SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 6


__ADS_3

Tidak berapa lama Bel sekolah berbunyi. Pagar yang semula terbuka lebar akan segera di tutup. Rani dan Santi masih sibuk dengan perundingan mereka.


"Ngak lama lagi kita ujian kenaikan kelas San, kalau kita ngak belajar ngak bakalan naik kelas". Rani


"Ya kita nyontek Caca lah". Jawab santi santai


"Encer juga otak loe". Senyum Rani mengembang


"Berarti kita ngak perlu masuk kelas dong". Imbuh Rani lagi


"Kita masuk dulu lah Ran, kita harus memberi tahu Caca dengan keputusan yang sudah mutlak ini". Jawab Santi


"Ya sudah yok kita temui Caca". Seru Rani


Merekapun berlari karena pintu pagar sekolah yang hampir tertutup dengan sempurna.


Sesampainya dipekarangan sekolah langkah mereka terhenti bersamaan dan saling bertatapan satu sama lain.


Bukan karena melihat melihat guru yang menakutkan melainkan otak mereka yang baru nalar akan jebakan Caca kepada mereka.


Secara serentak mereka berdua pun berteriak.


"Caca..". Teriak mereka bersamaan dengan wajah kesal mereka.


Santi dan Rani yang berada di tengah lapangan sekolah tersebut sontak menjadi perhatian murid - murid di sekolah tersebut.


Mereka yang sudah menjadi perhatian murid - murid lain melangkah dengan cepat menuju ruang kelas mereka.


Sesampainya di pintu kelas, mereka menatap Caca dengan tatapan mereka yang siap menerkam nya karena telah mengelabui mereka.


Mendapat tatapan mematikan dari 2 sahabatnya itu Caca hanya tersenyum cengengesan karena telah berhasil membawa 2 sahabatnya kedalam sekolah.


Karena melihat Caca cengengesan, Rani dan Santi semakin geram dibuatnya. Tanpa mereka sadari guru yang akan memberi materi pelajaran sudah merada di ruangan tersebut.


Caca sudah memberi code kepada sahabatnya dengan menggunakan mata nya, namun karena telmi yang di idap sahabatnya itu membuat mereka terlambat untuk menyadarinya.


Rani dan Santi yang sudah tersulut emosi melangkah dengan pasti mendekati Caca, namun langkah mereka terhenti seketika setelah Bapak Suroto memukul meja dengan penggaris panjang.


"Tepleeeekkk". Suara melengking itu pun mengejutkan semua yang berada di ruangan tersebut terutama Rani dan Santi spontan menoleh kearah asal suara tersebut.


"Eh cicak terbang". Ucap Santi latah karena terkejut.


"Habis la kita". Guman Rani pelan namun masih di dengar oleh Santi.


Santi pun menyikut Rani pelan.


"Dari mana kalian?". Tanya Bapak Suroto


"It...itu Pak",ucap Rani terbata - bata bingung akan memberi alasan apa.


"Kami dari toilet Pak". Jawab Santi cepat dan dibarengi dengan cengengesannya.


"Iy..iya Pak". Imbuh Rani.


Bapak Suroto yang tidak mudah mempercayai alasan mereka, langsung memerintahkan mereka ber dua untuk berdiri.


"Kalian berdua berdiri di depan". Perintah guru tersebut pun langsung mereka turuti melangkah tempat yang di maksud.


"Angkat kaki kalian sebelah" . Imbuhnya lagi

__ADS_1


Melihat sahabatnya yang mendapat hukuman tidak membuat Caca tinggal diam. Dia pun berdiri dari duduknya yang berada paling belakang dan mengangkat tangan kanan nya ke atas.


"Maaf Pak, saya yang membuat mereka terlambat". Seru nya membela temannya.


"Tidak usah kamu membela teman kamu". Jawab bapak Suroto.


"Tapi saya Pak yang mengunci mereka di toilet Pak". Ucap nya berbohong demi menyelamatkan teman - temannya.


Mereka yang berdiri pun tersenyum ke arah Caca karena sudah membela mereka.


"Apa yang menyebabkan kamu mengunci mereka?". Tanya Suroto


"Karena mereka meminta saya..",kata kata nya terputus untuk mengerjai kembali sahabatnya.


"****** lah kita". Guman Santi pelan dengan menyenggol pelan Rani.


Rani pun menatap tajam ke arah Caca. Karena di kira Caca akan membongkar rencana bolos mereka.


"Meminta apa?". Tanya Suroto yang menunggu jawaban tanpa memalingkan tatapannya dari Caca.


Melihat tatapan Rani dan Santi ingin rasanya dia tertawa "kalian pikir gue mengidap penyakit TELMI (telat mikir) seperti kalian" gumannya dalam hati.


"Mereka meminta saya untuk dekatin kakak kelas Pak". Jawab Caca menunduk.


"Apa benar seperti itu?". Tanya Suroto kepada Rani dan Santi yang dibenaknya sedikit lega karena Caca memberi alasan yang tepat.


"Iya Pak". Jawab meraka kompak.


"Kenapa kalian meminta Caca mendekati kakak kelas kalian?". Tanya nya lagi.


"Kakak kelas itu ganteng banget pak". jawab Santi


Rani yang polos pun menjawab pertanyaan yang dianggapnya terlalu gampang.


"Bapak kan tahu sendiri, Caca cantik, sexi, tinggi, putih serba komplit deh pak apa lagi dia pintar, lah kalau saya yang dekatin tuh kakak kelas, saya belum dekat dia sudah kabur duluan Pak". Jawab Rani polos.


