
Tidak menunggu lama panggilan selulernya terhubung dengan Rangga adik laki - laki Ratna. Aldo tidak sanggup untuk memberitahukan langsung kepada ibu kandung Ratna sehingga Aldo memutuskan untuk meminta Rangga yang menyampaikan kabar duka itu kepada oma Siska.
Kedekatan keluarganya dengan keluarga Ratna, membuat mereka saling berkomunikasi satu sama lain. Bunda Siska sudah menganggap Aldo seperti anaknya sendiri.
"Assalamualaikum". ucap Rangga saat menerima panggilan.
"Waalaikumsalam, Rangga ini aku Aldo adik ipar mbak Ratna". jawab Aldo dengan suara parau.
"Hi bro, apa khabar?". tanya Rangga riang saat mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Aku kira siapa tadi. Karena nomer ini tidak ada tersimpan di kontak". ujar Rangga jujur.
"Rangga". seru Aldo terisak.
"Ada apa denganmu bro?. Apa terjadi sesuatu pada kalian?". tanya Rangga heran mendengar suara tangisan Aldo hingga terisak.
Aldo tidak menjawab pertanyaan Rangga. Sesaat Aldo terdiam untuk menguatkan hatinya untuk menyampaikan kabar duka yang menimpa keluarga mereka.
"Kak Ahmad dan mbak Ratna meninggal dunia karena kecelakaan Rangga". jawab Aldo terbata - bata.
Tak sanggup rasanya Aldo menyampaikan kabar duka itu kepada keluarga Ratna namun Aldo harus menyampaikannya.
Rangga yang mendengar kabar duka dari Aldo membuatnya terdiam sesaat dan menyeka air mata yang lolos membasahi pipinya.
"Innalillahiwainnalillahiroziun". gumannya lirih.
"Kami akan membawanya kerumah kami untuk menunggu kalian sebelum dimakamkan. Dan Aku belum memberitahukan bunda Siska tentang kabar ini Rangga, aku tidak sanggup untuk menyampaikan kabar ini dengannya". ujar Aldo terisak.
"Bagaimana dengan Caca?". tanya Rangga lirih
"Caca masih dalam penanganan dokter saat ini". jawab Aldo
"Ya Allah, berilah kesembuhan kenopanakan hamba". ucap Rangga lirih memohon kepada Tuhan Sang Pencipta. Dengan segera Rangga beranjak dari kursi kerjanya untuk cepat kembali kerumah untuk memberitahukan Bundanya.
"Secepatnya Kami akan sampai disana". ucap Rangga dan memutus sambungan seluler mereka.
Di perjalan menuju kediamannya, dengan sigap Rangga memesan tiket pesawat melalui telephon genggamnya.
Selesai mendonorkan darah nya untuk Caca, Destra kembali menghampiri Aldo yang tengah berbicara dengan seseorang melalui telephone genggam.
"Tuan, sebentar lagi kami akan membawa jenazah orang tua Caca kerumah saya terlebih dahulu sebelum dimakamkan". ujar Aldo kepada Destra seusai menghubungi kelurga Ratna.
"Baiklah Om, Destra akan berjaga disini untuk memastikan kondisi Caca". jawab Destra yang mengerti akan kebingungan Aldo yang terlihat khawatir dengan kondisi Caca yang masih kritis
"Om Aldo tidak perlu khawatir, Destra juga telah meminta kepada pihak rumah sakit untuk menyediakan ruangan khusus untuk merawat Caca dan menempatkan 2 dokter untuk berjaga bergantian". imbuh Destra.
"Terimakasih banyak tuan". seru Aldo lega karena kesediaan Destra untuk menjaga Caca selagi dirinya dan Erni kembali kerumah mereka untuk membawa jenazah orang tua Caca.
Seorang dokter keluar dari ruang IGD tersebut dan disusul dua suster yang mendorong brankar tempat Caca terbaring dan membawanya ketempat khusus yang telah Destra pesan kepada pihak rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya dokter?". tanya Aldo kepada dokter yang menangani keponakannya.
"Alhamdulillah, Dia telah melewati masa kritisnya tuan. Dia sangat kuat setelah banyak mengeluarkan banyak darah dari bagian lehernya yang terkena serpihan kaca mobil ". jawab dokter Hardi.
