
"Kamu nggak keberatan jika aku merokok kan?" Aldo mengambil rokok dari dalam sakunya, ia terlihat begitu lelah.
Aira tak menjawab Aldo, ia hanya sedikit memperhatikan apa yang dilalukan oleh pria itu. Aira perlahan melepaskan selimutnya, ia bangkit dari atas tempat tidur menuju meja.
..."Kembali ..." Aldo berteriak saat tahu Aira bangkit dari tempat tidur, emosinya kembali tersulut oleh gadis itu....
"Aku hanya ingin mengambilkan asbak untuk mu! Aku tak mau debu rokok mu bertebaran kemana-mana!" Aira menoleh sebentar lalu bergegas melangkah pergi mengambil asbak untuk Aldo.
Setelah Aira meletakkan asbak di meja, tak ada lagi percakapan diantara keduanya. Aldo sudah menghabiskan satu batang rokok, ia kembali menyulut satu batang rokok lalu menoleh ke arah Aira.
"Apa kau membenci ku?" Aldo tertawa kecut melihat Aira menutup hidungnya karena asap rokok Aldo.
"Saat kau tak bersikap kurang ajar pada kakak ipar mu ini, menurut ku.. kau lumayan baik!" Aira mengalihkan pandangannya ke arah lain, bagaimanapun juga tanpa ia sadari setiap kali berdekatan dengan Aldo jantungnya berdegup kencang.
"Kakak ipar... huh! Kau begitu senang ya jadi istri kakak ku?" Aldo tersenyum kecut.
Aira menyadari ada sesuatu yang aneh dari ungkapan Aldo itu, namun ia tak ingin bertanya lebih dalam lagi atau pada akhirnya dia sendiri yang mendapatkan masalah. Saat Aldo ingin menghisap rokoknya lagi, tiba-tiba Aira merebut dan mematikannya. Ia menarik tangan Aldo dan memberikan sepotong kue buatannya.
"Sore tadi aku membuat makanan untuk Aldi, sekalian aku membuat kue! Kau bisa memakan kuenya!" Aira berkacak pinggang sambil menatap tajam Aldo yang melihat kue di tangannya.
Aldo merasa aneh melihat sepotong kue di tangannya, ia tersenyum menganggap Aira seperti seorang anak kecil. Bergegas ia cicipi kue buatan Aira, ini pertama kalinya Aldo makan makanan manis setelah sekian lama.
"Gimana rasanya? Apakah enak?" Aira menatap Aldo penuh harap, berharap apa yang dia buat bisa di sukai keluarga ini.
"Hem, lumayan tapi terlalu manis!" Aldo mengambil lagi kue yang masih ada di piring, ia bahkan sudah hampir menghabiskan semua kue itu.
"Terlalu manis, tapi semuanya kau habiskan... dasar!" Aira bergumam lirih.
Aira menatap Aldo yang memakan habis kue di piring, ia terlihat manis saat bersikap baik. Dalam benak Aira juga bingung, menganggap Aldo sebagai adik tapi umurnya lebih tua dari Aira. Aldo yang menyadari diperhatikan oleh Aira menghentikan makannya.
"Bagaimana keadaan luka di punggung mu?" Aldo menatap Aira.
"Su... sudah baikan!" Aira kembali memasang mode waspada.
"Biar ku lihat! Aku baru akan merasa tenang setelah melihatnya.." Aldo tersenyum melihat sikap Aira yang mulai waspada padanya.
__ADS_1
"Ti...tidak perlu! Bibi sudah membantu ku mengoleskan obat tadi!" Aira segera beringsut mundur menjauh dari Aldo.
Aldo memasang wajah kesal, dalam pikirannya kenapa Lina mengoleskan obat untuk Aira padahal itu bukanlah begian pekerjaannya. Bagi Aldo hanya dia yang boleh melihat tubuh Aira. Tak berselang lama setelah Aldo terdiam, Lina datang membawakan spaghetti untuk makan malam Aldo. Lina kebingungan mendapati Aldo yang terlihat suram dan menakutkan.
"Tuan Aldo, aku bawakan spaghetti untuk mu! Kau belum makan dari tadi siang!" Lina masuk dan mendekati Aldo.
""Letakkan saja di meja!" Aldo merasa kesal pada Lina, baru juga di omongin eh orangnya malah datang.
"Makanlah dulu.. nanti dingin jadi tidak enak! Lihatlah tubuh mu kini sangat kurus!" Lina menyodorkan piring berisi spaghetti pada Aldo.
