SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 3


__ADS_3

Dikediaman keluarga Nugraha nan mewah, terlihat kesibukan para asisten rumah tangga sedang menyiapkan makan malam untuk majikan mereka. Terdapat berbagai macam makanan telah terhidang dimeja makan ketika Anggi datang menghampiri para asisten rumah tangganya.


"Sudah selesai bik?". tanya Anggi ketika menghampiri meja makan.


"Sudah nyonya". Jawab wanita paruh baya salah satu asistennya yang bernama Siti.


"Terimakasih bik". ucap Anggi ramah.


"Oh iya Bik, tolong panggilin anak - anak supaya cepat turun ya". Imbuhnya lagi sebelum berlalu untuk memanggil suaminya yang bernama Alki.


"Baik nyonya". Jawab bik Siti dan segera melangkah menuju kamar anak - anak majikannya yang masih berada dikamarnya masing - masing.


Tidak menunggu lama mereka sudah berkumpul di meja makan untuk menyantap makan malam mereka.


"Sayang, besok siang Papi akan berangkat kekota B untuk meninjau langsung perkembangan proyek disana". ucap Alki kepada istrinya disela- sela makannya.


"Destra, kamu juga ikut dengan Papi sebelum kamu berangkat lagi ke New York". Imbuhnya lagi memerintahkan anak laki - laki nya supaya ikut serta dengannya kekota B.


Destra yang lagi berlibur dari kuliahnya Amerika, tidak bisa menolak ajakan papi nya tersebut. Lagi pula Destra juga butuh meninjau bisnisnya yang juga berada tersebut.


"Ok Pi". Jawab Destra yang masih menikmati makan malamnya.


"Devi ikut donk Pi". pinta Devi penuh harap.


"Ngapain kamu ikut sayang, papi dan kakak kamu bukan mau jalan - jalan, lagi pula kamu besok harus sekolahkan?. tanya Anggi menimpali ucapan anak perempuannya.


"Tapi Devi mau ikut dengan papi saja la Mam". Seru Devi


"Jadi sekolah kamu bagaimana?, bukannya sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian kenaikan kelas?". Tanya Anggi


"Iya sich, tapi Devi jenuh dengan suasana sekolah Mam". jawabnya dengan wajah cemberut.


"Apa yang membuat kamu sampai jenuh?". tanya Anggi


"Devi merasa semua teman disekolah ingin dekat Devi, tapi semua hanya ada maksud tertentu Mam". ujar Devi jengah mengingat perangai teman - temannya disekolah.


"Pasti karena mereka tahu kamu anak dari pemilik sekolah kan?". tanya Destra yang mengerti maksud dari Devi.


"Iya Kak, Devi kan jadi males jika mereka ingin dekati Devi. Mereka tidak benar - benar tulus ingin berteman dengan Devi".


"Ya sudah kamu masuk pesantren tempat kakak dulu saja dek". Saran Destra yang pernah mengenyam pendidikan SMA nya dipesantren.


"Enggak mau ih kak, Devi ngak mau jauh dari mami dan papi". jawab Devi


"Enak loh dek dipesantren". pujuk Destra.


"Enggak mau, lebih baik Devi ikut kakak saja sekolah diNew York". pinta Devi


"Kalau itu mami ngak setuju". Tolak Anggi tegas.


"Kenapa ngak boleh sih Mam?". tanya Devi kesal.


"Kamu anak perempuan, Mami ngak mau kamu sampak kebablasan karena ngak ada yang jagain kamu disana". jawab Anggi


"Kan ada kak Destra yang bisa jaga Devi". jawab Devi


"Kakak kamu saja belum tentu bisa jaga dirinya sendiri, apa lagi jaga kamu. pokoknya Mami ngak setuju". Jawab Anggi yang tetap menolak permintaan anak perempuannya.

__ADS_1


"Lebih baik kamu sekolah dipesantren tempat kakak kamu dulu". Imbuh Anggi


"Kalau dipesantren Devi ngak mau Mam, lebih baik Devi tetap disekolah kita saja". jawab Devi kesal.


"Bagus kalau begitu, kamu sabar saja dulu suatu saat kamu pasti akan menemukan teman yang tulus tanpa ada maksud tertentu". Ucap Anggi menyemangati anak perempuannya.


Devi hanya bisa pasrah dengan memanyunkan bibirnya setelah mendengar ucapan maminya. Keinginannya bersekolah bersama Destra pupus sudah karena ditolak keras oleh Anggi.


"Papi dan Destra berapa lama disana?". Tanya Mami Anggi


"Paling lama tiga hari sayang". Jawab Alki


"Ya sudah selesai ini semua Mami siapkan untuk keperluan papi selama disana". ucap Anggi


"Terimakasih sayangku". Jawab Alki seraya mencubit lembut pipi istrinya karena gemas disela makan malamnya.


"Destra juga ya Mam". ucal Destra yang tidak mau kalah dengan Alki.


"Enak aja loe minta bantuan sama istri gue". Jawab Alki menohok kepada anaknya Destra.


Ucapan Alki yang seperti anak gaul itu sudah sering terjadi bila sedang berdebat dengan Destra terutama disaat mereka berada dirumah.


"Ya elah Papi pelit amat sih. Lagian dulu mami juga sering bantuin Destra kok". Jawab destra tidak mau kalah.


"Ya beda lah, loe dulu belum bisa mandi sendiri, belum bisa pakai baju sendiri makanya istri gue bantuin loe". ujar Alki.


Anggi yang melihat perdebatan antara anak dan papi nya hanya bisa geleng - geleng kepala.


"Papi juga bisa kok pakai baju sendiri, mandi sendiri, tapi masih juga dibantuin mami". ucapnya tidak mau kalah.


