
Erni istri Aldo seperti biasa akan disibukkan dengan menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.
Erni yang menghidangkan sarapan dimeja makan, meminta asisten rumah tangga nya untuk membersihkan kamar yang selalu digunakan Caca bila berada dirumah mereka.
Selain membersihkan kamar untuk Caca, asisten Erni juga membersihkan kamar tamu untuk ditempati Ahmad dan Ratna yang bisa dikatakan sangat jarang berkunjung dikediaman Aldo dikarenakan kesibukan mereka masing - masing.
Dimeja makan Erni menyampaikan kepada suami nya jika keluarga Ahmad telah berangkat dari kota Bandung menuju kota Jakarta.
"Pa, mbak Ratna baru saja chat mama kalau mereka sudah berangkat pukul 6 tadi". ucap Erni kepada Aldo suaminya yang sedang menyantap sarapannya.
"Iya papa juga sudah dihubungi kak Ahmad sebelum mereka berangkat". ujar Aldo
"Akhirnya mbak Caca kesini juga, Deni sudah kangen sama mbak Caca". ujar Deni yang kini berusia 15 tahun.
"Defri juga kangen" ucap Defri yang masih berusia 10 tahun.
"Tetapi kalian sudah tahukan jika Caca ngak bisa berlama - lama disini?". tanya Aldo kepada kedua anaknya.
"Sudah pa". jawab Deni dan Defri dengan suara lemah.
"Kalian tidak boleh sedih begitu, kalian juga harus memikirkan Oma Siska yang juga kangen dengan mbak kalian". ucap Aldo
"Kenapa ngak Oma Siska saja sih yang datang kesini?". tanya Defri kesal yang masih berusia 10 tahun.
Aldo tersenyum mendengar Defri yang terlihat kesal dengan keputusan Caca yang akan berlibur ke kota medan.
"Oma Siska minta Caca kesana untuk mengajak mbak mu ke danau toba, lagi pula bukan Oma siska saja yang kangen Caca, tapi semua keluarga disana juga kangen dengan Caca". jawab Erni
"Mbak Caca memang ngangenin". seru Defri
"Enak banget tuh bisa jalan - jalan ke danau toba". seru Deni
"Deni boleh tidak ikut dengan mbak Caca ke tempat oma Siska?, Deni juga pengen ke danau toba". tanya Deni
"Kalau kak Deni ikut dengan mbak Caca, Defri juga ikut ya?". Sahut Defri kepada Deni.
"Beneran kalian mau ikut bersama dengan mbak Caca kerumah oma Siska?". tanya Erni
"Kalau mama dan papa izinin sih, lagi pula Deni dan Defri juga libur sekolah, bisa bosan juga kalau ngak ada mbak Caca". seru Deni
"Benar juga yang dikatakan kak Deni. Defri janji deh selama disana ngak akan repotin oma Siska". seru Defri.
"Ya sudah, nanti kalau mbak Caca sudah sampai disini, kalian berdua bicara langsung dengan mbak Caca ya?". ucap Aldo . Dan dianggukkan kepala mereka tanda setuju dan melanjutkan menyantap sarapan mereka.
"Oh iya Pa, Defri mimpi lihat mobil mbak Caca pergi jauh.. banget". seru Defri disela makannya.
"Itu hanya bunga tidur sayang". jawab Aldo
"Kamu pasti tidak baca do'a ya sebelum tidur". terka Aldo kepada Defri
"Defri ngak pernah lupa baca do'a kok pa. Mbak Caca selalu pesan supaya membaca do'a sebelum tidur". ujar Defri.
Aldo dan Erni tersenyum mendengar penuturan Defri yang polos.
Sebenarnya Aldo juga ada merasakan ketidaknyamanan dalam dirinya beberapa hari belakangan, namun Aldo tepis dengan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan kantor dan terkadang membawa pekerjaannya kerumah.
__ADS_1
Seusai menyantap sarapan Aldo beranjak meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
Sedangkan kedua anaknya duduk diruang keluarga dengan menonton televisi.
Aldo keluar dari kamar sudah rapi dengan pakaian kantornya. Erni yang mengetahui Aldo berpakaian kantor menatap heran karena sepengetahuan Erni suaminya telah meminta izin untuk tidak kekantor.
Erni mengikuti langkah Aldo hingga didepan pintu rumah mereka.