"Bersyukurlah, Allah telah memberinya umur panjang karena bisa bertahan hingga saat ini". imbuh dokter Hardi memegang pundak Aldo dan berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
Mendengar kabar Caca yang telah melewati masa kritis nya Aldo dan Destra mengucap Syukur dengan bersujud dilantai rumah sakit tersebut. Erni menangis bahagia mendengar apa yang dikatakan dokter Hardi.
Setelah memastikan Caca berada diruangan khusus lengkap dengan alat - alat medis dan dijaga 2 dokter seperti yang dikatakan Destra, hati Aldo sedikit tenang untuk meninggalkan Caca dirumah sakit untuk membawa jenazah Ahmad dan Ratna kerumahnya sebelum dikebumikan.
Tidak lupa Erni menghubungi asisten rumah tangganya untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum mereka tiba dengan membawa jenazah ke dua kakak ipar nya.
Dengan bantuan Deni anak sulung Aldo semua yang diperintahkan Erni cepat mereka siapkan. Wanita paruh baya itu juga memberitahukan tetangga mengenai kabar duka yang menimpa keluarga majikannya.
Selama diperjalanan menuju kediamannya, Aldo tidak lupa memberitahukan kepada Alki mengenai kabar duka tersebut.
Alki yang berada dirumah bersama istri dan juga anak perempuannya sangat terkejut mendengar kabar meninggalnya Ahmad dan Ratna yang mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawa calon besannya.
Dengan segera Alki dan Anggi berkemas untuk segera melayat kekediaman Aldo tanpa membawa sertakan anak perempuan mereka.
Setelah Aldo dan Erni meninggalkan rumah sakit untuk mengurus jenazah orang tua Caca, Destra tetap setia berada didalam ruangan Caca meski sudah ada dokter yang selalu memantaunya.
Suara Azan berkumandang dari masjid menunjukkan waktu shalat dzuhur telah tiba. Destra melangkah keluar dari ruangan tersebut untuk mengambil perlengkapan shalat yang selalu tersedia dimobilnya dan kembali lagi keruangan Caca.
Destra berwudhu sebelum melaksanakan shalat fardhu dzuhur. Dia melaksanakan kewajibannya didalam ruangan yang sama tempat Caca dirawat.
Selesai shalat dzuhur, Destra membaca Alqur'an Surat At-taubah dan melantunkannya dengan sangat merdu disebelah brankar Caca berbaring.
"Bangunlah bidadari surgaku". seru Destra pelan ditelinga Caca selesai membaca Alqu'an.
Destra menggapai benda pipih yang diletakkannya dimeja nakas tidak jauh dari tempat Caca berbaring untuk memberitahukan Alki akan keberadaannya.
Puluhan Panggilan tak terjawab tampil dilayar handphone nya dari Alki, Edo dan juga Anggi mami nya.
"Assalamualaikum". ucap Destra ketika panggilan seluler nya telah terhubung.
"Bagaimana dengan keadaan Caca nak?". tanya Anggi
"Dia belum sadarkan diri ma, namun dia telah melewati masa kritis". jawab Destra yang terus melihat kearah Caca.
"Alhamdulillah, mudah - mudahan dia segera sadarkan diri ya sayang". seru Anggi
"Amiiinn". jawab Destra.
"Mami sekarang lagi dimana?".
"Mami dan papimu sekarang sudah berada dirumah Aldo nak". jawab Anggi
"Sebentar lagi Destra kesana ma".
"Jangan sayang, lebih baik kamu disana saja. Jika kamu meninggalkannya sendirian, Aldo tidak akan bisa tenang karena tidak ada yang menjaga Caca". jawab Anggi
"Baiklah ma, Destra akan menjaganya. Tapi Destra minta tolong supaya mami memberitahukan dengan kak Edo kalau Destra dalam keadaan baik - baik saja".
"Mami sudah memberitahukannya sayang".
"Thank's mami". jawab Destra dan mengakhiri percakapan mereka setelah mengucapkan salam.
***
Suasana rumah duka dikediaman Aldo telah dipadati oleh kerabat tetangga Aldo dan juga rekan kerjanya begitu juga dengan Edo.
