SUAMIKU KAKAK SAHABATKU

SUAMIKU KAKAK SAHABATKU
BAB 20


__ADS_3

Mereka memilih untuk tidak berlama - lama di cafe karena harus cepat pulang kerumah masing - masing untuk menyiapkan keperluan berlibur mereka begitu juga dengan Caca.


Caca sudah mengambil kesimpulan untuk tetap pergi berlibur ke kota medan. Sebelumnya dia akan menginap terlebih dahulu 3 hari di rumah pamannya.


Seperti biasa sebelum pulang mereka pergi kekasir untuk membayar makanan yang telah mereka pesan.


"Berapa mbak semua?". tanya Santi kepada penjaga kasir.


"Gratis dek, ini kan cafe nona Caca juga, non Caca kan calon istri si bos". jawab penjaga kasir dengan senyum ramah. Mereka bertiga terkejut dengan perkataan penjaga kasir tersebut terutama Caca.


"Mbak...gue bukan calon istri dia dan ini uang untuk bayar makan kita - kita". ucap Caca kesal dan menyerahkan uang mereka ke kasir tersebut.


"Saya ngak bisa menerima uang dari nona Caca, jika saya menerimanya, saya bisa kena pecat". Jawab penjaga kasir


"Ya sudah loe saja San yang bayar, mbak ini ngak mau menerima uang gue". ucap Caca kepada Santi agar membayar pesanan mereka.


"Sama saja non, saya juga tidak bisa menerimanya". jawab penjaga kasir


"Sudah ngak usah bayar Ca, anggap saja rezeki". ucap Rani.


"Ya sudah mbak, terima kasih ya atas makan gratisnya". ucap Santi ramah kepada penjaga kasir.


Dengan hati dongkol Caca melangkahkan kaki nya keluar cafe dengan cara dihentak - hentakkan.


"Mau nya dia apa sih?". ucap nya dengan kesal.


Rani dan Santi tertawa tanpa sepengetahuan si empu.


Menuju rumah mereka masing - masing, seperti biasa mereka akan menggunakan angkutan umum. Selama perjalanan pulang Rani dan Santi terus menertawai Caca dari belakang namun tanpa suara karena melihat wajah Caca yang terus merengut dan terkadang menghentakkan kembali kakinya.


*****


Devi yang baru saja kembali dari sekolahnya melangkahkan kaki nya memasuki rumah mewah dengan hati yang penuh keceriaan.


"Baru pulang kamu sayang, bagaimana nilai Rapor kamu sayang?". tanya Anggi yang menyambut kedatangan anak perempuannya.


"Devi naik kelas ma". jawab Devi gembira dan memeluk mami nya namun dengan cepat Anggi melepas pelukan anaknya.


"Mami tidak bertanya kamu naik kelas atau tidak, yang mami tanyakan tentang nilainya sayang". tanya Anggi


"Jika masalah naik tidaknya mami pasti tahu jawabannya. Mana mungkin anak pemilik sekolah tinggal kelas". imbuh Anggi


"Mami ih..., suka banget buat mood Devi jadi kacau". ucap Devi kesal.


"Memang benar kan yang mami katakan. Sekarang mana Rapor kamu, mami mau lihat". tanya Anggi dengan menengadahkan tangannya dengan digerak - gerakkan supaya segera diberikan .


Dengan kesal Devi mengeluarkan Rapor nya dari dalam tas sandangnya.


"Nih..". ucap Devi kesal


Anggi membawa Rapor Devi ke ruang keluarga dan diikuti oleh Devi dari belakang maminya. Diruang keluarga Anggi mendudukkan bokongnya di sofa dan langsung membuka dan membaca Rapor Devi dengan seksama.


"Bagaimana kamu ini, kamu terlihat dengan gembiranya hanya karena mendapat Ranking 3?". tanya Anggi yang terlihat marah.


"Tapi kan Devi ada peningkatan mami, semester kemaren Devi hanya ranking 6". jawab nya dengan menundukkan kepala.


"Percuma mami menyediakan guru privat untuk kamu jika hasil nya hanya seperti ini". ucap nya dengan suara keras.

