
"Pelit sama orang kaya seperti loe itu wajar. Masak gue mau tratirin orang yang sudah punya penghasilan dari hotel mewah gitu". jawab Alki menohok.
"Nyindir atau ngak ihklas nih?". tanya Destra tersenyum melihat Alki yang seperti anak kecil kalah dalam permainan dan minta dikembalikan kekalahannya.
"Keduanya". jawab Alki santai.
"Papi tega banget. Masak serahin sama anak sendiri ngak ihklas". ucap Destra dengan menunjukkan mimik sedih.
"Lagi pula papi sudah janji akan serahin semua nya kalau Destra sudah lulus kuliah". imbuh nya
"Ngak usah pura - pura sedih loe". ucap Alki yang mengetahui Destra berpura - pura sedih Destra hanya tersenyum cengengesan.
"Gue ngak ihklas serahin karena loe belum lulus kuliah. Gue takut loe belum mampu untuk menjalankan bisnis yang gedek". jawab Alki
"Percuma donk Destra yang cerdas ini kuliah sampai Amerika jika tidak bisa meneruskan bisnis papi dari sekarang". seru Destra
"Lagi pula papi mesti sportif donk, sudah jelas papi kalah taruhan masak ngak ihklas". Sindir Destra.
"Sudah papi ngak usah ngalihin pembicaraan, papi mau traktirin Destra ngak nih?".
"Ogah". jawab Alki santai. Dalam hati Alki tertawa karena Destra mengetahui alibinya.
"Yaelah papi. Memangnya papi mau pelit juga dengan Devi?". tanya Destra
"Ya Beda lah kalau dengan Devi". jawabnya.
"Sekarang Destra mau jalan dengan Devi nih, memangnya papi ngak ingin senangin Devi yang telah meraih ranking 3?".
Anggi yang telah mendengar perdebatan Alki dan Destra segera menghampiri mereka setelah mengambil kartu debit yang dibutuhkan Destra.
"Ini sayang yang kamu butuhkan". ucap Anggi dengan menyerahkan kartu Debit milik Alki ketangan Destra.
"Sayang..itu kartu debit papi". ucap Alki namun tidak di tanggapi olah Anggi.
Mendapatkan apa yang di inginkan, Destra beranjak dari duduknya dan memeluk Anggi kegirangan dan mencium pipi Anggi.
"Thank you Mami". ucap Destra tanpa memperdulikan wajah Alki yang sudah cemberut.
"Heemm, Pin nya tanggal pernikahan mami dan papimu ya sayang". ucap Anggi.
"Ok Mami". jawab Destra dan kembali mencium pipi Anggi.
"Mami tega ih". ucap Alki kesal.
Melihat Alki yang terlihat kesal membuat Anggi ingin memberikan black card Alki.
"Sayang sepertinya mami salah ambil kartu deh. Sebentar ya sayang mami ambilin black card supaya kalian bebas berbelanja apa saja. Sebentar ya sayang". ucap Anggi dan melangkah menuju kamarnya.
"Jangan sayang, mami orangnya ngak tega kok. Mami wanita terbaik dari yang terbaik". ucap Alki cengengesan dan berhasil menghentikan langkah Anggi yang akan mengambil black card Alki yang selama ini Anggi pergunakan untuk membeli barang - barang branded nya.
Melihat papinya sudah tidak berdaya membuat Destra menahan tawa dengan menutup mulutnya.
"Ya sudah sayang kalian pakai kartu itu saja ya?. Mami rasa dalam Atm itu masih bisa kok untuk membeli semua isi mall". ucap Anggi dengan gamblang.
"Jika didalam Atm ini bisa beli semua yang ada di mall, Destra yakin pasti Atm Mami bisa beli Mall nya sekalian". ucap Destra.
"Mesti donk sayang. Semua harta papi kalian itu dibawah kekuasaan Mami". jawab Anggi membanggakan kekuasaannya dengan menunjuk dirinya dengan menepuk - nepuk pelan dadanya.
"Mami memang hebat. Tapi kenapa Mami yang pegang kendali semuanya?". tanya Destra.
"Mami menghindarkan papi kalian dari wanita - wanita jahannam alias pelakor". jawab Anggi dengan menekan kata jahannam.
"Papi tidak akan berani mam, lagi pula papi sangat mencintai mami kok". ucap Destra menyanjung kesetiaan papinya.
"Benar apa yang dikatakan Destra sayang. Ngak mungkin Papi menduakan cinta mami". ucap Alki tersenyum.
"Mami harus waspada sebelum terjadi". jawab Anggi santai.
