SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 24


__ADS_3

Berulang kali Edo menghubungi telephone Destra namun tidak ada jawaban. Edo juga menghubungi Aldo namun sama saja tidak ada jawaban.


Akhirnya Edo memutuskan untuk menghubungi ayahnya melalui telephone selulernya. Edo berharap Alki mengetahui keberadaan Destra dan juga Aldo.


"Assalamualaikum ayah".


"Waalaikumsalam". jawab Alki dari seberang


Edo menceritakan kronologi kejadian dari Aldo yang meninggalkan meeting dengan buru - buru hingga Destra mengejar Aldo.


Alki hanya mendengarkan apa yang diceritakan anak angkat nya itu.


"Loe tidak perlu khawatir dengan mereka, mungkin mereka lagi berada dikedianan Aldo untuk menyambut kedatangan Caca". jawab Alki untuk menenangkan Edo yang khawatir dengan Destra.


"Tapi ayah..."


"Sudah loe tenang saja, biar gue yang akan mencari tahu keberadaan mereka". ujar Alki dengan tegas.


"Baiklah Ayah, jika ayah telah mendapat kabar dari Destra beritahu Edo secepatnya ayah". ujar Edo yang masih khawatir akan keberadaan adik laki - lakinya itu.


"Akan ayah kabari". jawab Alki dan memutus sambungan telephone nya setelah menjawab salam dari Edo.


Alki juga heran mendengar Aldo meninggalkan meeting dengan tiba - tiba. Alki mencoba menghubungi Destra namun tidak ada jawaban. Begitu juga disaat Alki menghubungi nomer Aldo yang juga tidak ada jawaban.


Alki memutuskan untuk menunggu Destra atau pun Aldo menghubungi nya setelah melakukan panggilan seluler berulang kali yang tidak mendapat jawaban dari Aldo dan juga Destra.


*****


Destra berlari keluar gedung perusahaan untuk mengejar Aldo. Ketika Destra tiba dipintu masuk gedung tersebut, dirinya melihat mobil yang dikendarai Aldo melesat kencang dipelataran gedung Nugraha.


Destra berlari menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk gedung tersebut untuk mengejar Aldo.


Dengan kecepatan tinggi mobil yang dimudikan Destra berhasil berada tidak jauh dari mobil yang dikendarai Aldo.


Mobil yang dikendarai Aldo mengurangi kecepatannya ketika memasuki gerbang rumah sakit yang masih di buntuti oleh Destra dari belakang.


Aldo memarkirkan mobil nya sembarang dan berlari memasuki rumah sakit tersebut dengan sesekali Aldo menyeka air matanya yang terus mengalir tiada henti. Aldo menuju resepsionis rumah sakit untuk mencari infomasi terlebih dahulu.


Disaat Aldo telah melihat keberadaan istrinya yang mondar mandir didepan ruangan IGD, Aldo melangkahkan kaki nya dengan gontai menghampiri Erni.


" Pa ". seru Erni parau yang menyadari kedatangan suaminya. Erni berhambur kepelukan suaminya dan menangis sejadi - jadinya.


Dirasa Erni sedikit lebih tenang setelah puas menangis dipelukannya, Aldo menanyakan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Dari mana mama mengetahui bahwa korban dari kecelakaan itu adalah kak Ahmad?". tanya Aldo kepada Erni istrinya seakan dirinya tidak percaya dengan pesan singkat yang dikirim oleh Erni.


Erni merenggangkan pelukannya dari Aldo supaya leluasa menceritakan semua yang diketahuinya.


"Disaat Deni dan Defri menonton televisi ada berita kecelakaan yang disiarkan secara langsung dari tempat terjadinya kecelakaan. Deni ingat dengan nomer polisi mobil kak Ahmad, dan Deni berteriak memanggil mama untuk memastikan dengan apa yang dilihat mereka. Ketika mama melihat berita itu, mama melihat jelas wajah Caca saat dikeluarkan dari dalam mobil". jawab Erni terbata - bata karena isak tangisnya.


Semula Aldo berharap kabar yang dikirim Erni melalui pesan singkat itu tidak terjadi pada kakak nya namun harapannya kini pupus sudah setelah mendengar semua penuturan dari istrinya.


"Apakah mama sempat melihat mereka sebelum dibawa masuk kedalam ruangan IGD?". tanya Aldo lirih yang telah mendudukkan dirinya dan juga Erni di kursi tunggu berada tidak jauh dari ruang IGD tersebut.


Belum sempat Erni menjawab pertanyaan suaminya, dua laki - laki berseragam menghampiri mereka.


"Selamat pagi, apakah benar bapak dari keluarga korban yang bernama bapak Ahmad wijaya?". tanya lelaki berseragam lalu lintas.


"Saya adiknya". jawab Aldo berdiri dengan menyeka air matanya.


"Kami ingin menyerahkan barang - barang yang kami temukan didalam mobil korban". ujar lelaki berseragam polisi tersebut dengan menyerahkan koper yang berukuran sedang yang diduga adalah milik keponakannya.


Air mata Aldo kembali mengalir deras disaat melihat barang yang diserahkan dua polisi tersebut.


"Mobil yang dikendarai bapak Ahmad terserempet oleh bus penumpang sehingga membuat pak Ahmad hilang kendali. Kami juga telah membawa dan menahan supir bus tersebut di kantor kami di jalan AY. Jika bapak ingin mengetahui lebih jelas dengan kronologi kejadian kami akan siap menunggu bapak di kantor untuk memperlihatkan rekaman cctv dijalan tempat terjadinya kecelakaan". ujar polisi


Aldo hanya menganggukkan kepala nya tanpa mengalihkan pandangannya dari barang - barang yang kini berada dihadapannya.


