SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 19


__ADS_3

Tanpa terasa waktu penentuan kenaikan kelas telah tiba. Semua murid telah berada didalam kelasnya masing - masing menanti wali kelas mereka untuk membagikan Rapor.


"Menurut loe kita dua naik kelas ngak San?". tanya Rani yang terlihat gelisah.


"Gue ragu". Jawab Santi


"Kenapa loe bisa ragu?". Tanya Rani


"Gimana gue ngak ragu, semua soal ujian kemaren susah banget". jawab Santi jujur


"Bukannya loe juga dikasih contekan dengan Caca?". tanya Rani heran


"Masalahnya orang yang memberi kita contekan juga lagi gelisah". ucap Santi dengan melirikkan matanya ke arah Caca.


"Bener juga loe". jawab Rani


"Loe dua ragu dengan kecerdasan gue?". tanya Caca


"Terus kenapa loe juga ikut - ikutan gelisah gitu?". tanya Santi


"Gue lagi mikirin nilai gue". jawab Caca


"Memangnya kenapa dengan nilai loe?". tanya Rani


"Gue pengen mendapat nilai yang terbaik lah". jawab Caca.


"Keinginan loe terlalu tinggi, bagi gue bisa naik kelas saja sudah syukur Ca". Ucap Santi


"Gue juga seperti loe San. Tapi menurut gue loe pasti akan mendapat nilai yang terbaik Ca". ucap Rani.


"Amiinn". jawab Caca


Wali kelas yang mereka tunggu - tunggu akhirnya memasuki ruangan mereka.


"Selamat pagi semua". Ucap wali kelas melangkah memasuki ruangan tersebut menuju meja yang berada paling depan.


"Pagi buk". Jawab mereka serentak.


"Sebagai wali kelas dan juga guru kalian, saya sangat berbangga hati karena memiliki salah satu murid terbaik dari semua murid sekolah ini dia adalah.....kamu Caca salsabilah". Ucap ibu Sarah wali kelas dengan tersenyum menunjuk ke arah Caca.


Tepuk tangan riuh didalam ruangan tersebut. Semua murid kelas itu melihat ke arah Caca dengan diiringi sorak suara dan tepuk tangan.


Caca yang mendengar namanya di sebut dengan nilai terbaik langsung mengangkat tangannya berdoa dan mengusapkan telapak tangan kewajahnya dengan mengucapkan syukur.


"Selamat ya Ca". ucap Santi dan Rani yang berada dekat dengan bangku Caca. Mereka berdiri menghampiri Caca dan memeluknya bergantian.


"Gue bangga punya teman seperti loe Ca". ucap Rani. Air mata bahagia lolos dari kelopak mata indah Caca. Harapan yang diinginkannya tercapai oleh nya.


"Baiklah semua nya, saya juga bangga dengan kalian semua karena didalam ruangan ini tidak ada yang tinggal kelas". ucap ibu Sarah.


Riuh tepuk tangan kembali pecah beserta sorak gembira dari mereka terutama suara Rani dan Santi yang berteriak karena bahagia.


Ibu Sarah wali kelas dari ruangan tersebut mulai memanggil satu persatu murid - murid nya kedepan untuk mengambil Rapor mereka yang ada dimeja guru tersebut dengan memanggil juara pertama terselebih dahulu dan di lanjutkan juara dua dan tiga hingga semua muridnya telah mendapatkan Rapor nya masing - masing.


Senyum bahagia terus terpancar di wajah nya. Bangga akan nilai yang diraih membuatnya tak sabar ingin memberitahukan orang tua nya.


Setelah mereka keluar dari ruangan kelas nya, Caca merogoh tas sandangnya untuk mengambil handphone nya.


"Assalamualaikum sayang".


"Waalaikumsalam ayah".


"Kenapa kamu menangis sayang, apa yang terjadi?, dimana kamu sekarang nak?". Pertanyaan bertubi - tubi dilancarkan kepada Caca yang mendengar anaknya menangis.


"Caca tidak apa - apa ayah". jawab Caca dengan suara parau.

