SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 29


__ADS_3

Anggi kembali ke dalam ruangan dengan membawa berbagai makanan dan buah - buahan.


Anggi menyiapkan makanan tersebut dimeja makan, agar Destra segera makan.


"Tadi mami melihat dokter Nana keluar dari sini, apakah terjadi sesuatu?". tanya Anggi disela menyiapkan hidangan dimeja makan.


"Alhamdulillah tidak terjadi apa - apa mami, Destra hanya terkejut karena Devi melihat jari Caca bergerak". ujar Destra menghampiri meja makan.


"Maksudnya?". tanya Anggi dengan menatap tajam ke arah Devi. Mendapat tatapan tajam maminya Devi menundukkan kepalanya.


"Jangan kau lihat begitu anak gadismu nak ku. Devi yang membuat semangat cucuku sehingga bisa menggerakkan jarinya". seru Siska yang melihat tatapan tajam Anggi kepada Devi.


"Oh ya". seru Anggi dan menghampiri Devi.


"Memangnya apa yang kamu lakukan sayang?". tanya Anggi


"Devi hanya minta Caca supaya mau jadi teman Devi saja mami". jawab nya pelan masih menundukkan kepalanya.


"Lalu?".


"Devi lihat jari kelingkingnya bergerak mami, karena Devi terkejut, Devi lari dekati kak Destra". jawab nya lirih.


"Ya sudah sayang maafkan mami ya, mami kira kamu ada berbuat yang tidak - tidak". ucap Anggi dan memeluk Devi.


"Ya ngak mungkin lah mami". jawab Devi.


"Kenapa kamu belum juga makan Destra?". ucap Anggi yang masih sibuk dengan smartphone nya.


"Destra coba hubungi kak Edo mam, tapi tidak di angkat ". jawab nya


"Mungkin dia masih di acara tuan Romi". seru Anggi


"Sudah cepat kamu makan". imbuh Anggi dan di Anggukkan oleh Destra.


*****


Pandangan Edo sesekali melihat sekilas Sandra yang duduk disebelahnya di saat mengemudikan mobilnya.


"Tuan jangan melirik saya terus". seru Sandra membuat Edo menjadi salah tingkah.


"Kamu cantik banget sih". jawab Edo jujur.


"Tapi jangan terus - terusan tuan, saya tidak mau mati muda".


"Aku mau mati asalkan bersamamu". jawab Edo santai


"Tapi saya tidak mau tuan, saya belum menikah". jawab Sandra santai.


"Kita nikah yuk". ajak Edo cepat.


"Ayok". saut Sandra santai dengan menantang ajakan Edo.


Edo melajukan mobilnya ke jalur berbeda dari tempat diadakannya acara pesta Romi.


"Kita mau kemana tuan?". tanya Sandra yang mulai ketakutan


Edo tersenyum melihat wajah Sandra yang terlihat ketakutan.


"Bukannya kita akan menikah sekarang". jawab Edo santai


"Jangan gila tuan".


"Aku gila karenamu". jawab Edo santai


"Tuan jangan seperti ini, kalau mau gila ya gila saja sendiri". ujar Sandra dengan wajah pucat.


Edo terus saja melajukan mobilnya tanpa memperdulikan kicauan Sandra hingga mereka tiba diparkiran sebuah apartment.


"Kenapa kita kesini tuan?". tanya Sandra heran


"Kenapa? Kamu kecewa karena tidak aku bawa ke KUA?". tanya Edo tersenyum


"Bu..bukan begitu tuan?". jawab Sandra terbata - bata.


"Aku akan menikahi kamu setelah melamar mu dan mendapat restu dari orang tua kamu". jawab Edo serius dengan membuka seatbelt nya.


Wajah Sandra seketika merona mendengar penuturan Edo.


"Aku ganti pakaian sebentar, Kamu dimobil atau ikut dengan aku?".


"Ha? i.iya Saya disini saja tuan". jawab Sandra terbata - bata.

__ADS_1


"Ok sebentar ya". seru Edo dan melangkah memasuki lobby apartment nya.


"Dasar memalukan kamu Sandra". gerutunya dengan membentur - bentur kan pelan kepalanya di dasbor mobil.


Tidak menunggu waktu lama Edo sudah kembali dengan pakaian tuxedo membuatnya semakin tampan. Edo memasuki mobil nya dengan gagah membuat Sandra menelan saliva nya.


"Kita berangkat". seru Edo yang telah memasuki mobil nya.


"Ya Allah, tampan sekali". Guman Sandra keceplosan dan menutup mulutnya dengan tangannya.


"Aku tahu kamu memujiku".


"Jangan kepedean tuan, saya memuji lelaki itu". jawab Sandra dengan menunjuk lelaki paruh baya yang mengenakan pakaian sicurity yang berjaga di apartment tersebut.