Setelah menyerahkan barang - barang Ahmad kepada Aldo, ke dua polisi lalu lintas tersebut meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan dengan Aldo dan Erni.


Semua yang diutarakan pihak polisi kepada Aldo di dengar jelas oleh Destra yang berada tidak jauh dari mereka sehingga membuat tubuh Destra gemetar seketika.


Dengan kaki gemetar Destra melangkah menghampiri Aldo yang masih mematung didepan ruangan IGD yang menatap lekat barang yang diterimanya dari pihak polisi yang mengevakuasi tempat terjadinya kecelakaan.


Ketika Destra akan menggapai pundak Aldo, seorang dokter keluar dari ruangan IGD tersebut. Dan dengan cepat Aldo dan istrinya segera menghampiri dokter yang menangani korban kecelakaan yang terjadi pada keluarga Ahmad.


"Bagaimana dengan keluarga kakak saya dokter?".


tanya Aldo kepada dokter yang bernama Hardi.


"Maafkan kami tuan, kami tidak dapat menyelamatkan tuan Ahmad dan juga Istrinya". jawab dokter Hardi.


Mendengar penuturan dokter Hardi yang tidak bisa menyelamatkan kakaknya, Aldo terduduk lemas di lantai karena sudah tidak sanggup menopang berat badannya karena seluruh badannya gemetar hebat.


Sedangkan Destra hanya mematung ditempat tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tanpa terasa air mata Destra lolos dari kelopak matanya yang membasahi pipi mulusnya.


"Dokter, anak pasien kembali kritis". ujar seorang perawat yang baru keluar dari ruang IGD menghampiri dokter Hardi. Dengan langkah cepat dokter Hardi kembali masuk untuk memastikan kembali keadaan Caca.

__ADS_1


Tidak berapa lama seorang suster kembali keluar dari ruangan IGD tersebut.


"Apakah tuan keluarga pasien?". tanya perawat tersebut.


"Kami keluarganya". jawab Erni cepat. Sedangkan Aldo masih terkulai lemah dilantai.


"Siapa yang memiliki golongan darah B negatif, rumah sakit sedang tidak ada persediaan stok golongan darah B negatif?". ujar perawat tersebut.


"Saya memiliki golongan darah B negatif". jawab Destra Cepat.


Aldo yang terduduk dilantai mendongakkan kepalanya melihat kearah asal suara.


Aldo baru menyadari akan keberadaan Destra yang tidak jauh darinya. Aldo menyeret badannya di lantai untuk menggapai kaki Destra.


"Tolong selamatkan Caca tuan". seru Aldo bersimpuh memegang kaki Destra dengan beruraian air mata.


"Jangan seperti ini om, jika seluruh darah di badan ini mampu menyelamatkannya, Destra rela menyerahkan semuanya". jawab Destra yang juga berurai air mata dan mengangkat pundak Aldo supaya berdiri.


"Mari tuan ikut dengan saya, kita sudah tidak ada waktu lagi". seru suster itu menyadarkan mereka. Destra meninggalkan Aldo dan mengikuti suster tersebut untuk mendonorkan darah nya untuk Caca.


Erni mendekati suaminya yang masih berdiri terpaku ditempat Destra meninggalkannya. Kini Aldo terus melihat ke arah pintu IGD yang masih tertutup berharap kabar baik akan keponakannya yang kini masih dalam keadaan kritis.


"Berjuanglah Ca". ucap Aldo lirih dengan menyeka air matanya.


"Pa, kita harus kuat". seru Erni yang mendengar suara lirih Aldo.


"Aku sudah tidak memiliki saudara lagi didunia ini, kak Ahmad saudara aku satu - satu nya telah meninggalkan aku". ucap Aldo.


"Papa jangan berbicara seperti itu, Papa masih ada Erni dan juga anak - anak". jawab Erni yang juga menangis


"Kita ikhlaskan kepergian kak Ahmad dan mbak Ratna pa. Kita do'a kan mereka suapaya ditempatkan di tempat yang terindah di surga yang dijanjikan Allah". imbuh Erni menasehati suaminya.


Selang beberapa menit Aldo kembali terisak melihat dua jenazah yang keluar dari ruang IGD satu persatu.


Aldo memeluk erat jasad Ahmad yang sudah terbujur kaku dibangkar rumah sakit itu dengan uraian air mata.


"Pa, sebaiknya kita kabari bunda Siska tentang kabar ini, agar mereka segera datang kemari". ucap Erni mengingatkan Aldo yang terus memeluk jasad Ahmad.


Mendengar ucapan Erni, Aldo merenggangkan pelukannya dan meminta kepada pihak rumah sakit untuk mengurus kedua jasad kakaknya untuk segera dibawa kerumahnya terlebih dahulu sebelum dimakamkan.


Erni menyerahkan handphone nya kepada Aldo yang terlihat bingung dengan meraba - raba saku celananya sendiri mencari keberadaan handphonenya namun tidak menemukannya.


Aldo menerima benda pipih dari Erni untuk memberitahukan kabar duka kepada keluarga Ratna yang bertempat tinggal di kota medan.

__ADS_1


Tidak menunggu lama panggilan selulernya terhubung dengan Rangga adik laki - laki Ratna. Aldo tidak sanggup untuk memberitahukan langsung kepada ibu kandung Ratna sehingga Aldo memutuskan untuk meminta Rangga yang menyampaikan kabar duka itu kepada oma Siska.


__ADS_2