berdiri dan membuka sebuah dokumen yang dari semalam ia baca.
Aira membacakan dokumen dengan lancar, semua orang saling berbisik setelah mendengarnya. Baskoro di buat tak berkutik dengan kebijakan yang di buat Aldi.
Stabilitas perusahaan adalah yang terpenting untuk saat ini. untuk meyakinkan Baskoro, Aldo telah menyerahkan departemen pemasaran padanya dan menunjuk seorang wanita terkemuka dari Amerika untuk mengambil alih manajemen keuangan.
Keuntungan perusahaan adalah yang paling diperhatikan oleh para pemegang saham di perusahaan. Keuntungan perusahaan yang dipersembahkan oleh Aldo dan Aldi sudah cukup untuk melindungi Aldi sebagai ahli waris pertama, dan bukan Baskoro. Kali ini Baskoro kalah telak oleh Aldi dan Aldo. Para pemegang saham sudah menyetujui dan menandatangani surat perjanjian tersebut.
Aira, Aldo dan Burhan kini kembali pulang dengan cepat. Mereka beralasan Aldi tak boleh terlalu lama di luar ruangan, ia masih belum pulih dan membutuhkan perawatan yang intensif.
Sebenarnya Aira tadi benar-benar gugup, namun berkat Aldi semua berjalan lancar tanpa hambatan. Aira benar-benar berterima kasih padanya.
"Aldi, kamu pasti lelah! Biarkan aku memijit mu! Tenaga segini apa cukup atau itu membuat mu merasa sakit?" Aira memijit punggung Aldi dengan lembut dan hati-hati.
Aldo merasa nyaman dan tak menjawab perkataan Aira. Ia benar-benar tak sadar bahwa dirinya kini sedang menyamar menjadi Aldi.
"Aldi ...!" Aira berkali-kali mencoba berbicara padanya namun tak ada sahutan dari Aldi.
"Panggi aku suami ku!" Aldo yang tersadar begitu kesal saat Aira memanggilnya Aldi.
"Su...suami ku! Hari ini kamu benar-benar hebat sekali! Aku benar-benar takjub pada mu!" Wajah Aira merona merah saat memanggil Aldi dengan sebutan suami ku.
Mendengar kata-kata Aira, Aldo menjadi tegang. Ia ingat dengan benar bahwa ia belum mendapatkan haknya sebagai suami Aira. Aldo menelan ludahnya sendiri, kali ini Aldo ingin meminta haknya sebagai suami Aira. Tubuh dan apapun yang ada pada Aira adalah miliknya seutuhnya.
"Di dalam mobil sedikit pengap! Tolong bantu aku menyingkirkan selimut ini dari kaki ku Aira!" Aldo menoleh ke arah Aira.
"Ba...baiklah!" Aira begitu gugup mendengar Aldi bicara.
Aira pikir karena selimut itu Aldi merasa gerah dan membuat wajahnya sedikit memerah. Saat Aira menariknya, selimut itu tersangkut celana dan kaki Aldi. Aira begitu terkejut saat membuka bagian kaki bawah Aldi, terlihat kakinya begitu mulus tanpa bekas luka. Pantas saja malam itu bagian tubuh milik Aldi yang itu berfungsi, ternyata yang terbakar hanya bagian atas tubuhnya.
__ADS_1
"Kau terlihat begitu penasaran dengan tubuh ku ya! Aku bisa melepas seluruh pakaian ku jika kau ingin melihatnya..." Aldo mulai menjahili Aira lagi.
Wajah Aira memerah karena malu, bagaimana bisa sifat Aldi begitu mirip dengan sifat Aldo adik kesayangannya itu. Mereka benar-benar mesum.
"Apakah Aldo bersikap baik pada mu? Apa dia menindas mu?" Aldi memandang ke arah luar jendela, entah apa yang ada dalam benaknya saat ini.
"Tidak... dia lumayan baik pada ku!" Aira meremas roknya, entah apa yang terjadi ada dirinya hingga ia tak mengatakan keburukan Aldo pada Aldi suaminya.