__ADS_1


"Terus kenapa kamu menangis nak?". tanya Ahmad dengan penuh kekhawatiran.


"Caca menangis karena bahagia ayah, akhirnya Caca mendapat nilai terbaik disekolah ayah". jawab nya.


"Alhamdulillah ya Allah, selamat ya sayang. Ayah bangga padamu sayang". Ucap Ahmad haru.


"Segera beritahukan kabar gembira ini kepada bundamu sayang". imbuhnya.


"Baiklah Ayah, Caca akan segera memberitahukan bunda. Assalamualaikum". Jawab nya dan memutus sambungan telephone nya setelah ayahnya menjawab salamnya.


Sesuai dengan perintah ayahnya yang kini masih berada dikantornya bekerja untuk segera menghubungi bunda nya yang berada dirumah.


Setelah memberi kabar bahagia kepada bundanya, Caca mengajak ke 2 teman nya ke cafe tempat biasa mereka nongkrong.


Setibanya dicafe tersebut mereka di sambut langsung oleh Boyran dan itu tidak seperti biasanya.


"Silahkan masuk nona Caca". ucap Boyran ramah. Mereka ber 3 terasa aneh dengan perlakuan Boyran yang tidak seperti biasanya. Caca mengerutkan keningnya menatap heran kepada Boyran.


"Kok Caca saja sih kak". ucap Rani lirih.


"Iya Ran, kita 2 seperti tidak dianggap. Ada namun seperti tiada". ucap Santi dengan mimik wajah berpura - pura sedih.


Boyran cengengesan melihat ke 2 teman Caca. Dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke cafe tersebut dengan senyuman ramah.


Mereka memilih tempat diluar dari bangunan cafe tersebut. Caca mengajak ke 2 temannya untuk mengambil tempat yang berada dibawah pohon rindang dan disetujui oleh Rani dan Santi.


"Gue heran melihat kak Boy ngak seperti biasanya dia menyambut pengunjung cafe. Apa mungkin kak Boy yang ganteng dan ramah itu turun jabatan?". celoteh Rani setelah pelayan cafe pergi dengan membawa catatan pesanan mereka.


"Gue rasa enggak mungkin kak Boyran turun jabatan, lihat saja dia hanya menyambut kita doank". jawab Santi dengan menunjuk kearah pengunjung yang baru memasuki cafe namun tidak ada di sambut oleh Boyran, melainkan di sambut oleh pelayan yang lain.


"Iya juga ya San, tapi kenapa kak Boy menyambut kita seperti tamu special gitu ya?". ucap Rani dengan terheran - heran.


"Loe lupa ya kalau pemilik cafe ini calon suami Caca?". jawab Santi santai.


"Oh iya, baru ingat gue San". ucap nya sambil menepuk meja sehingga membuat Santi dan Caca terkejut karena kelakuan Rani.


"Astaqfirullah, apaan sih loe Ran, buat gue kaget aja". ucap Caca yang memang tidak menyimak percakapan antara Santi dan Rani. Karena Caca disibukkan dengan handphone android nya.


"Ca, ngiming - ngiming bagaimana hubungan loe dengan kak Destra?". tanya Santi


"Maksud loe?". tanya Caca dengan nada tidak senang dengan pertanyaan Santi.


"Bukannya loe calon istri kak Destra?". tanya Santi lagi


"Calon suami dari hongkong". jawab Caca cuek dan kembali memainkan smartphone nya.


"Bukannya kak Destra dari jakarta dan asli warga negara indonesia Ca?, kenapa loe bilang kak Destra dari hongkong?". tanya Rani dengan berpura - pura *****.


"Terserah loe". jawab Caca kesal.


"Kak Destra sendiri yang ngomong sama kita - kita kalau loe calon istrinya dia". ucap Santi santai


"Gue ngak merasa tuh". jawab Caca santai.


"Loe merasa aneh ngak dengan penyambutan kak Boyran tadi?". tanya Santi


"Aneh sih,... tapi menurut gue itu hal biasa yang mereka lakukan untuk pengunjung cafe ini". jawab Caca


"Menurut gue nih ya, itu karena loe calon istri dari kak Destra Ca". Ucap Rani.


