
Perkenalkan tuan ini anak saya namanya Caca". Ucap Ahmad memperkenalkan anaknya kepada tamu nya.
Caca yang sudah melepas pelukan dari pamannya, Caca segera mencium punggung tangan ayahnya dan melihat ke arah sebelah pamannya.
Seperti biasa dirinya pun menyatukan telapak tangannya dan di buat di depan dadanya untuk mengucapkan salam perkenalannya kepada lelaki asing tersebut.
"Nama saya Caca Om". Ucapnya menghadap ke arah Alki.
"Senang berkenalan dengan mu nak". Jawab Alki ramah.
Ketika dirinya melihat ke arah Destra, dia pun mengerutkan dahi nya mengingat pertemuannya di cafe.
"Ngapain lagi nih orang". Gumannya dalam hati.
"Kakak bukannya yang di cafe tadi ya?". Tanya nya kepada Destra.
Destra hanya tersenyum bahagia karena Caca masih mengingatnya.
"Ternyata kalian sudah saling mengenal". Tanya Ahmad heran.
"Iya Om". Jawab Destra cepat.
"Tadi sore ayah". jawab Caca
"Benar yang dikatakan Caca kak, tadi Aldo tidak sengaja bertemu Caca di Cafe dekat sekolah nya dia". ucap Aldo menjelaskan.
"Ohh, saya kira sudah lama". jawab Ahmad
"Berarti Caca sudah mengetahui akan kedatanganmu ke kota ini?". Tanya Ahmad
"Iya kak".
"Kok kamu ngak ngomong dengan Ayah, sayang?"
"Ayah ke 2 yang meminta Caca untuk tidak memberitahukan Ayah dan Bunda, kata paman suprise". jawab nya
"Sudah mari kita makan!".seru Ratna
"Iya mari - mari kita makan keburu dingin". Ajak Ahmad mempersilahkan
Sesampainya di meja makan Ahmad sedikit terkejut melihat berbagai macam makanan mewah terhidang di meja makan nya.
Anggi yang menyadari keterkejutan suaminya segera memberitahukan siapa yang membawa makanan sebanyak itu.
"Mereka yang membawanya bang". ucap Ratna memecah lamunan suaminya yang memperhatikan banyak makanan terhidang.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak kalian telah membawa makanan seenak ini". ucap Ahmad.
"Semestinya kami yang menyiapkan makan malam untuk kalian tuan". imbuh nya
"Tidak perlu sungkan pak Ahmad, semestinya kami yang berterimakasih telah menerima kedatangan kami". Jawab Alki
Senyum bahagia terus terlihat di wajah mereka di sela - sela menyantap makan malam mereka.
Destra yang duduk tepat berhadapan dengan Caca terus memperhatikan gerak gerik Caca.
Menyadari dirinya terus diperhatikan oleh Destra sehingga membuat Caca sedikit risih.
"Kakak kenapa sih lihatin Caca terus , ntar sendok kakak bukannya ke mulut malah kehidung baru tahu rasa!". Seru Caca santai dengan menikmati makannya.
Perkataan Caca sontak membuat Destra salah tingkah sampai terbatuk.
" Ca ". tegur Ahmad lembut.
__ADS_1
"Makan yang benar son". Ucap Alki tersenyum dan menyerahkan air putih kepada anaknya.
Alki sedikit menahan tawanya karna melihat wajah anak nya yang sudah merona menahan malu karena ketangkap basah oleh Caca.
"Sayang, tidak boleh seperti itu!". Seru Anggi melihat anaknya yang ceplos ceplos.
"Maaf".ucap Caca dan memajukan bibirnya dan menundukkan kepalanya.
Sedangkan Aldo hanya bisa tersenyum geli. sebenarnya dia ingin sekali tertawa namun karena yang di maksud adalah tuannya terpaksa Aldo menahannya.
"Maafkan anak saya tuan Destra dan tuan Alki". Ucap Ahmad
"Tidak apa - apa pak Ahmad, lagi pula yang dikatakan nak Caca benar ada nya".jawab Alki yang turut menyalahkan anaknya.