"Oh ya?, baiklah aku akan sampaikan dengan bapak sicurity itu atas pujian kamu terhadapnya". seru Edo tersenyum dan beranjak dari kursi kemudinya.


"Apa yang tuan lakukan?". tanya Sandra dengan menahan tangan Edo yang akan keluar mobil.


"Ingin menyampaikan kekaguman kamu". jawab Edo santai


"Tidak perlu disampaikan tuan, cukup kita berdua saja yang tahu jika bapak itu tampan". seru Sandra merasa malu dengan terus menahan tangan Edo.


"Baiklah". jawab Edo tersenyum.


Disaat mobil tepat disebelah sicurity tersebut, Edo membuka kaca mobilnya sebelah Sandra.


"Pak....".


Sandra dengan cepat membekap mulut Edo dengan telapak tangannya.


"Tuan jangan buat malu saya donk". guman Sandra pela.


"Maaf ya pak, dia memang sidikit terganggu". seru Sandra cengengesan ke arah bapak sicurity.


Bapak sicurity tersebut hanya mengernyitkan dahinya.


"Ayo tuan kita harus segera berangkat, nanti kita terlambat". Imbuh Sandra masih membekap mulut Edo.


Edo melepas tangan Sandra pelan dari mulut nya namun Sandra tidak ingin melepasnya jika Edo tidak melajukan mobilnya.


Edo melajukan mobilnya dengan tangan Sandra yang masih membekap mulutnya. Dengan jahil Edo menjilat tangan Sandra sontak membuatnya melepas bekapannya.


"Manis sayang". jawab Edo tersenyum.


"Mungkin tangan saya belum bersih habis beol tadi tuan". jawab Sandra santai.


"Jorok kamu ih". seru Edo sehingga membuatnya mual.


Sandra tertawa terbahak - bahak dengan memegang perut nya karena dapat membalas kejahilan Edo.


Selama perjalanan membuat mereka semakin akrab karena Edo yang selalu menggoda Sandra.


"Kamu jangan jauh - jauh dari aku. Kamu mengerti sandra?". seru Edo ketika mereka telah berada dilobby hotel tempat diadakannya acara.


"Baik tuan". jawab Sandra


Edo meletakkan tangan Sandra dilengannya dan melangkah dengan serasi memasuki tempat di adakannya acara. Mereka yang terus menjadi pusat perhatian tamu undangan membuat Sandra menjadi canggung mendapat tatapan yang mengarah kepadanya.


"Tuan, apakah ada sesuatu yang salah dengan penampilan saya?". tanya Sandra berbisik


"Tidak ada sayang. Mereka terus memperhatikan kita karena mengagumi kecantikan kamu". jawab Edo membuat wajah Sandra kembali merona.


"Jangan terus memuji saya tuan, itu bisa membuat saya terbang melambung ke udara".


"Memang benar adanya, dan itu membuat aku tidak ingin melepaskanmu". jawab Edo.


Lagi - lagi Sandra mendapat pujian dari Edo, menumbuhkan kepercayaan diri Sandra dan melangkah elegant dengan senyum menawan tanpa memperdulikan semua mata yang memperhatikannya.


Edo sangat bangga melihat Sandra yang mampu mengendalikan dirinya untuk tetap tenang disaat menerima jamuan dari tuan Romi yang menghampiri mereka ketika memasuki aula acara tersebut.


Sambutan yang dilakukan pemilik acara semakin membuat mereka menjadi pusat perhatian tamu undangan yang banyak dihadiri kalangan pebisnis.


"Terima kasih tuan muda Edo telah meluangkan waktu anda untuk menghadiri ke acara pernikahan anak saya". ucap Romi dengan menjabat tangan Edo dengan kedua tangannya.


"Saya juga sangat senang bisa hadir di acara ini tuan Romi, maaf ayah saya tidak bisa hadir karena ada hal yang tidak dapat beliau tinggalkan". ujar Edo ramah.


"Tidak masalah tuan muda Edo, kehadiran tuan muda sudah suatu kehormatan bagi keluarga kami". jawab Romi .


"Apakah nona ini kekasih anda tuan muda Edo?" tanya nya ketika melihat kearah Sandra.


"Dia calon istri saya tuan Romi". jawab Edo dengan senyum menawannya.

__ADS_1


"Suatu keberuntungan bisa dapat berkenalan langsung dengan calon istri tuan muda Edo". jawab nya dengan menjabat tangan Sandra.


"Mari silahkan". imbuhnya mempersilahkan mereka untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan keluarga mempelai.


Setelah mereka memberi selamat kepada pengantin dan juga keluarga mempelai, mereka menuju meja yang telah disediakan untuk mereka.


"Mengapa tuan Romi tidak mengenal saya tuan?". tanya Sandra


"Karena kamu sangat berbeda malam ini sayang". jawab Edo memuji dengan tersenyum.