"Sudah deh ah, gue ngak mau bahas tentang kak Destra lagi dan gue pastiikan sama loe 2 bahwa gue ngak ada hubungan apa - apa dengan dia". jawab Caca mulai kesal.


Santi dan Rani tidak lagi membahas tentang Destra, karena mereka mengerti dengan sikap Caca yang terlihat kesal.


Mereka mulai menyantap makanan mereka yang telah terhidang.

__ADS_1


"Ca,..loe....". Rani


"Apa lagi sih Ran, gue ngak suka loe bahas tentang dia terus". ucap Caca menimpali Rani yang belum menyelesaikan perkataannya.


"Pede banget loe, siapa juga yang mau bahas tentang kak Destra. Makanya loe dengar dulu". ucap Rani ikut - ikutan kesal.


"Maaf, gue terbawa emosi". jawab Caca


"Loe lagi pms Ca?". Tanya Santi


"Enggak". jawab Caca


"Kalau loe ngak pms, bagus loe cek deh tekanan darah loe". Santi


"Tekanan darah gue normal kok". jawab Caca santai


"Bagus loe cek lagi mungkin tekanan darah loe tinggi, gue ngak mau loe strouk di usia dini Ca". saran Santi


"Kenapa loe bisa ngomong gitu San, gue sehat - sehat saja kok". Caca.


"Gue lihat bawaan loe emosi terus akhir - akhir ini". Santi


"Emosi gue bangkit jika kalian bahas tentang dia". jawab Caca santai yang dimaksudkan kepada Destra.


Mereka melanjutkan makan nya dengan tenang tanpa ada pembahasan sama sekali.


"Loe 2 rencana liburan kemana?". tanya Rani yang telah menyelesaikan makannya.


"Nyokap gue ngajak ke bali kalau gue naik kelas". jawab Santi


"Loe sendiri liburan kemana Ran?". tanya Santi


"Enak loe San, tapi lebih enak gue". Rani


"Memangnya loe mau liburan kemana Ran?". tanya Caca


"Singapura donk". jawab nya dengan bangga.


"Elleeehh kirain loe jalan - jalan ke eropa". ucap Santi ngejek.


"Yang penting jalan - jalan keluar negeri". jawab Rani ngak mau kalah.


"Loe liburan kemana Ca?". santi


"Rencana sih mau ke tempat Oma gue yang di kota medan". jawab Caca.


"Bukannya kemaren - kemaren loe rencana tempat om Aldo Ca?". tanya Rani


"Memang Benar sih Ran, tapi kemaren malam Oma gue telphone supaya gue liburan disana". jawab Caca.


"Gue juga bingung, disatu sisi gue sudah terlanjur ngomong dengan adik - adik gue yang bakal liburan bareng mereka. Disisi lain Oma gue memaksa gue harus ke medan, pusing gue". imbuh Caca


"Itu mah gampang Ca, seminggu loe tempat om Aldo, seminggunya lagi tempat oma loe". ucap Rani memberi saran.


"Tumben loe pinter Ran". ucap Santi memuji Rani.


"Rencana gue memang begitu, tapi masalahnya Oma minta gue disana selama liburan". jawab Caca


"Ya sudah loe tempat Oma loe aja, lagi pula di medan loe bisa ke danau toba. Banyak yang ngomong ama gue disana pemandangannya bagus". Rani


"Emang bener, malah gue kagak mau pulang kalau sudah disana, masalahnya gue juga kangen main dengan adik gue Deni dan Defri dan gue sudah janji lagi". Caca


"Gue angkat tangan angkat kaki deh Ca, masalah loe berat". ucap Rani dengan mengangkat kaki dan tangannya ke atas dengan posisi nya yang masih duduk di kursi Cafe.


"Gue juga nyerah dengan masalah loe Ca". ucap Santi namun hanya mengangkat tangan saja.

__ADS_1


__ADS_2