"Mami juga yang lahirin Destra Pi". sahut Destra


"Mami dulu mandiin Destra, dipakein baju sama mami, apa sekarang papi lagi cemburu karena ngak pernah dimandiin Mami ya? ". Tanya Destra polos.


Mendengar penuturan anak laki - lakinya sontak membuat Anggi tersedak. Devi yang berada disebelah Anggi segera memberi Anggi air minum dengan mengusap - usap punggung Anggi.


Devi yang tidak mengerti arah pembicaraan Alki dan Destra sehingga membuat Anggi tersedak.


"Mami kok bisa tersedak?". tanya Devi polos.


"Mami ngak apa - apa sayang". jawab Anggi.


"Eh denger ya, sebelum loe lahir kedunia ini, gue juga sudah sering dimandiin mami loe, malah sering mandi bareng lagi". Cerocos Alki yang masih berlanjut karena tidak mau kalah.


Wajah Anggi semakin memerah seperti kepiting rebus karena menahan malu dan spontan memberi cubitan dipinggang Alki yang berada disampingnya dan menatap tajam suaminya supaya tidak melanjutkan ocehan suami nya yang vulgar.


"Auuwww, sakit yank". Ringis Alki dengan memegang bekas cubitan istrinya.


Destra dan Devi tertawa serentak melihat papinya yang mendapat cubitan dari Anggi.


"Papi kan ngomong yang sebenarnya yank". Imbuhnya lagi dengan wajah tak berdosa.


"Papi", Ucap Anggi dengan menahan rasa malu karena celoteh suaminya didengar asistent rumah tangga mereka yang berada tidak jauh dari mereka.


Asistent rumah tangga mereka hanya bisa tersenyum tanpa memperlihatkan senyuman mereka kepada majikannya. Terkadang mereka juga harus menahan gelak tawa dikala mendengar perdebatan Alki dan Destra sudah seperti tom and jerry.


"Berarti mami mandiin bayi kolot donk". Imbuh Destra tertawa kecil.

__ADS_1


"Makanya loe nikah supaya tahu gimana uennnaknya". ucap Alki santai dengan meletakkan sedok makannya karena telah menyelesaikan makannya.


Anggi memutarkan kedua bola matanya mendengar ocehan Alki yang masih berlanjut tanpa memperdulikan sekelilingnya.


"Memang enaknya gimana sich Pi?". tanya Destra polos.


"Susah gue jelasinnya". jawab Alki


"Jelasin sedikit saja Pi, itung - hitung berbagi ilmu pengetahuan Papi dengan Destra". goda Destra tersenyum dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"Gimana ya Gue jelasinnya?. Kalau dengan teori gue ngak pinter, tapi kalau praktek gue jago nya". jawab Alki


"Papi ih". ucap Anggi dengan membesarkan kedua matanya kearah suaminya.


Alki yang mendapat melototan dari istrinya hanya cengengesan saja.


"Ya sudah kita praktek saja Pi". Lanjut Destra memancing celoteh papinya yang sudah mendapat tatapan tajam membunuh dari Anggi.


"Gilak apa kita main pedang - pedangan". jawab Alki.


"Destra diam, jangan dengar kata - kata papimu. Cepat selesaikan makan kamu". perintah Anggi tegas membuat Alki dan Destra menghentikan pembicaraan mereka.


Alki yang telah menyelesaikan makannya terlebih dahulu beranjak ke ruang keluarga.


Acara makan pun berakhir, dan Destra menghampiri papinya yang berada di ruang keluarga. Sedangkan Anggi langsung menuju kamar nya untuk menyiapkan keperluan suaminya di luar kota.


Diruang keluarga perdebatan Alki dan Destra masih berlanjut. Sedangkan Delvia menuju kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolahnya.


"Loe kapan nikah?". Tanya Alki sambil membuka lembaran - lembaran koran di tangannya.


"Umur gue masih 22 tahun Pi". Jawabnya santai dengan memencet tombol remote yang ada di tangannya mencari channel yang di inginkannya.


"Jangan lama - lama, lebih cepat lebih bagus". Saran Alki kepada anaknya.


"Destra belum mikirkan untuk nikah cepat Pa". Jawab Destra menanggapi saran Papinya.


"Dari pada loe berbuat zinah, bagus loe cepat nikah". Ucap Alki menasehati anaknya dikarenakan lingkungan Destra yang kuliah di luar negeri.


"Ya ngak lah Pa, gue masih takut dosa". Jawabnya santai


"Alhamdullilah, kalau loe masih tahu dosa". Ucap syukur Alki karena anaknya masih memiliki Iman.


"Ya sudah sana loe siapkan keperluan loe besok". Imbuhnya lagi mengingatkan Destra.


"Nunggu mami pa". Jawab nya santai tanpa menoleh papinya.


"Enak aja loe, ngak bisa. Loe urus sendiri keperluan loe. Gue mau isi tenaga untuk 3 hari kedepan. Mami loe pasti lelah karena ulah gue". Ucap Alki dan melangkah meninggalkan Destra.


"Maksud isi tenaga gimana pa?". Tanya destra penasaran.


"Kalau loe sudah nikah, pasti loe tahu". Jawab nya dan meninggalkan anaknya


"Papi kalau ngomong selalu ngak tuntas, Destra jadi bingung".


"Mangkanya loe cepetan nikah supaya ngak bingung". jawab Alki dan melanjutkan langkahnya.


Destra yang tidak mengerti dengan ucapan papi ikut beranjak dari ruang keluarga tersebut menuju kamarnya untuk menyiapkan keperluannya di kota B.

__ADS_1


__ADS_2