"Mami memang wanita tangguh. Thanks ya mami Atm nya". ucap Destra kembali mencium Anggi dan berlari menuju kamar Devi untuk mengajaknya jalan - jalan dan berbelanja di mall.
Alki hanya bisa pasrah karena tidak bisa membantah jika istrinya sudah bertindak. Sebenarnya Alki tidak bermaksud untuk tidak memberikan Atm nya kepada Destra. Namun sifat Alki yang suka menjahili anaknya seakan tidak lengkap jika anak - anaknya tidak merayunya terlebih dahulu untuk meminta sesuatu.
__ADS_1
"Mami kenapa sih langsung nyerahin itu kartu?". tanya Alki pada istrinya.
"Cepat lebih baik dari pada Destra akan kembali bertanya tentang Edo". jawab Anggi.
"Papi sudah ceritain semua ke Destra sayang". ucap Alki santai.
"Apa?". tanya Anggi berteriak. Terkejut dengan suara keras Anggi membuat Alki menutup teringanya.
Anggi membesarkan bola matanya menatap Alki dengan tangan berkacak pinggang.
"Maksud papi cerita yang mana?". tanya Anggi lagi
"Semuanya sayang". jawab Alki santai.
"Termasuk dosa yang mereka lakukan?". tanya Anggi dengan merapatkan giginya karena geram.
"Ngak mungkin lah sayang, papi hanya memberitahukan Destra siapa calon Edo sebenarnya". jawab Alki cengengesan.
"Alhamdulillah". seru Anggi dengan mengusapkan telapak tangannya ke wajahnya dan mendudukkan bokongnya disebelah Alki.
"Memangnya mami berpikir papi cerita apa?". tanya Alki dengan merapatkan duduknya ke Anggi.
"Mami kira papi ceritain tentang itu juga". ucap Anggi
"Itu yang mana sayang?". tanya Alki genit dengan berpura - pura tidak mengerti maksud dari Anggi.
"Tentang perbuatan dosa mereka lah papi". jawab Anggi
"Kita coba lagi yok sayang seperti yang mereka lakukan, enak sayang, ngak dosa lagi hehehe". seru Alki menggoda Anggi dengan senyum sumringah serta alis di gerak - gerakkan naik turun.
"Papi ih ini hampir tengah hari". jawab Anggi dengan wajah merona.
"Masih hampir sayang". ucap Alki
"Papi genit deh, sudah mau punya mantu masih saja". ucap Anggi
"Masih mantu sayang belum cucu". jawab Alki membuat wajah Anggi semakin merona.
"Mami ih". seru Alki manja.
Kedua insan tersebut selalu terlihat harmonis bila sudah berdua begitu juga bila bersama anak - anaknya. Namun mereka tidak akan menunjukkan keharmonisannya kepada orang lain mereka akan terlihat biasa saja dan lebih formal.
*****
Di apartment Edo bik Nining terus memantau gerak gerik anak majikannya itu sesuai yang diperintahkan Anggi. Mendapat lirikan dari wanita paruh baya itu membuat Edo sedikit risih dan geli setiap kali Edo akan melangkah.
Setelah menyiapkan sarapan untuk anak dan calon menantu majikannya, bik nining membersihkan apartment Edo. Namun bik Ning tidak mau lengah dengan terus memperhatikan gerak gerik Edo yang lagi bersantai diruang tamu setelah menyantap sarapannya.
"Bik Ning jangan lihat Edo seperti itu donk. Edo merasa seperti narapidana saja". seru Edo
"Itu hanya perasaan den Edo saja". jawab bik Nining
"Edo tidak akan berbuat macam - macam bik, percaya deh sama Edo".
"Memangnya den Edo mau berbuat apa hayooo?". tanya Nining dengan tersenyum.
"Ngak ada bik". jawab Edo.
"Maaf ya Den. Sesuai perintah Nyonya besar alias kanjeng ratu, selain membersihkan apartment den Edo saya di tugaskan untuk memantau gerak gerik den Edo bak kata saya ini menjadi CCTV nyonya Den hehehe". ujar Nining cengengesan.
"Terus kalau Edo ingin kekamar mandi bik Ning juga ikut?". tanya Edo bergurau.
"Tergantung Den". jawabnya santai
"Tergantung gimana maksudnya bik".
"Misalnya den Edo lagi dikamar mandi nih, terus den Edo teriak minta tolong, mau tidak mau saya harus masuk untuk menolong den Edo". jawabnya.
"Ih bik Ning do'a nya ngak baik". jawab Edo dan beranjak dari duduk nya.
