SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 27


__ADS_3

Ting....pintu lift terbuka disaat mereka telah berada dilobby gedung tersebut. Dengan cepat Sandra melepas paksa tangannya dari cengkraman Edo karena takut dilihat karyawan nugraha.


Mengerti akan kekhawatiran Sandra, akhirnya Edo mau melepaskannya dan berjalan dengan tegap keluar dari gedung tersebut menuju mobilnya.


"Wow..apa gue tidak salah dengar?". seru Destra


"Loe ngak salah dengar my brother". jawab Edo dengan membukakan pintu mobil untuk Sandra.


"Apakah kakak saat ini bersamanya?"


"Hemm".


"Sebenarnya ada yang ingin gue bicarakan sama loe, tapi sekarang belum waktunya.karena gue kagak mau mengganggu loe saat ini".


"Baiklah brother, tapi disaat gue bertanya tentang dia, kakak harus cerita".


"Itu pasti my brother".


"Semoga sukses brother. Assalamualaikum". seru Destra.


"Waalaikumsalam". sahut Edo dangan menekan tombol merah layar dihandphonenya.


Pintu mobil sudah dibukakan untuk Sandra namun belum juga ada yang masuk. Edo melihat ke arah belakangnya mengira Sandra akan mengikutinya.


Edo mengedarkan pandangannya diarea luas depan gedung nugraha tersebut dan melihat Sandra yang akan menuju arah halte bus.


Edo berlari kencang mengejar Sandra saat akan memasuki halte bus tersebut.


Dengan sigap Edo menarik lengan Sandra hingga membuat si empu berbalik badan dan membuat sandra masuk dalam dekapan Edo di depan umum. Dengan cepat Sandra melepaskan dirinya dari pelukan tuannya namun Edo menahannya.


"Jika kamu tidak mengikutiku lagi, maka aku tidak akan segan - segan mencium kamu di tempat umum". seru Edo di telinga Sandra.


Sandra menganggukkan kepalanya agar Edo segera melepas dekapannya.


Dengan tersenyum Edo melepaskan tangannnya perlahan dari pinggang Sandra dan melangkah meninggalkan Sandra yang masih mematung. Edo tersenyum puas karena ancamannya berhasil membuat Sandra patuh.


"Apakah kamu ingin aku melakukannya sekarang". teriak Edo kepada Sandra yang masih mematung ditempat. Sandra sontak tersadar dan melangkah cepat mengikuti Edo dari belakang seperti anak itik.


Sebenarnya Edo bukanlah sosok yang berani berbuat seperti yang diucapkannya kepada Sandra. Edo mengucapkan itu karena dia sudah mengerti bahwa sekretaris ayahnya itu pasti akan patuh bila diancam demikian.


Sejak mereka meninggalkan kawasan gedung Nugraha. Diperjalanan Sandra hanya diam tanpa satu katapun sehingga membuat Edo merasa bersalah.


"Maafkan aku San". ucap Edo lirih memecah keheningan


"Tidak apa - apa tuan". jawab Sandra Cepat.


"San, aku melakukan itu supaya kamu tidak menghindar dariku. Aku juga tidak akan mungkin melakukan hal senonoh ditempat umum apa lagi yang bukan mahrom ku". ujar Edo


"Saya tidak menghindari tuan". seru Sandra


"Lantas kenapa kamu pergi menuju halte dan bukan mengikuti ku ke mobil?". tanya Edo heran


"Karena saya dengar tuan akan pergi ke pesta tuan Romi dengan calon kakak ipar tuan Destra". jawab Sandra polos. Edo tertawa lepas mendengar penjelasan Sandra.


"Jadi kamu mengira aku sudah punya calon istri?". tanya Edo dan kembali tertawa lepas. Sandra hanya menundukkan kepalanya.


"Jika aku sudah punya calon istri, aku tidak akan mungkin mengajak kamu untuk menemani aku ke acara tuan Romi". ujar Edo setelah puas tertawa.


"Terus siapa yang tuan maksud calon kakak ipar tuan Destra?". tanya Sandra polos.


"Kamu". jawab Edo singkat padat dan cepat.


Sandra memiringkan wajahnya kesebelahnya menatap Edo yang sedang mengemudikan mobil.


"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?, aku tahu jika wajahku ini tampan tapi lebih tampan adikku Destra". ucap Edo yang mengakui akan ketampanan Destra.


"Saya akui tuan memang tampan, tapi kenapa tuan mengatakan saya sebagai calon kakak ipar tuan Destra?".


"Karena aku mencintaimu". jawab Edo to the point. Wajah Sandra kembali merona dikala Edo mengutarakan kata cinta kepadanya namun Sandra kembali menyadarkan dirinya agar tidak percaya dengan ucapan Edo.