Jawaban Rani sontak membuat penghuni ruangan itu tertawa terbahak - bahak,, tak terkecuali bapak Suroto pun ikut tertawa mendengar penuturan Rani hanya saja dia tertawa telan.


"Untuk kali ini saya maafkan kalian berdua, silahkan duduk". Perintah Suroto rersenyum karena mendengar jawaban murid nya.


Dan mereka pun melanjutkan kegiatan belajar mereka dengn tertib.


"Lain kali saya tidak akan memberi kalian toleransi kalau kejadian seperti ini terulang kembali". imbuh nya.


*****


Hari ini Alki tidak berangkat ke kantor nya karena harus melakukan perjalanan bisnis ke kota B bersama Destra anaknya dan juga Aldo salah satu karyawan unggulan di kantornya.


"Destra, loe ada kasih kabar kedatangan loe dengan Edo?". tanya Alki


"Belum pa".


"Loe kasih kabar dia, Edo selalu ngomong kangen sama loe".


"Destra mau kasih kejutan pa, kalau Destra pergi kekantor papi".


"Ntar kalau Edo telephone mami loe, pasti Edo tanya tentang loe".


"Iya pa nanti Destra kasih kabar Edo".

__ADS_1


Edo adalah orang kepercayaan Alki dan juga sudah di anggap Alki sebagai anak nya sendiri.


Flashback ON


Kehidupan keluarga yang sederhana sudah hal biasa bagi Edo. Dikarenakan ayah nya yang hanya seorang pekerja bangunan.


Untuk memenuhi kebutuhan mereka Edo juga harus ikut bekerja bersama ayahnya. Edo tetap bersekolah untuk menimba ilmu meskipun ekonomi mereka sangat sulit, Ayah dan ibu nya selalu memberi semangat kepada Edo supaya tetap bersekolah meskipun mereka hidup seadanya.


Sehabis pulang sekolah Edo akan menyusul ayahnya untuk membantu ayahnya bekerja. Terkadang Edo juga menjadi pengamen dan juga penjual koran untuk bisa terus melanjutkan sekolahnya.


Rumah kontrakan yang sangat - sangat sederhana itu menjadi saksi bisu perjuangan hidup mereka.


Tepat di hari minggu di pagi hari Edo keluar dari rumahnya untuk berdagang koran di lampu merah. Ayah ibu nya juga akan keluar rumah untuk berbelanja keperluan dapur mereka dengan di hantar ayahnya menggunakan sepeda.


Mereka keluar rumah bersama, setelah mengantar Edo ke lampu merah tempat biasa dirinya berjualan, ayah dan ibu nya pun berangkat menuju pasar.


"Edo ayah antar disini ya nak, nanti ayah jemput disini juga" Ucap ayah nya memberi pesan.


"Baiklah ayah".


Setelah mencium punggung tangan kedua orang tua nya, lalu Edo berjalan menuju lampu merah untuk menjajakan dagangannya. Tidak berapa lama dagangan koran Edo sudah habis terjual. Edo menunggu kedua orang tua nya di mana tempat orang tua nya menurunkannya sebelum pergi ke pasar.


Menunggu beberapa menit kedua orang tua Edo sudah terlihat menuju tempat Edo menunggu.


"Ayah awas!!!!". Teriak Edo dengan sangat keras namun kendaraan roda empat yang melaju kencang dari arah belakang orang tua nya tidak dapat terhindari.


Orang tua Edo terlempar jauh karena dorongan mobil yang melaju kencang dari arah belakang. Edo yang menyaksikan kejadian itu terdiam di tempat dengan air mata mengalir deras.


Jalanan di hari minggu itu memang sedikit lengang, berbeda dengan hari biasanya yang akan dipadati oleh kendaraan.


Keterpakuan Edo pun tersadar setelah melihat seseorang yang berusaha membopong orang tua nya satu per satu.


"Ayah , Ibu". teriak Edo sekencang kencangnya.


"Ayo cepat kita harus membawanya kerumah sakit". Seru Alki kepada Edo


Alki pun meminta supir nya melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat. Selama di perjalanan Edo terus menangis.


Selang 15 menit mereka pun tiba disalah satu rumah sakit besar di kota J tersebut. Dengan sigap dokter langsung menangani orang tua Edo karena mereka mengenal siapa Alki itu.


Setelah ke dua orang tua Edo ditangani oleh dokter, Alki pun menghampiri Edo yang masih menangis sesegukan.


"Hi, apakah kau anak dari kedua orang itu?". Tanya Alki kepada anak yang berusia 10 tahun itu.


"Iya Om". Ujar nya masih dengan tangisannya.


Alki pun menarik anak itu kedalam pelukannya.


"Berdoa lah agar orang tua mu dapat terselamatkan". Ujar Alki


Setelah dilihat sedikit tenang, Alki pun membawa nya untuk duduk dikursi tunggu yang tidak jauh dari ruang IGD yang menangani orang tua nya.


"Siapa namamu nak?". Tanya Alki dengan lembut


"Edo om". Jawab nya lirih


"Baik lah Edo, apakah kau tidak ingin menghubungi kerabatmu?". Tanya Alki dengan hati - hati.


Edo hanya menunduk mendengar pertanyaan Alki dan menjawab nya dengan gelengan.

__ADS_1


"Kami tidak memiliki saudara om". jawabnya.


__ADS_2