"Itu perumpamaan Den". ucap bik Ning tersenyum.
__ADS_1
"Den Edo mau kemana?". tanya bik Ning melihat Edo beranjak dari duduknya.
"Edo mau lihat Sandra kok bik Ning, untuk memastikan sudah dimakan sarapannya apa belum". jawab Edo
"Sarapan non Sandra sudah habis kok Den. Jadi den Edo ngak perlu khawatir". jawabnya.
Edo menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyum terpaksa karena salah tingkah.
"Ada yang ingin Edo bicarakan dengan Sandra, boleh ngak bik?". tanya Edo meminta persetujuan asisten Ibunya tersebut.
"Boleh - boleh saja Den, tapi harus ada saya juga". jawab Nining dengan tersenyum.
Edo menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
"huhfff,,,Ya sudah ayok temanin Edo". seru Edo beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.
"Tunggu Den, biar saya yang masuk dulu. Den Edo tunggu disini". ucap Nining menghentikan langkah Edo dengan merentangkan kedua tangannya menghadang langkah Edo.
Edo mengelus pasrah dan mempersilahkan bik Ning dengan tangannya tanpa suara.
Beberapa detik kemudian asistent tersebut membuka pintu.
"Silahkan masuk Den". seru bik Nining dengan membuka pintu kamarnya lebar - lebar.
"Kejam banget sih bik". seru Edo menghampiri ambang pintu kamarnya.
"Mosok kejam toh den, ini namanya antisipasi Den". ucap bik nining cengengesan dengan menepuk pelan lengan Edo.
Edo selalu tersenyum bila mendengar dan melihat cara bik Ning yang di anggapnya lucu.
"Sekarang Edo boleh masuk ngak nih?". tanya Edo lembut karena bik Ning masih berdiri di tengah pintu.
"Oh maaf den hehehe, silahkan masuk den". jawab nya dengan menepi dari pintu.
Edo menghampiri Sandra yang duduk di soffa kamarnya yang sibuk memainkan handphonenya seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa?". tanya Edo yang melihat Sandra yang terlihat bingung.
"Saya bingung tuan harus ngomong apa dengan orang tua saya". jawab Sandra dengan menggeser duduknya untuk memberi ruang untuk Edo duduki.
"Berarti kamu belum menghubungi mereka?". tanya Edo. Sandra hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu bingung kenapa? kamu tinggal bilang saja kalau besok aku dan Ayah ibu akan datang meminang kamu". ujar Edo
"Apa tidak terlalu buru - buru tuan?". tanya Sandra
"Tuan tidak karena terpaksa kan untuk menikahi saya?". tanya Sandra karena masih ragu keseriusan Edo yang akan menikahinya.
"Sama sekali tidak San, apa kamu tidak percaya sama aku?".
"Bukan begitu tuan, tapi saya tidak ingin tuan menikahi saya hanya karena terpaksa". jawab Sandra.
"Tidak Sandra. Sebelum ini terjadi aku juga sudah mengatakan akan segera menikahi kamu San". jawab Edo dengan lembut seketika wajah Sandra menjadi merona membuatnya menundukkan kepalanya agar wajah meronanya tidak terlihat Edo.
"Saya mengira semua itu hanya candaan tuan saja, karena saya sadar bahwa saya tidak pantas untuk tuan". ucap Sandra pelan yang masih menundukkan kepalanya.
Edo menarik napas dalam dan membuangnya perlahan.
"San, pantas atau tidak pantas itu bukan suatu halangan jika kita sudah saling mencintai". ujar Edo membuat wajah Sandra semakin merona.
"Jujur aku juga takut jika kamu tahu tentang aku yang sebenarnya". ucap Edo lirih.
"Sebenarnya aku ini hanyalah anak angkat Ayah Alki dan ibu Anggi San. Dan aku juga bukanlah penerus dari perusahaan ayah dan ibu". imbuh Edo lirih mengungkapkan jadi dirinya.
"Saya tahu itu tuan dan saya tidak mempermasalahkan tentang hal itu". jawab Sandra.
"Dari mana kamu bisa tahu?". tanya Edo heran.
"Saya hanya mengira saja tuan, karena cara tuan Edo memanggil tuan Alki berbeda dengan tuan Destra". jawab Sandra.
"Bukan karena kamu mengetahui status aku yang sebenarnya sehingga kamu bimbang untuk menerima pinangan aku San?". tanya Edo menerka kebingungan Sandra karena statusnya yang hanya anak angkat keluarga nugraha.
__ADS_1