__ADS_1


"Kamu lihat kakak - kakak kamu Edo dan Distra, mereka tidak pernah melepaskan ranking satu dari Rapor mereka dan itu tanpa harus guru privat". Imbuh nya lagi.


Setibanya mereka dirumah Edo dan Destra yang baru tiba dari kantor mendengar semua omelan Anggi kepada Devi.


Seperti biasa Edo dan Destra akan selalu membela adik kesayangan mereka itu jika menurut mereka Devi benar. Jika Devi melakukan kesalahan mereka berdua akan membiarkannya begitu saja.


"Aduuhh mami kenapa ngomel terus sih". Tanya Destra menghampiri Anggi.


"Kak Edo". Devi berlari kepelukan Edo dengan menangis meminta bantuan.


"Jika ibu marah - marah terus, resikonya lebih cepat tua bu". ucap Edo dengan memeluk adik perempuannya.


"Ibu bisa pergi perawatan setiap hari supaya awet muda". jawab Anggi


"Kalian berdua jangan terus - terusan belain Devi, karena kalian membelanya terus ya begini hasilnya". Ucap Anggi kesal dengan memperlihatkan hasil Rapor Devi kepada Destra yang berada disebelahnya.


"Wah adik kita dapat ranking 3 bro". ucap Destra dengan girang menghampiri Devi yang masih menangis dipelukan Edo.


Edo dengan cepat mengambil Rapor Devi dari tangan Destra untuk memastikan kebenaran yang di katakan Destra. Mereka berdua memeluk erat Devi yang masih menangis karena mendapat ranking 3.


Devi yang tadinya menagis kini bisa tersenyum karena kakak - kakak nya gembira dengan hasil yang diperolehnya.


Sedangkan Anggi tidak bisa berbuat apa - apa lagi jika ke 2 anak lajangnya sudah bekerja sama membela Devi.


"Adik nya kakak sudah dapat ranking sekarang". ucap Edo melepas pelukannya untuk melihat rapor Devi kembali seakan dirinya tidak percaya.


"Kalian ber 2 tidak perlu membagakan Devi yang hanya mendapat ranking 3". ucap Anggi


"Kita pasti bangga donk mami, karena Devi ada peningkatan". Jawab Destra.


"Mami tidak mau tahu, semester depan kamu harus mendapat ranking 1, jika tidak mami akan antarkan kamu kepesantren". ucap Anggi dengan nada mengancam.


"Edo juga sependapat dengan Destra bu, jika kita memaksakan Devi untuk kepesantren, hasilnya nanti tidak baik karena bukan dari kemauannya". ucap Edo


"Mami tidak perduli, mami malu sebagai pemilik sekolah itu tapi memiliki anak yang hanya rangking 3". ucap Anggi


"Destra ngerti dengan itu mami, tapi semestinya kita harus bersyukur dan berbangga hati karena Devi ada peningkatan. Dari ranking 6 sekarang ranking 3, itu sebuah peningkatan yang pesat mami". jawab Destra


"Lagipula disekolah itu juga mengundang murid - murid yang berprestasi untuk bersekolah secara gratis sehingga membuat persaingan semakin ketat mami". ucap Destra mengingatkan Anggi .


"Semester depan mami minta kamu harus mendapat ranking 2, lebih bagus lagi bisa mendapat ranking 1. Jika kamu bisa mendapatkan ranking 1, mami akan memberikan sekolah itu untuk kamu". ucap Anggi dengan tegas.


"Devi akan berusaha ma". jawab Devi dengan suara parau.


"Ya sudah jangan menangis lagi, Sebagai kakak kamu, kami akan memberimu hadiah karena mendapat ranking 3, setuju ngak bro?". ucap Edo dengan bertanya persetujuan Destra.


"Setuju lah". jawab Destra cepat


"Ngak usah kak, menpunyai 2 kakak yang selalu menyayangi dan menjaga Devi itu jauh lebih dari cukup". jawab Devi


"Kami berdua akan selalu menyayangi dan menjagamu dek". jawab Edo dan kembali memeluk Devi yang di ikuti Destra untuk memeluk adik kesayangan mereka.