"Kenapa tuan mencintai saya begitu mudah?, sedangkan tuan tidak begitu mengenal saya".


"Aku mengetahui siapa kamu, dari mana asal usul kamu, dimana kamu tinggal, dan aku juga tahu apa yang kamu lakukan disaat malam weekend". ujar Edo santai tanpa ada yang ditutup - tutupi.


"Maksud tuan?". tanya Sandra karena terkejut mendengar semua yang diketahui Edo tentang dirinya.

__ADS_1


"Ayo turun". ajak Edo disaat mereka telah berada didepan sebuah boutique.


Sandra baru menyadari ternyata kendraan yang dikemudikan Edo telah berhenti didepan sebuah butik.


"Kenapa kita kesini tuan?". tanya Sandra yang enggan untuk turun.


"Apa kamu akan pergi kepesta tuan Romi dengan berpakaian kantor seperti ini?". tanya Edo


"Sudah ayo turun". ajak Edo tersenyum dan keluar lebih dulu dari mobilnya.


Meski banyak pertanyaan yang ada dalam kepalanya dengan terpaksa Sandra keluar dari mobil menghampiri Edo yang telah menunggunya didepan pintu butik tersebut.


Didalam butik mereka disambut dengan wanita jadi - jadian dengan sangat ramah.


"Hi jomblo akut yang tampan". tegur pengurus butik tersebut dengan gaya ngondeknya yang sangat mengenal Edo dan juga Destra.


"Gue sudah ngak jomblo lagi, noh calon istri gue". seru Edo dengan menunjuk Sandra yang masih berada dekat dengan pintu masuk. Mendengar Edo yang terus mengaku dirinya calon istri Sandra tidak mau ambil pusing. Dia menganggap itu hanya candaan Edo semata.


"Gue kagak percaya". ucap pengurus butik tersebut dengan mengayunkan kepalanya dan melangkah menghampiri Sandra.


"Hi nona Cantik, perkenalkan nama eke Ri..va...na". seru nya dengan mengeja namanya lembut.


"Sandra". ucap nya lembut.


"Itu nama loe kalau sudah gelap, sekarang masih terang bro". seru Edo yang suka menjahili pemilik butik tersebut bila berada disana.


"Emang, tapi sekarang sudah mulai gelap Jokut". jawab nya


"Sama saja masih terang bro Ri..van". jawab Edo


"Terserah loe deh dasar Jokut". jawab nya kesal


"Jokut, ngiming - ngiming pangeran gue kok ngak ikut sih". tanya Rivan


"Pangeran loe lagi bersama calon istrinya". jawab Edo santai.


"Ohh tidaak, eke tidak sanggup mendengarnya". jawanya dengan menutup kedua telinganya.


"Mengapa cinta eke selalu bertepuk sebelah tangan sih". ucap nya dengan mimik wajah sedih.


"Jokut". seru nya manja dan lemah gulai.


"Mau sampai kapan loe panggil gue jokut?".


"Sampai loe terima cinta gue tampan". jawabnya manja.


"Ih oggah". jawab Edo geli.


"Gue ngak jomblo lagi Rivan, dia calon istri gue". ujar Edo


"Gue kagak percaya Jokut". jawab nya dengan gaya ngondek.


"Kenapa loe kagak percaya sih kalau dia calon istri gue?".


"Gimana gue mau percaya sama loe, semenjak kita putus loe ngak pernah tuh pacaran lagi tuh". jawab nya masih dengan gaya ngondek.


"Idih siapa juga yang pernah pacaran sama loe". jawab Edo sampai merinding melihatnya.


"Loe tega jokut". serunya dengan memukul - mukul pelan lengan Edo manja.


"Apa karena dia cantik terus loe ngaku - ngaku dia calon istri loe jokut". tanya Rivan dengan mimik sedih.


Perdebatan Edo dengan wanita jadi - jadian itu membuat Sandra tidak berhenti menahan tawanya. Hingga akhirnya tawa Sandra terlepas karena sudah tidak sanggup untuk menahannya.


"Gimana caranya supaya loe percaya kalau dia calon istri gue?".


"Gampang. Loe cium dia dihadapan gue".


Sontak Sandra menghentikan tawanya nya dan melihat ke arah tuannya yang juga melihat ke arahnya.


"Gilak loe, kita dua belum sah menikah. Belum mahrom Rivan". jawab Edo dengan menekan kata muhrim.


"Apa?". jawab Rivan terkejut dengan menutup mulutnya.


"Seumuran loe masih kenal dengan wak mahrom?". ejek Rivan

__ADS_1


"Denger ya jokut ku yang tampan, Anak jaman sekarang masih SMP saja sudah kagak mau kenal dengan yang namanya mahrom". ujar nya.


