
***Terbiasa bersama dengannya
Melewati hari demi hari dengan tawa
Terbiasa mendengar suara mu
Terbiasa dengan tawa mu
Tiada hari tanpa mu
jangan lupa like π dan komen ya βΊοΈπ
π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π π ***
Mobil Aldo memasuki halaman rumah keluarga Pangestu. Setelah berhenti, tanpa aba-aba Aldo lagi-lagi menggendong Aira.
..." Lagi? Aldo lepaskan aku... turunkan aku.. aku bisa jalan sendiri! Yang terluka punggung ku bukan kaki ku brengsek!" Aira terus memukuli punggung Aldo, berharap ia mau menurunkannya....
"Aaaa... bagaimana bisa ia menggendong kakak iparnya sendiri layaknya menggendong seorang istri di depan keluarga Pangestu! Bagaimana jika nanti Aldi melihatnya, ia pasti akan salah paham.." Aira memejamkan matanya membayangkan kemungkinan yang akan terjadi.
..."Tuan, kamu sudah pulang?" Lina yang membuka pintu terlihat terkejut melihat Aldo menggendong Aira....
"Waduh, apa yang terjadi? Sepertinya ada kemajuan dalam hubungan mereka berdua! Sepertinya mereka berdua sudah mulai akur! Eh, yang dipakai oleh nyonya Aira bukannya baju milik tuan Aldo?" Lina merasa senang melihat apa yang dilakukan Aldo pada Aira.
"Aaaa... bibi bantu aku!" Aira terus memukuli Aldo agar merunkannya, sementara Lina justru melambaikan tangan sambil tersenyum.
..."Aldo.... turunkan aku, bibi melihat kita...!!" Aira berteriak sekuat tenaga namun sepertinya tak ada yang memperdulikannya....
..."Sudahlah, tak apa-apa jika tak mau membantu ku! Tapi dia justru tersenyum seakan kami adalah pengantin baru yang sedang kasmaran! Bagaimana bisa mereka tersenyum melihat seorang adik ipar menindas kakak iparnya..." Aira benar-benar kecewa namun tak bisa berbuat apa-apa....
__ADS_1
...Aldo terus berjalan naik ke lantai atas sambil menggendong Aira. Aira mulai frustasi karena Aldo tak menghiraukannya sama sekali. Saat Aira dan Aldo melewati ruangan perawatan Aldi, Aira mulai berulah lagi....
"Ini ruang perawatan Aldi! Maafkan aku Aldi, sebenarnya aku tak mau mengganggu mu tapi..." Aira mulai memikirkan sesuatu.
"Aldi tolong aku... Aldo lagi-lagi berbuat tidak sopan pada ku!" Aira berteriak tepat saat mereka melewati depan pintu kamar perawatan Aldi.
"Kenapa berteriak minta tolong pada kakak ku sih! Berisik tau.. kau hanya akan mengganggu istirahatnya!" Aldo melirik sekilas ke arah Aira.
..."Dasar gadis bodoh! Berani-beraninya ia berteriak minta tolong pada kakak ku!" Aldo bicara dalam hati....
..."Aldo turunkan aku...!" Aira tetap berteriak pada Aldo....
"Tunggu sampai aku selesai mengobati luka mu.. baru aku melepaskan mu.." Aldo tersenyum penuh kemenangan.
..."Apa... aku pukul kamu sampai mati! Cepat lepaskan aku!" Aira terus memukuli Aldo, namun percuma karena bagi Aldo pukulan Aira tak berasa sama sekali....
Aira melempari Aldo dengan bantal, ia membalut seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Aldo yang melihat tingkah Aira justru tersenyum. Entah kenapa ia seperti melihat seekor kucing yang sedang marah.
..."Aku hanya ingin mengoleskan obat ini pada luka mu! Kenapa sikap mu itu menunjukkan seolah-olah aku akan memperkosa mu!" Aldo dengan santai mendekati Aira....
"Kamu bisa menaruhnya disitu dan pergilah... aku bisa mengoleskannya sendiri!" Aira tetap tak mau membuka selimut yang ia gunakan.
..."Tapi aku mau membantu mu untuk mengoleskannya!" Aldo menjawabnya dengan penuh penekanan....