Aira termangu mendengar kata kurus Aira termangu, seorang Aldo yang memiliki postur tubuh atletis dan berisi dibilang kurus. Memang dulu Aldo segemuk apa pikir Aira. Melihat Aldo dan Lina, Aira ingin mencuri kesempatan keluar dari kamar itu dan pergi menemui Aldi.
"Kau mau kemana?" Aldo berteriak karena menyadari Aira ingin kabur keluar dari kamar.
..."Telinganya tajam banget sih! Aku mau mengambilkan minum untuk mu!" Aira bergegas keluar sebelum Aldo berubah jadi beringas lagi....
Mendengar kata-kata Aira Aldo membiarkannya pergi. Ia terpaksa memakan spaghetti buatan Lina yang kini berada di tangannya. Dalam benaknya, mau lari kemana pun Aira tetap tidak akan bisa terlepas dari genggaman Aldo.
Aira mencuri kesempatan ini untuk pergi ke ruang perawatan. Ia ingin bertemu dengan Aldi. Sampai di ruang perawatan, dokter tetap tak mengijinkan Aira masuk.
..."Maaf nyonya, tuan belakangan ini harus berada di ruangan yang steril..." Dokter tak berani memberikan ijin Aira untuk bertemu dengan Aldi....
"Aku akan memakai baju steril dan kau juga bisa menyemprotkan obat untuk mensterilkan aku sebelum masuk.." Aira benar-benar ingin bertemu dengan Aldi.
"Haiz, kondisi tuan Aldi sedang tak baik! Ia tak ingin menemui siapapun!" Dokter hanya bisa menghela nafas, bagaimanapun juga ia hanya menjalankan perintah bosnya.
Aira mengangguk dan berbalik pergi. Ia menghela nafas kecewa, bagaimanapun juga ia tak bisa menyalahkan dokter itu. Dokter hanya menjalankan perintah dari seseorang. Tanpa disadari Aira, Aldo sedang mengawasinya dari balik dinding. Aldo kembali tersulut emosi karena Aira berani diam-diam menemui kakaknya tanpa ijin darinya.
"Besar sekali nyalinya... siapa yang memberinya keberanian sebesar itu!" Aldo mengepalkan tangannya menahan emosi.
Aira dengan wajah lesu berjalan menuruni tangga. Ia di kejutkan dengan Burhan yang berlari kencang dari arah luar rumah.
"Nyonya... dimana tuan Aldo?" Burhan berteriak sambil berlari.
"Dia seharusnya masih makan di kamar tamu! Apa yang terjadi pak Burhan?" Aira melihat Burhan yang begitu terburu-buru dan cemas.
__ADS_1
Saat mendengar suara teriakan Burhan, Aldo bergegas keluar dan menemuinya. Wajahnya terlihat dingin dan mencekam.
"Tuan, ada masalah besar!" Burhan bergegas mendekat ke arah Aldo berdiri.
"Segera ke ruang kerja ku!" Aldo bergegas ke ruang kerja bersama Burhan.
Aira menatap keduanya yang berlalu pergi tanpa memperdulikan dirinya yang juga ingin tahu. Terlihat dari sikap keduanya sepertinya terjadi masalah besar.
"Tuan Aldo lihatlah! Ini adalah surat wasiat yang di tulis tuan Aldi, aku memfoto copy itu dari pengacara keluarga Pangestu!" Burhan menyodorkan selembar surat wasiat yang sudah ia foto copy.
"Surat wasiat, bagaimana bisa ia menulis surat wasiat ini sementara ia masih hidup!
Keadaannya baik-baik saja!" Aldo berteriak tak terima dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Dan ini.. tak ku sangka ia ingin mengalihkan perusahaan Pangestu pada Baskoro! Apa dia sudah gila!" Aldo mengepalkan tangannya menahan emosi yang semakin memuncak.
Bagaimana bisa Aldi berpikir ingin memberikan grup Pangestu pada Baskoro, sementara Baskoro adalah dalang di balik kecelakaan naas yang menimpanya dengan Aldo waktu itu. Aldo benar-benar tak bisa menerima apa yang dilakukan Aldi.
π π π π π π π π π π π π π π π π
***Rasa yang singgah dalam hati
Membawa bahagia dan juga luka
Marah, menangis dan tertawa
Kau buat ku jadi bodoh
Kau buat ku buta akan dunia
Hanya terpaku menatap mu seorang
π π π π π π π π π π π π π πΉπ π
Jangan lupa like π dan komen ya βΊοΈπ***
__ADS_1