"Dan Mengapa tuan terus mengatakan saya sebagai calon istri tuan?". tanya Sandra lagi


"Karena kamu memang calon istri aku, dan aku pasti akan menikahi kamu, ingat itu". jawab Edo dengan tegas. Wajah Sandra seketika merona mendengar penuturan Edo.


"Hi tuan muda Edo, senang berjumpa dengan anda disini". sapa Jhoni yang juga merupakan seorang pebisnis.


"Hi tuan Jhoni, saya juga demikian". jawab Edo santai dengan berdiri dari duduknya untuk menjabat tangan jhoni ramah.


Sandra juga berdiri dari duduknya setiap ada yang menyapa Edo.


"Siapa nona cantik yang besama denganmu tuan muda Edo?". tanya Jhoni yang ingin memegang dagu Sandra, dengan cepat Edo menepis nya.


"Jangan pernah menyentuh nya tuan Jhoni". ucap Edo geram dengan menunjuk kearah lelaki tua yang terkenal dengan julukan hidung belang.


"Tuan muda Edo....". ucap Jhoni yang tidak menyelesaikan ucapannya.


"Sayang, mungkin lelaki tua dan bau tanah ini tidak ingat umur. Sebaiknya jangan perdulikan dia sayang. Aku takut jika dia meninggal disini hanya karena sentilan dari jari kamu sayang". ucap Sandra dengan bergelayut manja di lengan Edo dan menatap sinis ke lelaki dihadapannya.


Edo tersenyum dan menepuk - nepuk pelan tangan Sandra dengan lembut.


"Silahkan pergi dari sini tuan jhoni sebelum habis kesabaran saya". seru Edo


Lelaki tua itu pergi meninggalkan mereka dengan menghempaskan tangannya yang terkepal sebab sindiran Sandra yang sangat pedas.


"Awas saja kalian". guman Jhoni dalam hati dan melangkah meninggalkan Edo dan Sandra.


Mereka kembali duduk setelah lelaki tua itu meninggalkan mereka dengan tersenyum puas.


"Aku ingin kamu selalu memanggil aku seperti tadi". ucap Edo tersenyum.


"Jangan berharap tuan, saya melakukan itu karena saya takut lelaki tua bangka itu meninggal karena satu pukulan dari tuan. ujar Sandra santai.


"Mana mungkin aku memukulnya Sandra, karena dia sudah sangat tua".


"Saya menjaga situasi saja tuan sekaligus mengingatkannya akan umur sudah ujur masih saja genit". jawab nya santai. Edo hanya tersenyum mendengar penjelasan Sandra.


Satu persatu pebisnis mulai menghampiri Edo untuk sekedar bertegur sapa dan juga mengenalkan perusahaannya.


Banyak yang mengira Edo adalah penerus dari perusahaan Nugraha.


Dalam persaingan bisnis ayahnya, Edo sangat mengerti akan keselamatan Destra dan juga keluarga Alki sehingga Edo selalu mengaku sebagai penerus perusahaan Alki.


Alki selalu melarang Edo untuk tidak mengaku sebagai penerus nya, karena itu akan membahayakan dirinya. Namun Edo tidak pernah mengindahkan ucapan Alki.


Kebaikan keluarga Alki kepadanya membuat Edo siap untuk melindungi keluarga Alki yang telah memperlakukannya seperti anak kandung Alki tanpa membeda - bedakannya dengan Destra dan Devi.


"Tuan saya ke toilet sebentar". seru Sandra dengan berbisik.


"Jangan lama - lama, segera kembali kemari". Tegas Edo berbisik Dan di anggukkan Sandra.


Disaat Sandra akan meninggalkan toilet, sandra mendengar seorang lelaki yang berada di lorong menuju toilet dan sedang menyusun rencana yang di tujukan untuk Edo.


Setelah lelaki itu pergi dari lorong yang akan dilaluinya, Sandra keluar meninggalkan toilet untuk segera kembali ke tempat Edo berada.


Edo terus melihat ke arah lorong yang menuju toilet karena Sandra sedikit lebih lama untuk kembali. Melihat Sandra menghampirinya Edo menarik napas lega.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap tajam ke arah mereka.


Sandra melihat Edo menerima minuman dari seorang pelayan dan ingin meminumnya dengan cepat Sandra merampas minuman tersebut dan meneguknya hingga habis tak tersisa.


"Sial". ucap lelaki yang melihat Sandra meneguk minuman yang ditujukan untuk Edo.


"Apa yang kamu lakukan?". tanya Edo pelan.


"Saya haus tuan". jawab Sandra cengengesan.


"Sebenarnya ada yang ingin menjebak Anda tuan, lebih baik tuan jangan pernah meminum apapun selama disini". ujar Sandra berbisik.


"Dari mana kamu tahu ada yang ingin menjebak aku?".


"Sewaktu di toilet saya mendengar seseorang meminta bantuan untuk memasukkan sesuatu kedalam minuman anda tuan". ujar Sandra

__ADS_1


__ADS_2