"Bukannya papa tidak kekantor hari ini?". tanya Erni heran.
"Papa hanya sebentar saja ma, selesai meeting papa langsung balik lagi". jawab Aldo meyakinkan istrinya. Erni hanya menganggukan kepalanya dan mencium punggung tangan suaminya.
***
Mobil yang dikemudikan Aldo memasuki kawasan gedung nugraha dan memarkirkannya di basement. Aldo melangkahkan kaki nya menuju lift khusus karyawan untuk ke lantai 27 tempat diadakannya meeting.
Disaat menunggu antrian lift yang dipergunakan untuk karyawan Nugraha, Aldo bertemu dengan Destra dan Edo yang juga baru tiba dikantor.
Semua karyawan kantor Nugraha menundukkan kepala dikala melihat kedatangan Destra dan Edo.
Ketampanan yang miliki Destra seakan mehipnotis semua karyawan kantor Nugraha.
Senyum ramah selalu Destra tunjukkan dikala bertemu atau yang berpapasan dengannya sehingga menambah nilai plus akan ketampanan Destra.
Edo dan Destra melangkah menuju lift khusus perusahaan tersebut. Tanpa disengaja mereka melihat Aldo yang tengah mengantri di depan lift khusus karyawan.
"Om Aldo bukannya sudah izin untuk tidak ke kantor hari ini?". tanya Edo heran.
"Saya hanya sebentar tuan, hanya untuk mengikuti jadwal meeting pagi ini, selesai meeting ini saya akan kembali kerumah". jawab Aldo. Destra hanya menganggukkan kepalanya dengan ber oh ria.
"Apakah mereka sudah berangkat Om?". tanya Destra mengenai hal kedatangan Caca.
'Ting'.. pintu lift khusus terbuka.
"Sebaiknya Om Aldo naik bersama kita saja". seru Destra ketika akan memasuki lift khusus tersebut yang hanya bisa di gunakan oleh keluarga Alki.
"Terima kasih tuan". jawab Aldo sedikit menundukkan kepalanya hormat dan melangkahkan kakinya memasuki lift khusus tersebut.
Sesampainya di lantai 27 mereka langsung menuju ruang meeting yang berada dilantai serupa dengan ruangan Aldo.
Sekretaris Alki dan juga kepala devisi - devisi dikantor itu sudah berada diruangan meeting menunggu Edo dan Destra. Meeting seperti biasa akan dipimpin oleh Alki, namun semenjak kedatangan Destra dari amerika Alki selalu memintanya untuk memimpin meeting setiap paginys.
Baru saja 15 menit meeting dimulai, getar handphone tanpa suara terus menerus dirasa oleh Aldo yang berada disaku celananya. Awalnya Aldo tidak menghiraukannya namun rasa penasaran tersirat dibenaknya karena tidak seperti biasanya handphone terus bergetar disaat - saat jam kerja nya.
Aldo merogoh saku celananya untuk melihat siapa yang menghubunginya hingga berulang kali. Dan terlihat ada 7 panggilan tidak terjawab dan 1 Notifikasi pesan tampil dihandphonenya, Aldo membuka pesan itu dibawah meja nya supaya tidak diketahui oleh orang - orang yang berada di ruangan tersebut.
Aldo terkejut ketika membaca pesan singkat yang tampil dilayar handphone nya.Tanpa ada kata permisi Aldo berlari meninggalkan ruangan meeting tersebut.
Semua yang ada didalam ruangan terkejut melihat Aldo yang berlari keluar dengan terburu - buru.
"Ada apa dengan pak Aldo, tidak seperti biasanya dia seperti itu". guman Sandra pelan namun masih bisa didengar oleh Edo dan Destra.
"Kita sudahi meeting kita hari ini". ucap Edo membubarkan karyawan penting kantor nugraha untuk meninggalkan ruangan meeting tersebut.
"Gue susul Om Aldo". ucap Destra kepada Edo dan berlari meninggalkan ruangan meeting yang hanya ada Sandra dan Edo.
__ADS_1
Edo dan Sandra juga meninggalkan ruangan meeting tersebut menuju lift untuk naik ke lantai 28 yang terdapat ruangan Edo dan sekretaris Alki.
Ruangan khusus Alki yang luas dengan berdindingkan kaca, berada satu lantai dari ruangan Edo dan Sandra namun ruangan Alki masih bisa dilihat dari lantai tempat Edo dan Sandra bekerja. Untuk menuju ruangan Alki harus menggunakan Eskalator.