"Maksud gue belum halal bro". ujar Edo


"Gue tahu Jokut, makanya gue bilang anak jaman sekarang sudah kagak kenal dengan namanya mahrom atau muhrim atau apalah. Langsung main wik wik wik saja tuh bocah - bocah". ujarnya dengan menyatukan telapak tangannya membuat peragaan orang lagi wik wik.


"Ya beda lah". seru Edo


"Jangan bilang loe sampai sekarang masih pejaka?. Atau jangan - jangan loe juga belum pernah ciuman?".


Edo diam seketika dengan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Begitu juga dengan Sandra yang mengingat kembali ciuman pertamanya yang baru saja terjadi.


"Ternyata benar feeling gue". imbuh nya lagi.


"Sudah ah, berdebat sama loe sampai besok juga kagak kelar". seru Edo


"Loe bantu dia pilihin baju yang sesuai untuk ke acara pesta pernikahan". imbuh Edo dan melangkah menuju sofa yang tersedia.


"Loe aja yang suka ngajak gue berdebat". jawabnya.


"Oh tunggu - tunggu, jangan bilang pangeran gue yang nikahan". tanya Rivan .


"Bukan bro, ini pernikahan anak client kantor. Ayo cepetan". jawab Edo jujur agar Rivan cepat menyelesaikan tugas nya.


"Oh syukurlah, hampir saja jantung eke copot". ucap nya dengan mengelus - elus dadanya.


"Ayo cantik ikut eke". seru Rivan dan di ikuti Sandra dari belakang.


"Susana". sapa Rivan memanggil salah satu asistennya dengan gaya ngondek.


"Iya mak". jawabnya


"Tolong loe bantu nona cantik ini memilih gaun yang bisa membuat si jokut kehilangan perjakanya". seru nya


"AssSiap mak, ayo cantik ikut eke". seru Susiana dengan centilnya.


"Hei Susanto, jangan macem - macem loe sama calon istri gue". seru Edo yang mendengar celoteh Rivan.


"Ya ngak mungkin lah kak tampan. Demi cintaku padamu". jawab nya genit dengan membentuk lambang hati dengan menyatukan ibu jari dan telunjuknya.


Melihatnya membuat Edo merinding geli sedangkan Sandra hanya bisa tertawa melihat semua tingkah laku wanita jadi-jadian itu.


Beberapa menit kemudian Sandra dan Rivana menghampiri Edo yang masih setia duduk disofa dengan membaca majalah yang disediakan butik tersebut.


Menyadari kehadiran dua sosok dihadapannya, Edo mengangkat kepala nya. Dan seketika Edo terperangah dengan kecantikan yang dimiliki oleh Sandra yang selama ini tidak diketahuinya.


Sandra memang sudah cantik hanya dengan menggunakan riasan natural saja. Saat ini Sandra semakin cantik dan berbeda jauh dari biasanya dengan balutan gaun berwarna biru sehingga terlihat lebih elegan dibadan Sandra yang cukup tinggi.


Selain butik Rivana juga Ahli dalam merias wajah sehingga mereka tidak perlu lagi untuk pergi kesalon.


"Hi Jakut tampan, awas iler loe jatuh, bisa banjir iler butik ini". tegur Rivana menyadarkan Edo yang terperangah memandang Sandra.


Dengan cepat Edo memalingkan wajahnya kesembarang arah untuk menutup rasa malu nya karena ketahuan terpesona dengan kecantikan Sandra.


"Kecantikan dia bisa membuat loe kehilangan perjaka loe Jokut". ejek Rivana.


"Terserah loe". jawab Edo dan menyerahkan kantu Debit nya kepada Rivana untuk melakukan pembayaran.


"Loe ngapain bayar jokut, loe tinggal ngomong doang dengan ibu kanjeng Ratu". ujar nya.


"Loe potong saja sekalian dengan uang terimakasih gue sama loe". jawab Edo


"Makin cinta deh gue". seru Rivan genit dan menerima kartu Debit Edo untuk melakukan pembayaran.


"Mari kita berangkat". seru Edo karena tidak mau mendengar celoteh Rivan yang akan membuatnya semakin malu dihadapan Sandra.


"Terimakasih ya kak Rivana". seru Sandra Ramah


"Iya Cantik, loe harus hati - hati dengan si jokut. Karena loe bisa di sandera sama dia". seru Rivan dengan cengengesan.


Sandra menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi meninggalkan butik tersebut.


Edo hanya bisa geleng - geleng kepala mendengar celoteh Rivan.


Edo melajukan mobilnya meninggalkan pelataran butik tersebut dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


__ADS_2