"Aku benar-benar tak mengerti dengannya, banyak wanita tergila-gila padanya.. tapi kenapa ia justru selalu menggoda ku yang jelas-jelas adalah kakak iparnya sendiri! Bukankah ini berarti ia tak menghormati kakaknya sendiri.. bahkan Lina dan Burhan juga tak mempermasalahkan apa yang ia lakukan pada ku! Ini seperti dipaksa menuju kematian, aku bukanlah gadis jaman dulu.. yang melindungi keperawanannya, hanya saja lebih baik mati dari pada harus tidur dengannya.. bukankah itu adalah hal yang sama!" Aira membuka kancing kemejanya satu persatu.
..."Apa kau sudah puas melihatnya! Ku harap kau masih memiliki hati nurani dan rasa bersalah pada kakak mu.." Aira membuka pakaiannya di depan Aldo....
"Huh, gadis bodoh ini benar-benar keras kepala! Harusnya aku yang merasa marah karena harus menahan diri pada istri ku sendiri.. ini seperti masuk ke ruang eksekusi... benar-benar mengerikan!" Aldo menelan ludahnya saat melihat tubuh Aira.
__ADS_1
Aldo memejamkan matanya sebentar untuk meredam hasratnya. Bagaimanapun dia seorang pria norma, Aldo mulai mengoleskan obat ke punggung Aira yang terluka. Ia mengoleskannya dengan sangat lembut dan juga hati-hati.
"Ku pikir ia merasa bersalah pada ku, dia benar-benar mengoleskan obat pada ku dengan hati-hati dan lembut.." Aira sedikit merasa tak enak hati.
"Aku hanya ingin mengoleskan obat, kenapa sikap mu begitu..?" Aldo bicara dengan pelan.
..."Hem, dari nada bicaranya seolah aku yang membuat kesalahan!" Aira melirik sekilas kemudian memakai bajunya lagi....
..."Pria dan wanita yang tak memiliki hubungan tak boleh melewati batas, dan lagi aku adalah kakak ipar mu.. apalagi di rumah ini juga ada dua dokter..!" Aira masih tak melihat ke arah Aldo....
"Hem, aku tak ingin orang lain melihat tubuh mu!" Aldo bicara dengan ekspresi suram.
..."Astaga, aku sampai kehabisan kata-kata! Ia tak ingin orang lain melihat tubuh ku.. bagaimana dengan dia sendiri coba? Dia melihat tubuh dari istri kakaknya sendiri.." Aira memegangi kepalanya....
"Obat ini khusus untuk luka bakar, itu sangat bagus untuk kulit mu! Tunggu beberapa saat kau harus mengoleskannya lagi.. saat tidur nanti malam, cobalah berhati-hati agar tak menekan punggung mu!" Aldo bergegas keluar kamar meninggalkan Aira yang diam seperti patung.
Lina mondar-mandir memikirkan apa yang terjadi. Ia merasa khawatir jika Aldo dan Aira bertengkar lagi. Melihat Aldo turun Lina bergegas mendekatinya.
..."Apa mereka berdua ribut lagi? Apa tuan Aldo menyakiti nyonya Aira lagi?" Lina bergegas berlari mendekati Aldo....
"Tuan, ada apa dengan mu dan nyonya Aira?" Lina menatap Aldo dengan penuh rasa khawatir.
..."Punggung Aira melepuh, kau perhatikan makanan untuknya selama beberapa hari ini.. setidaknya sampai keadaannya membaik!" Aldo menoleh kearah Lina....
..."Astaga.. bukannya tadi pagi baik-baik saja! Kenapa bisa jadi begitu? Apa yang terjadi? Apa lukanya parah?" Lina begitu terkejut mendengar Aira terluka....
"Sial, ini karena ia bertindak bodoh! Sudah tau dirinya lemah, tapi masih ingin melindungi ku dari semangkuk sup panas!" Wajah Aldo terlihat bersemu merah.
"Jadi nyonya terluka demi tuan Aldo! Sepertinya hubungan mereka semakin dekat, hingga mereka berdua pergi berkencan! Sudahlah, ini bukan saatnya merasa senang.. lebih baik aku masak sup yang bergizi untuk nyonya agar cepat sembuh!" Lina bergegas ke dapur membuat sup untuk Aira.
__ADS_1