"Sudah - sudah jangan buat adegam melow gitu dirumah ini". ucap Anggi.


"Kemana papi kalian, kenapa belum sampai juga? Apa papi kalian tidak jadi makan siang dirumah bareng kita?". Tanya anggi kepada Edo dan Destra.


"Bentar lagi juga sampai Bu". jawab Edo santai.

__ADS_1


"Devi, lekas ganti pakaian sekolahmu sebentar lagi kita makan bersama". ucap Anggi menyuruh anak perempuannya untuk berganti pakaiannya yang masih mengenakan seragam sekolah.


"Iya ma". jawab nya dan melangkah menuju kamarnya.


"Malam ini kalian berdua tidak boleh menginap di apartment". seru Anggi kepada Destra dan Edo.


"Punya anak masih jomblo tapi berasa seperti punya anak yang sudah beristri". Imbuh Anggi menyindir kedua anak lajangnya yang jarang berada dirumah besar tersebut.


"Destra ngak jomblo lagi mami, yang jomblo tuh kak Edo". Jawab Destra yang tidak terima dikatai jomblo.


"Memangnya kamu sudah punya pacar?". Tanya Anggi


"Bukan pacar lagi mami, tapi calon istri". jawab Destra cengengesan.


"Jika kamu sudah dianggap Caca, mami tidak akan mengatakan kamu jomblo". jawab Anggi


Edo tertawa mendengar pernyataan ibu angkat nya itu. Edo sudah mendengar semua cerita tentang gadis pujaan Destra melalui Ayah angkatnya dan juga Destra.


"Kenapa kamu tertawa Edo? mana calon mantu dari kamu?". Mendengar pertanyaan dari Anggi, sontak menghentikan tawanya.


"Usia mu sudah sangat cocok untuk membawa menantu kerumah ini".imbuh Anggi dan itu membuat Destra gantian menertawakan Edo.


"Lagi mencari yang cocok bu". jawab Edo


"Sepertinya ibu mu ini belum pikun Edo, dari tahun lalu jawaban kamu hanya itu - itu saja". ucap Anggi.


Orang yang ditunggu - tunggu akhirnya datang juga. Alki yang telah masuk kedalam rumah langsung menghampiri mereka yang masih berada diruang tamu.


Mencium pipi istri tercintanya adalah kebiasaan Alki setiap kembali kerumah.


"Apa yang kalian lakukan pada istriku, mengapa wajahnya terlihat berbeda?". tanya Alki kepada ke dua anak lajangnya.


"Darah militer ibu lagi bangkit ayah". jawab Edo


"Aduh papi jadi takut". seru Alki


"Ngak usah lebay". ucap Anggi cuek sehingga membuat Destra dan Edo tertawa.


"Apakah papi selama ini membuat Edo bekerja terlalu keras?". tanya Anggi.


"Ngak mungkin lah sayang, kecuali papi lagi diluar kota itu akan membuatnya sedikit lebih ekstra dalam bekerja". jawab Alki santai


"Jadi mengapa sampai saat ini dia belum juga membawa calon menantu untuk kita?". tanya Anggi sedikit mengeraskan suaranya.


"Kena lagi dah gue". guman Edo pelan namun masih didengar Destra, sehingga membuat Destra tertawa kecil.


"Papi juga ngak tahu yank, punya 2 anak lajang tampan - tampan begini tapi masih jomblo". jawab Alki


"Di kantor papi ada membuat peraturan yang tidak memperbolehkan untuk berpacaran sesama karyawan tidak?". tanya Anggi


"Ya ngak mungkin lah sayang, jika sampai papi melakukan itu sama saja papi membuat anak lajang kita menjadi bujang lapuk". jawab Alki santai


"Masalahnya saat ini kita sudah mempunyai seorang bujang lapuk !". seru Anggi kesal dengan melirik ke arah Edo dan Alki mengerti maksud dari Anggi yang ditujukan kepada Edo.


"Apa harus kita carikan saja yank calon istri untuk bujang lapuk kita?". tanya Alki kepada Anggi


"Sepertinya harus". jawab Anggi

__ADS_1


"Jangan donk bu". ucap Edo cepat


__ADS_2