Ruangan berdinding kaca tembus pandang tempat sekretaris Alki bekerja berada tidak jauh dari eskalator tersebut. Sehingga jika ada yang akan bertemu dengan Alki akan diketahui oleh Sandra karena eskalator tersebut hanya menuju ruangan khusus Alki saja.
Seperti biasa selesai meeting rutin Edo akan langsung menuju ruangannya. Begitu juga dengan karyawan lain yang bekerja di gesung Nugraha tersebut.
Beberapa menit kemudian Sandra mengetuk pintu ruangan Edo yang terbuka lebar sebelum memasuki ruangan tersebut.
"Maaf tuan saya ingin menyampaikan jadwal untuk tuan hadiri hari ini menggantikan tuan Alki". ucap Sandra
"Heem". jawab Edo singkat tanpa melihat ke arah Sandra.
Sandra membacakan semua jadwal pertemuan Alki dengan client yang telah di susun rapi di tablet nya untuk disampaikan kepada Edo untuk menggatikan Alki.
"Dan yang terakhir untuk pukul 19.00 tuan akan menghadiri acara pernikahan anak dari tuan Romi salah satu client untuk menggantikan tuan Alki juga". ujar Sandra dan menutup tabletnya.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba". guman Edo dalam hati.
"Saya permisi tuan". seru Sandra dan melangkah keluar dari ruangan Edo.
"Tunggu Sandra". seru Edo ketika Sandra telah berada di ambang pintu ruangannya.
"Ya tuan". jawab Sandra dengan memutar balik badannya ke arah Edo.
"Apakah malam ini kamu ada acara?". tanya Edo yang berdiri dari singgasananya dan berjalan mendekati Sandra yang masih berdiri.
"Tidak ada tuan". jawab sandra
"Temani saya untuk menghadiri acara pernikahan anak tuan Romi". ucap Edo yang terdengar memaksakan.
"Ta..tapi saya tidak bisa tuan". jawab Sandra gugup dan menundukkan kepalanya karena Edo yang terus menatapnya dari jarak dekat.
"Apakah kamu sudah ada janji dengan seseorang, sehingga kamu tidak bisa menemani saya?". tanya Edo to the point.
"Bukan seperti itu tuan, tetapi ..". jawab Sandra semakin gugup. Wajahnya semakin merona disaat menatap wajah Edo dari dekat.
"Jika tidak ada maka kamu harus temani saya". seru Edo tersenyum dan kembali ke tempat duduknya dan menatap layar komputer yang berada di atas meja kerjanya.
"Baik tuan, saya permisi". jawab Sandra pasrah.
Sandra melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Edo dengan rasa kesal karena tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan keberatannya untuk menghadiri acara client tersebut.
"Mengapa mesti gue sih yang di ajak oleh tuan Edo , memangnya dia tidak punya pacar sehingga harus membawa aku?". gumannya pelan.
Didalam ruangan Edo tersenyum puas karena berhasil mengajak seketaris Alki untuk bisa jalan berdua meski harus menggunakan cara yang menurutnya memaksa.
"Dari pada pasrah menerima perjodohan dari ibu, lebih baik gue berusaha dulu mendapatkan hati Sandra". Tekat Aldo dalam hati.
Sebenarnya sudah lama Edo menaruh hati kepada Sandra namun tidak ada keberaniannya dan juga tidak tahu cara untuk mengungkapkannya. Dengan menggunakan undangan tersebut untuk mendekati sekretaris ayah angkatnya adalah kesempatan yang tidak akan di sia - siakan nya.
"Jika gue gagal mendapatkan hatinya, yang penting gue sudah berusaha mencari sendiri pasangan hidup dari pada tidak sama sekali". guman nya dalam hati.
"Lebih baik gue cerita dengan Destra". gumannya pelan.
__ADS_1
Ketika Edo ingin bertukar pikiran dengan adiknya tentang cara memulai suatu hubungan, Edo baru tersadar bahwa Destra pergi mengejar Aldo. Edo menggapai handphonenya yang berada di atas meja kerjanya untuk menghubungi Destra.
Berulang kali Edo menghubungi Destra namun tidak ada jawaban. Edo juga menghubungi Aldo namun sama saja tidak ada jawaban.