Mendengar pembelaan dari Alki, Caca langsung menatap Destra menjulurkan lidah dan menjulingkan bola matanya ke arah Destra, tanpa sepengetahuan ayah dan bundanya.
Melihat Caca mengejek dirinya, kembali membuat Destra salah tingkah. Alki yang melihat tingkah Caca yang menggemaskan, mengejek anaknya seperti itu sontak membuatnya tidak bisa menahan tawa. Akhirnya pecah lah tawa Alki di meja makan tersebut.
Ahmad, Aldo, dan Ratna menatap heran kepada Alki yang tertawa lepas.
"Ada apa tuan?".tanya Aldo kepada Alki
"Tidak apa - apa". jawabnya memberhentikan tawanya secara berangsur dan melanjutkan makannya.
Sedangkan Caca santai saja menikmati makannya seperti tidak ada kejadian.
Setelah acara makan malam selesai, Ahmad mengajak tamu nya untuk bersantai di ruang keluarga mereka. Sedangkan Ratna dan Caca membersihkan piring kotor bekas makan mereka.
Caca yang sibuk mencuci piring, Ratna pun menyiapkan cofee dan menghantarkannya untuk 4 lelaki yang sudah berada di ruang keluarga mereka. Setelah itu Ratna kembali lagi ke dapur.
"Apakah Pak Ahmad dan Aldo saudara kembar?". Itu lah pertanyaan yang sudah sedari tadi ingin ditanyakannya.
"Banyak yang mengira demikian tuan Alki, tapi kenyataannya kami selisih 2 tahun". Jawab Ahmad tersenyum ramah. Alki dan Destra hanya ber oh ria.
"Sebenarnya ada tuan Alki, saya lebih tinggi dari Aldo, dan badan saya lebih sedikit berisi bila dibandingkan dari adik saya". Jawab ahmad tersenyum.
"Jika saya boleh tahu lagi nih pak Ahmad, usia nak Caca sudah berapa tahun?, maaf jika saya lancang pak Ahmad". Alki
"Tidak apa - apa tuan Alki, Saya semestinya yang meminta maaf mungkin anak saya sedikit kurang sopan tadi di meja makan". Ahmad
"Bukan seperti itu pak Ahmad, Saya sangat senang melihatnya, cantik dan Sholeha". Ucap Alki membenarkan.
"Syukurlah jika demikian, memang terkadang dia suka kelepasan tuan Alki".seru Ahmad yang memang menyadari anak nya suka ceplas ceplos.
"Maklum lah, Caca baru akan menginjak usia 16 tahun tuan Alki, bulan yang akan datang genap usia nya 16 tahun".
"Berarti usia Caca hampir sama dengan usia anak perempuan saya, sekarang masih duduk di bangku kelas 1 SMA pak Ahmad". seru Alki.
"Caca juga masih duduk di bangku kelas 1 SMA tuan Alki". seru Ahmad.
Mereka tertawa bersama mengingat tingkah anak - anak mereka sewaktu kecil. Tidak ada yang mereka tutup - tutupi meskipun hal konyol yang dilakukan anak mereka.
"Saya langsung ke inti saja pak Ahmad". ucap Alki
"Bismillahirrahmanirrahim".
"Maksud dari kedatangan saya ikut serta dengan Aldo kesini ingin menjodohkan anak saya Destra dengan anak pak Ahmad". Ucap Alki tanpa basa basi lagi.
Ahmad yang mendengar penuturan Alki sontak melihat ke arah Aldo adiknya meminta penjelasan atas permintaan Alki. Aldo yang di tatap oleh kakak nya hanya menaikkan kedua pundaknya tanda tidak mengetahui itu semua.
"Maaf pak Ahmad, Aldo sama sekali tidak mengetahui akan tujuan kami ini". Imbuh Alki karena melihat kebingungan diantara mereka.