__ADS_1
Setelah mendengar kabar dari Anggi, Edo meminta Sandra untuk menunda semua pertemuannya dengan client. Tanpa bantahan Sandra menghubungi client yang akan melakukan pertemuan hari itu.
Suara tangis kembali pecah disaat keluarga Ratna telah tiba dikediaman Aldo. Bunda Siska jatuh pinsan disaat melihat anak perempuannya yang telah terbaring kaku.
Erni meminta Rangga untuk membawa bunda Siska kedalam kamar pribadi Erni dan Aldo.
Semua pelayat yang melihat Siska menangis hingga pinsan membuat mereka turut menitiskan air mata.
Aldo berbicara kepada Rangga agar menyegerakan pemakaman Ahmad dan Ratna. Rangga langsung menyetujui pendapat Aldo untuk segera melakukan pemakaman.
Dua ambulace berjalan beriring menghantarkan jenazah Ahmad dan Ratna ke tempat keperistirahatan mereka yang terakhir setelah mereka dan para pelayat menyolatkan jenazah tersebut berjama'ah dimasjid yang tidak terlalu jauh dari kediaman Aldo.
Satu persatu para pelayat meninggalkan area pemakaman setelah jenazah selesai dimakamkan.
Sedangkan Siska seakan enggan meninggalkan area pemakaman dengan terus menangis dipusara Ratna.
"Sebaiknya bunda Siska kembali kerumah kami supaya beristirahat". ujar Aldo kepada Rangga agar membawa Siska kembali.
"Mungkin kami akan langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Caca bro". jawab Rangga
"Papa, Deni juga ingin melihat mbak Caca". seru Deni yang juga berada di area pemakaman.
"Iya sayang". jawab Aldo singkat.
Rangga memapah Bunda Siska untuk meninggalkan area pemakaman yang sudah sepi dari para pelayat yang turut menghantarkan jenazah keperistirahatan yang terakhir.
Mereka menuju kerumah sakit tempat Caca dirawat. Sedangkan Edo kembali ke apartment nya untuk bersiap menghadiri acara pernikahan anak Romi salah satu client Nugraha setelah Alki memintanya untuk tetap menghadiri acara pernikahan tersebut.
"Sandra, kamu lagi dimana sekarang?". tanya Edo setelah sambungan telephone nya terhubung dengan sekretaris Alki disaat dirinya meninggalkan area pemakan menuju mobilnya yang terparkir.
"Saya masih dikantor tuan". jawab Sandra yang harus menyelesaikan pekerjaannya.
"Kamu tunggu saya dikantor, Sebentar lagi saya sampai". seru Edo dan menekan tombol merah yang ada di layar handphone tanpa mendengar jawaban dari Sandra.
Edo mengemudikan mobil nya menuju kantor untuk menjemput Sandra yang masih berada dikantor untuk menghadiri pernikahan anak client mereka.
Rekan kerja Sandra satu persatu telah meninggalkan gedung Nugraha. Sedangkan Sandra masih berada didalam ruangannya menyelesaikan pekerjaannya.
Sandra yang fokus dengan pekerjaannya, tidak menyadari kedatangan Edo yang telah berada didalam ruangannya.
Edo mendekati Sandra yang duduk di depan meja kerjanya dan memperhatikan pekerjaan Sandra dari belakang.
"Astaqfirullah". ucap Sandra yang terkejut dengan memegang Dadanya setelah menyadari Edo yang telah berdiri disebelahnya.
"Mengapa tuan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu". seru Sandra
Melihat Sandra yang ketakutan karena kehadirannya secara tiba - tiba membuat Edo semakin ingin menjahili Sandra.
"Apakah kamu ingin menyelesaikan pekerjaan kamu sampai besok?". tanya Edo dengan meletakkan kedua telapak tangannya disisi meja kerja Sandra sehingga jarak pandang mereka sangat dekat.
"Apa yang tuan lakukan?". tanya Sandra ketakutan.
Edo semakin membuat jarak mereka semakin menyempit dikala melihat Sandra yang semakin ketakutan.
Dengan sedikit keberanian yang tersisa Sandra mendorong tubuh Edo supaya menjauh dari dirinya. Melihat ada penolakan dari Sandra membuat Edo tersenyum dan menarik lengan Sandra dengan paksa.
__ADS_1