"Aku dengar kamu melindungi dia dari tumpahan sup panas? Coba aku lihat luka di punggung mu!" Aldo yang menyamar menjadi Aldi menatap khawatir pada Aira.
Meski Lina sudah memberitahunya bahwa luka Aira sudah membaik, tetap saja Aldo ingin melihatnya sendiri. Ia ingin memastikannya sendiri jika tidak ia tak kan bisa tenang.
"Kau tak perlu khawatir, Lina bilang lukanya sudah membaik dan tak akan meninggalkan bekas luka!" Aira melambaikan kedua tangannya dan salah tingkah.
"Jika aku tak melihatnya dengan mata ku sendiri aku tak akan bisa tenang!" Aldi menatap serius ke arah Aira.
Sebenarnya Aldo juga ingin melihat perbedaan antara sikap Aira pada Aldi dan dia. Ia ingin tahu bagaimana ia akan memperlakukan Aldi, apakah sama dengan perlakuannya padanya. Aira melirik ke arah depan, di sana sopir dan juga Burhan terlihat tidak enak saat mendengar kata-kata Aldi. Aira merasa malu akan hal ini.
"Aldi, aku benar-benar sudah sembuh! Aku sudah tak apa-apa!" Aira berharap Aldi mau mengerti posisi mereka saat ini.
Aira merasa Aldi dan Aldo sama-sama begitu pemarah, ia benar-benar tak tahu harus bagaimana menghadapi sikap keduanya.
"Uhuk...uhhuk..uhuk!" Tiba-tiba saja Aldi terbatuk-batuk, Aira begitu terkejut dan bingung harus berbuat apa.
"Suami ku, kau tak apa-apa kan?" Aira memegang tangan Aldi dengan penuh rasa khawatir.
Lina bilang adanya bahwa Aldi masih butuh alat bantu pernafasan untuk bernafas. Keadaan Aldi terlihat memburuk, Aira bingung harus bagaimana saat ini.
" Kau membuat ku marah!" Aldi menarik lengan Aira hingga membuat Aira terjatuh duduk dipangkuan Aldi.
"Al... suami ku, kamu jangan seperti ini!" Aira melirik Burhan dan pak sopir, ia merasa malu dengan posisi duduk mereka saat ini.
"Diam, jangan bergerak! Biarkan aku memeluk mu sebentar!" Aldo yang menyamar menjadi Aldi justru memanfaatkan kesempatan ini untuk memeluk Aira lebih lama.
__ADS_1
Aira berharap Aldi benar-benar hanya memeluknya, ia tak ingin Aldi bertindak lebih jauh. Apa lagi mereka saat ini sedang berada dalam mobil bersama dengan orang lain.
Mereka telah sampai di rumah keluarga Pangestu. Aira bergegas turun dari pangkuan Aldi. Saat Burhan mendorong kursi roda Aldi masuk ke dalam rumah, Aira dengan lembut menggenggam tangannya.
"Suami ku, tolong ijinkan aku ikut merawat mu di ruang perawatan! Aku berjanji tak akan mengganggu mu, aku hanya ingin merawat mu!" Aira menatap Aldi dengan penuh kelembutan.
Aldo yang mendengar dan melihat sikap Aira begitu marah. Entah kenapa ia merasa Aira begitu peduli dan mencintai Aldi kakaknya. Aldo merasa kenapa Aira begitu ingin bersama dengan kakaknya lebih lama, atau gadis itu hanya sedang berpura-pura dan sangat pandai berakting. Atau Aira benar-benar jatuh cinta pada Aldi kakaknya yang bahkan seluruh wajahnya dan kulitnya hancur dan cacat.
π π π π π π π π π π π π π π π π
Hanya ada ego semata
Membuat mu kian terluka
Salahkah aku yang begitu egois
Tak ingin kehilangan cinta dan bahagia
Meski harus berkali-kali melukai mu
Tak bisa ku lepaskan mu
Namun diri tak bisa tunjukan cinta pada mu
Ego ku lukai kau dan dia
Memaksa mu dan dia tetap disisi ku
Tak bisa memilih antara kau dan dia
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Jangan lupa like π dan komen ya βΊοΈπ...
__ADS_1
Jangan lupa kasih rate juga...π€