Ahmad terdiam sesaat untuk memikirkan jawaban yang tepat supaya tidak ada kesalahpahaman nantinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, saya sangat berterimakasih kepada tuan Alki akan niat baiknya, sejujurnya saya juga menyukai tuan Destra, namun usia anak kami masih terlalu dini untuk itu tuan Alki". Jawab Ahmad ramah.
"Saya juga tidak mungkin untuk menikahkan mereka sekarang pak Ahmad, namun saya berharap kepada pak Ahmad untuk memberikan Caca sebagai calon dari menantu saya". Ucap Alki
"Maaf sebelumnya tuan Alki, kami hanya dari keluarga sederhana ini tidak pantas untuk mendampingkan anak kami dengan keluarga kalian". ucap Ahmad
"Kami tidak ada memandangnya dari kalangan mana pun pak Ahmad, karena kita sama di mata Allah, tidak ada perbedaan". jawab Alki
"Alhamdulillah, bagaimana pendapat kamu sebagai pamannya?". tanya Ahmad kepada Aldo.
"Apapun keputusan kakak saya akan menyetujuinya, jika itu yang terbaik buat Caca". jawab Aldo
Ahmad diam sesaat untuk meneguhkan hatinya untuk menerima atau tidak nya perjodohan tersebut.
"Jika demikian saya menerima maksud baik dari tuan Alki namun saya tidak bisa mengatakan tentang perjodohan ini kepada anak kami Caca, saya takut akan mengganggu sekolahnya". Jawab sang Ayah
"Saya mengerti pak Ahmad, saya juga sependapat dengan pak Ahmad supaya tidak mengatakan tentang perjodohan ini dengan Caca. Kami bersedia menunggu Caca hingga dirinya dewasa". seru Alki
"Apakah tuan Destra menyukai anak saya yang suka ceplas ceplos itu?". Tanya Ahmad kepada Destra yang ada di depannya.
"Saya sangat menyukainya dan saya siap menerima segala kekurangannya. Jika kelak kami berjodoh InsyaAllah saya akan menjaganya dan membimbingnya untuk menuju Zannah". Jawab Destra tegas.
"Alhamdulillah". Jawab Ahmad dengan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Ahmad dan Aldo sangat puas dengan jawaban yang Destra sampaikan.
"Baiklah tuan Alki dan tuan Destra, saya sangat bersyukur mendengar jawaban tuan Destra, mudah - mudahan Allah memberi pertemuan kepada mereka berdua". ucap Ahmad
"Amiiin". jawab Alki dan Destra kompak.
Caca yang telah menyesaikan tugas nya segera menghampiri pamannya yang duduk bersebelahan ayahnya dan duduk di antara ayah dan pamannya seperti anak kecil yang manja.
Mereka yang menyadari kedatangan Caca, tidak melanjutkan pembicaraan mereka mengenai perjodohan tersebut.
"Dari mana kamu sayang?". tanya Aldo
"Habis mencuci piring paman". jawab Caca cengengesan.
"MasyaAllah". Ucap Alki dan Destra serentak.
"Kompak banget ya Om dengan kak Destra".
"Namanya juga Papi dan anak". jawab Alki.
"Iya juga ya Om!". Seru Caca cengengesan.
"Caca bisa memasak ngak?". tanya Alki
"Bisa Om, tapi masak air hehehe". jawab Caca cengengesan.
"Ngak boleh bohong sayang ingat dosa". seru Aldo
"hehehe, Caca bisa masak sih Om, tapi tidak seenak masakan bunda". jawab Caca polos.
"Subhanallah". jawab Alki pelan.
Tanpa dia sadari pertanyaan yang di lontarkan Alki kepadanya sebagai keingintahuan Alki kepada calon menantunya tersebut.
Anggi belum mengetahui tentang perjodohan yang telah disetujui oleh suaminya.
Anggi ikut bergabung setelah Caca menyelesaikan tugas cuci piringnya dan sama - sama menghampiri mereka.
"Paman, liburan tahun ini Caca di tempat paman ya?". Tanya nya denhan bergelayut manja di tangan pamannya.
__ADS_1